Pranata mulai kebingungan harus berlari ke arah mana. Kota Batavia terlalu luas untuk anak sekecil dia.
Di depan matanya, nampak bangunan-bangunan tinggi hingga tiga lantai. Bangunan itu nampak kokoh dan angker. Remang cahaya lentera cukup memperjelas bangunan digunakan untuk apa jika siang menjelang.
Dari kejauhan, terlihat beberapa polisi sedang berpatroli. Mereka hilir mudik sembari menenteng senapan laras panjang dan kelewang di pinggang.
Apakah ini tempat yang cocok untuk sembunyi?
Pranata hanya berdiri termangu. Lelah.
"Hei, Nak."
Tiba-tiba seorang pria mendekap anak itu. Tangan kasarnya begitu terasa tatkala menyentuh kulit.
"Kau tidak bisa kemana-mana lagi."
Pranata tahu suara itu. Dia tidak berkutik. Mulutnya dibekap dari arah belakang.
Pranata meronta-ronta. Gerakan tubuh anak itu cukup membuat kewalahan si pria yang mendekapnya dengan kuat. Kakinya terangkat ke atas, bermaksud menendang kepala pria itu. Tapi, tidak berhasil.
Pergumulan itu terlihat dari kejauhan. Lampu jalan menerangi tempat Pranata berusaha melepaskan diri dari jeratan penjahat yang pernah menyekapnya.
Dari kejauhan pula, terlihat datang seorang polisi menodongkan senapan. Sepertinya polisi itu curiga dengan gelagat manusia yang "tidak berhak" berada di tempat itu.
"Hei! Sedang apa kalian?"
Polisi itu meneriaki mereka yang sedang bergumul di bawah lampu jalan.
"Menjauh dari sini!"
Sekali lagi polisi itu berteriak.
Pria itu tidak mau melepaskan Pranata dari dekapannya. Dia berusaha berjalan sambil memanggul tubuh Pranata. Sayang, berat badan anak itu menyulitkan si penjahat untuk mengangkat tubuhnya.
Karena merasa tidak digubris, polisi itu mendatangi dua orang yang sedang bergumul dan hampir saling melukai.
Dorr!
Sebutir peluru harus keluar dari senapan. Meskipun tidak bermaksud melukai, suara senapan itu sudah ampuh membuat pergumulan itu terhenti.
Pranata tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia berlari sekencang mungkin. Walaupun, badan besarnya tidak sanggup berlari lebih kencang.
Aku harus bersembunyi di mana lagi?
Pranata berlari menyusuri jalan besar yang memisahkan beberapa gedung di sekitarnya. Nyaris tidak ada orang yang ditemuinya. Hanya pohon-pohon besar yang berjejer di pinggir jalan besar itu.
Si anak bertubuh tambun sering kesulitan jika harus berlari kencang dan jauh. Apabila ada pohon di tepi jalan atau tiang lampu gas maka di sanalah tempatnya untuk beristirahat sejenak. Kedua benda tersebut akan dijadikan untuk bersandar apabila kaki tidak sanggup lagi menahan berat badan.
Cukup lama Pranata berlari. Dan, akhirnya dia kehabisan tenaga. Dia berhenti berlari.
Pranata mengarahkan pandangan ke belakang. Berharap penjahat itu tidak mengejarnya lagi.
Ah, aku selamat.
Nafasnya anak itu terengah-engah. Dia tidak bisa berpikir jernih. Rasa takut masih menyelimuti pikirannya.
Sekali lagi dia mengarahkan pandangan ke sekeliling. Dari arah kanan badan, nampak sebuah bangunan tinggi. Tidak, lebih tepatnya bangunan dengan menara tinggi.
Bangunan itu nampak kokoh. Namun, cahaya-cahaya lentera yang menghiasi memberi kesan nyaman bangunan itu. Tidak nampak angker seperti bangunan lain. Warna putih tembok memantulkan cahaya lentera yang menerangi.
Pranata mendongak ke atas. Dia melihat sesuatu yang jarang dilihatnya. Cahaya fajar cukup memperjelas bentuk benda itu. Tanda silang tertancap di bagian atas menara itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
