27

116 33 0
                                        

Desa Pujasari menyambut dengan sukacita kedatangan Raden Bakti yang membawa serta Pranata dan Pratiwi. Akhirnya, teka-teki tentang kehilangan anak-anak itu terjawab sudah.

Menjelang malam warga berkumpul di halaman rumah Lurah Bakti. Serta merta mereka memeluk Pranata dan Pratiwi. Banyak hal yang ditanyakan pada mereka berdua. Walaupun, mereka kebingungan harus memulai cerita mereka dari mana.

"Sudah dulu, kalian semua mendingan pulang ke rumah. Jika kalian penasaran, nanti setelah Isya kita berkumpul di balai warga." Lelaki itu baru saja turun dari pedati, enggan untuk banyak bicara meskipun warga menantikan cerita yang dia bawa.

"Baiklah, Ki Lurah."

Orang-orang yang berkerumun itu membubarkan diri. Mereka pulang dengan rasa penasaran. Dari percakapan diantara mereka, terdengar kalimat yang sekedar menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada Pranata dan Pratiwi.

Rasa penasaran itu juga menghampiri Raden Bakti. Dia tidak melihat anaknya dalam kerumunan.

"Bu, ke mana Panca?" Raden Bakti bertanya pada istrinya.

"Ibu belum melihat dia. Mungkin sedang mandi." Nyi Lurah bicara sekenanya saja.

Raden Bakti merasakan hal yang tidak biasa. Pria itu tidak langsung masuk ke rumah. Dia berjalan ke arah kandang kuda. Untuk memastikan, dia memeriksa kuda peliharaan di kandang.

"Sadewa ... kuda itu tidak ada di kandang."

Lurah Bakti berbalik arah dan berjalan dengan langkah tergesa. Dia masuk ke dalam rumah, didapatinya istri dan anak bungsunya sedang menyiapkan makanan.

"Darma, kamu tahu ke mana kakakmu pergi?"

"Tadi sih ... aku lihat Kakang Panca berkuda ke arah kebun belakang." Darma menjawab pertanyaan ayahnya tanpa merasakan keanehan dari pertanyaan itu. Mata anak itu menatap langsung sang ayah.

"Kamu tahu dia ke mana?"

"Tidak tahu." Hanya menggelengkan kepala, Darma meyakinkan sang ayah jika dia memang tidak tahu ke manakah sang kakak pergi.

"Mungkinkah dia ke Batavia?"

Raden Bakti mengira-ngira tujuan anaknya pergi. Dia merasa tidak tenang mendapati anak sulungnya tidak ada di rumah.

"Kalau ke Batavia pasti berpapasan di jalan dengan Kakang?" istri Raden Bakti memberikan kesimpulan.

"Tidak. Dia menggunakan jalan setapak menyusuri kebun warga. Sehingga, tidak berpapasan denganku. Dia tidak ingin kepergiannya diketahui banyak orang."

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang