35

110 29 0
                                        

Ah, dia hilang.

Panca merasa kecewa ketika kehilangan jejak orang yang dikejarnya. Dia merasa yakin jika orang itu berlari ke arah Pelabuhan. Sayangnya, kini tidak tampak lagi orang yang dimaksud. Kalaupun benar itu manusia, karena dia hanya melihat sosok berkelebatan dalam kegelapan.

Aku harus memantau tempat ini untuk beberapa saat.

Malam itu, pelabuhan tampak sepi. Hanya ada beberapa tentara yang berjaga. Pakaian seragam mereka yang berwarna biru dongker kini tampak lebih gelap karena tidak banyak lampu ataupun lentera yang digunakan untuk penerangan. Pelabuhan yang gelap memang menjadi tempat yang baik untuk bersembunyi.

Batin Panca merasakan keraguan, apakah dia terus mencari orang itu ke Pelabuhan atau berbalik arah. Langkah kaki Sadewa menjadi pelan, mungkin kuda itu sudah kelelahan.

Panca pun memilih untuk menarik kekang, kuda itu berhenti. Sadewa diberi waktu untuk beristirahat.

Remaja lelaki itu turun dari pelana kemudian berjalan kaki dalam kegelapan. Tanpa berkuda, dia lebih leluasa. Matanya tertuju pada bangunan-bangunan yang sudah rusak karena kebakaran pada malam sebelumnya. Dia terkaget-kaget ketika melihat Pelabuhan Batavia yang terkenal ramai, berubah menjadi sepi sama sekali.

Suasananya sangat berbeda dengan terakhir kali aku datang ke sini.

Malam yang gelap semakin terasa gelap karena di titik tempatnya berdiri tidak ada penerangan sama sekali. Dari kejauhan, hanya ada sebuah lentera milik petugas yang sedang berjaga.

Apakah tempat ini benar-benar tidak berpenghuni?

Kewaspadaan Panca semakin tinggi ketika dia mulai teringat dengan cerita-cerita orang tua. Di Pelabuhan ini bukan hanya para pedagang dan pelaut yang menghuninya, tetapi juga kelompok penjahat yang berubah peran menjadi pedagang budak.

"Kau sedang apa di sini, Anak Muda?"

Langkah Panca terhenti. Dari balik tumpukan sisa-sisa kebakaran, muncul bayangan. Bukan hanya satu, tapi dua, lalu tiga sosok yang berdiri dengan gelagat mengancam.

"Untuk apa kau datang ke sini, malam-malam begini?" Sekali lagi, sosok itu bertanya pada Raden Panca.

Sebelum pertanyaan itu dijawab, salah satu diantara mereka melompat menerjang. Raden Panca terkaget-kaget. Anak itu belum siap untuk melawan atau pun berlari kemudian menghindari perkelahian.

Walaupun, rencana untuk kabur terbersit pula dalam pikirannya. Dia dihinggapi ketakutan.

Kaki kanan Panca tersandung sebuah balok kayu yang tergeletak di tanah. Dia tersungkur. Duggg ... kepalanya terbentur.

Aneh, ke mana orang itu?

Raden Panca mulai keheranan ketika dia menoleh ke arah sosok-sosok tadi berdiri. Sangat sulit melihat mereka karena cahaya yang kurang.

Terdengar suara keributan, mereka berkelahi. Tapi, dengan siapa?

Keributan itu tidak berlangsung lama. Hanya beberapa saat.

Masih dalam keadaan terbaring di tanah, Raden Panca mengamati menunggu keadaan. Tidak ada reaksi apa-apa.

Penasaran, dia pun berdiri. Dengan perlahan, dia berjalan ke tempat sosok bayangan tadi berdiri. Kakinya menyentuh sesuatu. Terasa hangat.

Mereka mati.

Kulit kakinya menyentuh cairan hangat. Darah mengalir ....

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang