9

178 45 0
                                        

"Oh ... Anda, Tuan." Si Polisi Jangkung tersipu malu ketika sang tuan rumah memergoki mereka.

"Ya, ada yang salah denganku? Ini rumahku," Valentjin berkata ketus.

"Maaf, Tuan. Kami hanya heran kenapa lampu di sekitar sini padam." Si Polisi Pendek menimpali perkataan kawannya.

"Aku hargai kerja kalian. Aku tahu kalian polisi yang baik."

"Terima kasih, Tuan."

Kedua Polisi itu terdiam sejenak. Sesekali mereka memperhatikan sosok yang berdiri di depannya. Seperti sosok yang tidak dikenali. Seorang pria berbaju serba hitam, bertopi hitam dan perban kehitaman menutupi setengah wajahnya.

Tuan Walikota Valentjin yang mereka kenal sebelumnya tidaklah begini. Setelah kebakaran rumah itu terjadi beberapa hari yang lalu, maka penampilan lelaki Eropa itu berubah. Kedua polisi tersebut seakan melihat orang lain.

Hanya suaranya yang bisa mereka kenali dengan baik.

"Hei ... kalian berdua kan sudah mengenalku cukup lama."

"Ya, Tuan. Tentu saja." Mereka berdua mengangguk serempak.

"Begitupun aku. Aku mengenal kalian sebelum kalian diangkat menjadi polisi." Sang tuan rumah bicara dengan nada lebih lembut dari sebelumnya. Perkataannya tersebut membuat suasana tak tegang lagi sebagaimana sebelumnya.

"Benarkah Anda mengenal kami begitu lama?"

"Ya. Jujur saja. Aku yang merekomendasikan kalian untuk selalu bertugas di sekitar rumahku."

"Oh begitu. Sekali lagi terima kasih, Tuan." Si Polisi Pendek terkesima dengan perkataan sang tuan rumah.

"Untuk itu ... aku meminta tolong pada kalian."

"Kenapa harus meminta begitu. Sudah menjadi tugas kami melayani Anda." Si Jangkung memang pandai basa-basi. Terlebih, mereka bicara di depan orang yang memimpin Batavia.

"Ya, aku tahu itu. Tapi, ini di luar tugas rutin kalian."

Kedua polisi itu saling lirik.

"Sebaiknya matikan dulu lentera yang kalian bawa."

Polisi itu pun menuruti perintah Walikota Valentjin. Memadamkan lentera sehingga tidak tampak lagi reruntuhan rumah, tergantikan oleh gelap yang semakin pekat. Tidak adanya cahaya lentera dan pemadaman lampu jalan membuat keadaan di sekitar reruntuhan tidak terpantau oleh siapa pun. Terkecuali, seekor kelelawar yang kebetulan terbang melintas.

"Aku ingin kalian mengantarkan ini pada seseorang." Valentjin menyodorkan amplop berwarna cokelat yang telah disegel.

Meskipun tanpa cahaya, polisi itu mengenal rupa amplop karena terbiasa memegang benda yang dimaksud. "Pada siapa, Tuan?"

"Pada seseorang di penjara."

Kedua Polisi itu keheranan. Sejenak, tak ada kata yang keluar dari mulut.

"Ya, kalian punya akses ke sana. Makanya aku meminta tolong pada kalian."

"Kami paham." Si Polisi Pendek bicara  dengan suara pelan, nyaris berbisik.

"Seseorang yang kalian tangkap sekitar seminggu yang lalu di tengah jalan raya."

"Raden Aditama ...." Si Polisi Jangkung tahu betul siapa orang yang dimaksud.

"Ya, orang itu." Valentjin membenarkan sambil memberi sekantung uang pada dua polisi itu.

Si polisi tidak ingin banyak bertanya, tetapi pikirannya tidak henti-henti bertanya-tanya. Apa hubungan Tuan Valentjin dengan Raden Aditama?

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang