Panca terbangun dari tidurnya pagi itu. Bukan tidur yang nyaman. Karena, dia hanya menyenderkan tubuh di batang pohon setelah sholat subuh. Tidur yang singkat namun cukup untuk mengusir kantuk akibat begadang semalaman.
Suara keramaian membuatnya terjaga. Suatu pemandangan tak biasa ketika warga berkerumun di pinggir jalan. Mereka meneriakkan kata-kata umpatan seperti meneriaki seseorang atau sesuatu yang dibenci.
"Huhhh ... dasar tidak becus!!"
"Penjarakan saja dia!!"
Seperti itulah teriakan-teriakan yang terdengar oleh Panca. Dia penasaran kenapa orang-orang berkerumun di pinggir jalan dan berteriak-teriak. Remaja itu pun beranjak dan berjalan mendekati kerumunan.
Dari belakang orang-orang yang berdiri secara berdempetan, dia bisa menyaksikan iring-iringan polisi. Jumlah petugas keamanan sipil itu cukup banyak, hingga 30 orang. Namun, Panca heran ketika polisi sebanyak itu hanya menggiring seorang tawanan.
Tangan dan kaki si tawanan diikat oleh tali. Karena terikat, dia sulit sekali untuk berjalan. Sungguh pemandangan yang menyesakan dada.
"Paman, siapa tawanan itu?"
Orang yang ditanya malah balik bertanya, "kau tidak mengenalnya?"
"Maaf, saya bukan orang sini."
"Oh ... begitu. Dia itu Syahbandar. Kepala Pelabuhan."
Pertanyaan lanjutan dari Panca memang sengaja menelisik, "apakah ini ada hubungannya dengan kebakaran di Pelabuhan?"
"Sangat mungkin."
"Pantas ... warga seperti membencinya ...," Panca menyimpulkan pemandangan yang tercerna oleh pikiran.
"Ya, dia harus bertanggung jawab pada kebakaran yang terjadi. Lihat ... gara-gara dia denyut nadi kehidupan Batavia menjadi lumpuh."
"Ya, saya bisa merasakan itu."
Pria yang ditanyai Panca seperti juru bicara warga untuk menerangkan kepada orang asing bahwa apa yang dilakukan polisi adalah hal yang tepat. Tentunya, Panca bisa memahami kenapa Syahbandar adalah orang yang harus dimintai tanggungjawab atas kejadian itu.
Lelaki yang diajak berbincang manambah keterangan yang bisa membuat kaget tatkala didengar, "dan ... baru pagi ini ... ditemukan tiga mayat anak buahnya di Pelabuhan."
"Anak buah Syahbandar? Pegawai pelabuhan?"
"Ya ... kemungkinan dia pelakunya."
"Untuk melenyapkan saksi?"
"Ya, kau cerdas, Nak. Itulah yang semakin membuat warga membenci Syahbandar." Orang itu mengangguk cepat kemudian tersenyum kecut.
Panca kembali mengalihkan pandangan pada pesakitan di jalanan yang berjalan sangat pelan. Kakinya yang diikat sangat menyulitkan langkahnya. Kegagahan seorang pejabat Pemerintah, runtuh seketika apabila menyaksikan orang ini.
"Padahal, sebelumnya dia orang yang disegani di Pelabuhan," pria lain di sebelah Panca mencoba menjelaskan.
"Apakah ... tidak ada yang membela?"
Pertanyaan dari Panca seakan sebuah pertanyaan bodoh. Pria itu pun bertanya balik, "membela untuk apa?"
"Ya ... bisa jadi ini bukan hanya tanggungjawab dirinya sendiri."
Pria di sebelah Raden Panca terdiam. Nampak berpikir.
Sejenak, tidak ada perbincangan lagi. Tawanan yang tengah digiring itu semakin dekat. Panca pun ingin melihat dengan jelas bagaimana rupa orang yang menjadi tertuduh tersebut. Memang menyedihkan, bahkan di balik pakaian dinas yang gagah sekalipun.
Ketika memperhatikan si pesakitan, pandangan Panca dialihkan oleh orang yang menyentuh pundaknya. Orang itu memberi tahu sesuatu yang sebelumnya dipertanyakan oleh Panca. Apakah dia tidak ada yang membela?
"Lihat! Pertanyaanmu terjawab sudah, Nak."
Panca dan orang-orang di sekitarnya mengarahkan pandangan pada sesuatu yang mengejutkan. Para wanita berteriak karena tidak sanggup menyaksikan apa yang terjadi. Anak-anak pun sontak menangis terbawa suasana.
Lima pria bertopeng dan berpakaian serba hitam melompat dari atap bangunan dan berusaha mendekati si tawanan ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
