"Kau sudah bangun rupanya," seorang gadis masuk membawa makanan.
"A Ling, terima kasih sudah menampungku di sini." Pratiwi tersenyum.
"Sama-sama." Gadis bernama A Ling itu hanya tersenyum.
"Sebenarnya aku malu padamu. Beberapa hari lalu ayahku berkelahi dengan ayahmu. Sekarang, kau merawatku di sini."
"Tenang saja. Aku sendiri tidak setuju dengan ayahku yang telah membantu pedagang budak itu. Makanya, aku memberitahu di mana anak-anak itu disekap." Gadis berbaju cheongsam tersebut duduk di kursi memperhatikan Pratiwi yang tergeletak di ranjang. Dia tidak ingin banyak bertanya tentang peristiwa yang menimpa Pratiwi. Padahal, orang di depannya terluka parah.
"Jadi, kau sudah tahu bisnis haram yang dilakukan ayahmu."
"Ya, Ayah tergoda dengan bayaran yang tinggi. Makanya, dia sering menampung banyak anak-anak untuk selanjutnya dibawa ke Pelabuhan."
"Penginapan ini memang tempat yang baik untuk menampung anak-anak tanpa orang merasa curiga."
Ada satu hal yang mengusik pikiran A Ling. Itu pun ditanyakan dengan hati-hati kepada Pratiwi, "lalu, Ayahmu sendiri di mana?"
"Ayahku malah ditangkap Polisi ketika akan mencari Pranata ke Pelabuhan." Pratiwi mengepalkan tangan. Amarah dari dalam hati membuat darah mengalir deras sehingga luka pun terasa nyeri.
"Kenapa?"
"Ada orang yang mengajaknya berkelahi di tengah jalan. Dan, kemudian polisi datang." Pratiwi meringis, menahan luka yang telah diperban oleh kain putih.
"Lalu, anak itu?"
"Pranata kabur bersama anak-anak yang lain. Semalam Pelabuhan kebakaran. Keadaan sangat kacau. Itu kesempatan yang baik untuk kabur." Tangan kanan Pratiwi memegang balutan luka yang mulai berubah warna, tidak lagi putih sebagai sebelumnya. "Aku pergi berkuda hingga ke sini."
"Meskipun kau harus mempertaruhkan nyawamu?"
Pratiwi hanya tersenyum. Sesekali dia menahan rasa sakit di lengan kirinya.
A Ling pun sepertinya paham jika gadis yang dikenalnya beberapa hari belakangan ini tidak boleh diajak bicara lebih banyak lagi. Sifat A Ling yang cenderung pendiam cukup membantu dirinya untuk menguasai diri ketika mendapati pesakitan yang membutuhkan perawatan.
A Ling beranjak, dia memberi waktu bagi Pratiwi untuk istirahat. Gadis itu meninggalkan tamunya di dalam kamar. Ketika berpapasan dengan ayah dan ibunya, anak itu enggan untuk berbagi cerita. Bagi A Ling, keadaan ini bukanlah sesuatu yang layak untuk dibagikan kepada banyak orang, bahkan kepada orang tuanya sendiri.
Gadis remaja itu memilih untuk mencuci baskom bekas air cucian luka. Kain basah pun diperas kemudian digantungkan di dekat perapian agar cepat kering. Setelah membersihkan "tanda-tanda keberadaan orang terluka" di rumah itu maka A Ling pun kembali menjenguk Pratiwi.
"Bagaimana tanganmu?"
"Sekarang lebih mending. Obat dari Tabib cukup mujarab mengurangi rasa sakitku."
"Ya, Tabib memberimu obat penenang. Sehingga, kau tertidur nyenyak semalaman." A Ling bicara pelan, tidak ingin jika suaranya didengar oleh para tamu kedai yang mulai ramai jika pagi.
"A Ling, nanti aku akan bayar biaya pengobatannya sekaligus biaya penginapannya."
"Apa maksudmu? Kau tidak perlu membayarku. Anggap saja ini ucapan terima kasih padamu." A Ling memegang jemari Pratiwi.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena sudah menyadarkan ayahku. Sejak kejadian itu ayahku benar-benar bersumpah tidak akan menjadi bagian dari komplotan perdagangan budak lagi."
"Begitukah?"
"Ayahku mulai ketakutan." A Ling menoleh ke arah pintu yang tertutup. "Karena, selama ini tidak ada yang tahu peran ayahku dalam perdagangan budak. Tapi, setelah terbongkar olehmu dan Raden Aditama ... jadi sering polisi datang ke sini."
"Bertanya banyak hal?"
"Ya, hampir saja ayahku dipenjara. Namun, kurang bukti untuk menjeratnya." A Ling mengangkat alis, seakan tidak puas dengan keputusan polisi yang tidak menangkap sang ayah.
A Ling dan Pratiwi saling tatap. Mereka mulai saling percaya satu sama lain. Pratiwi punya teman baru di tengah Kota Batavia yang kejam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
