64

109 31 0
                                        

Panca, Bajra dan Pratiwi mengamati keadaan. Api berkobar semakin besar. Tercium bau pembakaran yang menyengat kemudian menyeruak ke udara. Sebagian bahan bangunan berupa kayu yang mudah terbakar. Besar kemungkinan jika sebentar lagi bangunan pun akan ambruk. Mereka kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan.

"Apakah kalian mendengar orang berteriak?" Pratiwi bertanya pada kedua temannya.

Nakula si kuda yang ditunggangi berputar-putar, hewan itu gelisah ketika merasakan bahaya. Kegelisahan itu menular kepada kuda lainnya. Mereka pun merasakan kekhawatiran sebagaimana para tuannya.

"Tidak ... tidak terdengar suara apa pun."

Gedung itu sepertinya sudah ditinggalkan oleh para penghuni penghuni. Tidak terlihat gerakan apa pun.

"Mungkinkah penghuninya sudah pergi?" Bajra menerka.

Pratiwi dan Panca menggelengkan kepala. Antara tidak tahu atau kebingungan. Ketika pikiran yang kalut seperti demikian, tidak ada jawaban untuk memuaskan rasa penasaran. Ditambah, kejutan lain datang menggantikan isi pikiran yang masih dipenuhi oleh pertanyaan.

"Lihat! Di atas sana! Ada orang." Pratiwi menunjuk ke atap bangunan di depannya.

"Itu A Ling." Panca memastikan siapa yang sedang berjalan di atap.

"Kita harus menolong A Ling." Pratiwi melangkah mendekati bangunan yang sedang kebakaran itu.

Tapi, terdengar seseorang berteriak dari arah yang sama dengan tempat A Ling berdiri.

"Diam di sana! Kalian jangan mendekat!"

Sontak, ketiga remaja yang sedang berdiri di bawahnya mendongak dan menampakan wajah ketakutan sekaligus keheranan.

"Tuan Walikota ...?" Panca bergumam.

Panca dan kedua temannya hanya bisa diam. Tidak berani melangkah.

"Satu langkah saja kalian mendekat ... maka aku akan menembak gadis ini!" teriakan itu menegaskan sesuatu.

A Ling hanya berdiri terpaku di ujung atap bangunan yang belum terbakar. Dia merasakan hawa panas yang mulai menjalar ke tubuhnya. Di bawah, api membakar kamar-kamar tidur dan segala isinya. Kasur-kasur dan bantal serta gorden yang mudah terbakar seperti makanan yang renyah bagi si jago merah. Makhluk itu semakin mengganas.

"Tuan Walikota! Apa salah teman kami? Biarkan saja dia hidup!" Panca berteriak mencoba untuk bernegosiasi.

"Diam kau anak ingusan! Sudah kubilang kau jangan ikut campur!" pria yang dipanggil Walikota itu menghardik Panca. Tangannya memegang senapan laras pendek dan siap menembakkannya ke arah A Ling.

Pria berjubah dan bertopi itu melangkah maju. Dia berjalan di atap genting yang nyaris roboh. Dia sangat bernafsu ingin membunuh A Ling. Dia berjalan beberapa langkah untuk menghindari jilatan api di bawahnya.

Pratiwi merasakan kecemasan yang besar sehingga dia sendiri kebingungan harus berbuat apa. Dia hanya berdiri mematung. Begitupun Bajra, dia tidak menyangka akan terlibat dalam bahaya sebesar ini. Sedangkan Panca mengarahkan pandangan ke segala arah. Dia mencari cara untuk bisa menolong A Ling.

"Panca! Kau sedang mencari apa? Kau jangan coba-coba untuk melangkah sedikit pun. Aku akan menembak dia saat ini juga!" pria yang memakai jas jubah dan bertopi pandora itu kembali menebar ancaman.

Panca gugup. Dia hanya bisa berdiri dan tidak berkutik.

Pandangan Pratiwi, Bajra dan Panca masih mengarah pada dua manusia yang sedang berselisih di atap bangunan yang terus terbakar itu. Beberapa saat tidak ada percakapan apa pun. Pria itu terus melangkah. Dia menginginkan A Ling hidup-hidup atau sekedar mengatur jarak tembak? Batin Panca bertanya-tanya.

Tapi, sebelum pertanyaan itu terjawab ... ada sesuatu yang mengagetkan Panca dan kedua kawannya.

Bayangan hitam terlihat melompat dari bangunan sebelahnya. Bayangan itu langsung mendekati si Wali Kota dan merebut senjatanya.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang