Pratiwi mengajak si Nakula untuk berbalik arah. Selanjutnya, kedua kaki depan sang kuda langsung menerjang sekelompok pria yang sudah siaga akan melakukan perlawanan. Sayang, mereka kurang persiapan.
Bluugg!
Mereka terjungkal satu persatu. Senjata di tangan seakan tidak berguna.
"Ahh ... sialan!" umpatan keluar dari mulut segerombolan pria itu. Mereka merasa malu kalah oleh seorang gadis dan seekor kuda. Padahal, jumlah mereka jauh lebih banyak.
"Kejar anak-anak itu!" seseorang di antara gerombolan itu berteriak memberikan perintah.
Sontak, mereka yang terjungkal bangkit berdiri dan berlari mengejar anak-anak yang ketakutan. Cahaya remang-remang menyulitkan penglihatan tetapi mereka sudah terbiasa dengan keadaan itu. Dari kejauhan, terlihat bayangan anak-anak yang berlari secara beriringan.
"Di sana!" Sambil menunjuk ke arah deretan rumah penduduk.
Kejar-kejaran antara para pria dewasa dengan anak-anak menjadi perhatian warga kota. Mereka terheran-heran karena sebelumnya perhatian warga tertuju pada kebakaran yang sedang terjadi di pelabuhan. Api menyala semakin membesar bahkan merambat hingga bangunan di dekatnya.
Ada apa ini?
Melihat anak-anak itu dikejar para penjahat, Pratiwi tidak tinggal diam. Gadis itu melecut kudanya untuk menyelamatkan anak-anak itu. Terlalu mudah mengejar orang berlari dengan bantuan seekor kuda.
"Hiaaa!"
Tidak butuh waktu lama untuk mendekati orang-orang itu. Seperti menghalau hama pengganggu di sawah, Pratiwi menghentakkan kakinya ke arah kepala pria-pria itu. Dan, mereka terjungkal ... untuk kesekian kalinya.
Melihat temannya terjungkal, seorang pria diantara mereka mencoba melawan Pratiwi. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik melompat ke arah Pratiwi.
"Hiaaa!!"
Pratiwi bisa membaca arah gerakan orang itu. Dengan cepat dia menghindar. Nakula memutarkan tubuhnya dan menendang pria itu dengan kedua kaki belakangnya.
Duuugg!!
Dia terpental hingga menabrak dinding rumah warga.
Bruuk!!
Dinding rumah itu hancur. Dan ... pria itu tidak sadarkan diri.
Ketika seorang lelaki kalah oleh gadis remaja, maka pemenangnya seakan memiliki cara untuk membuktikan siapa yang layak disebut sebagai orang kuat. Cerita tentang pria lebih perkasa daripada wanita, ternyata tidaklah selalu berlaku. Ada saatnya, perempuan lebih unggul dibandingkan laki-laki.
Pratiwi merasa puas.
Si Nakula pun berdiri gagah dengan dada membusung. Hewan itu tahu kapan harus bersikap menantang manusia-manusia yang berniat mencelakai majikannya. Tangan kanan Pratiwi mengusap leher si kuda, meminta dia untuk lebih tenang setelah sebelumnya begitu tegang.
Tali kekang menjadi isyarat agar Nakula menjauh dari sekumpulan para penculik. Mereka tidak usah diladeni.
Dari kejauhan, Pratiwi menyaksikan gerombolan pria itu hanya berdiri mematung. Mereka tidak sanggup lagi mengejar.
Atau ....
Mereka bersiap untuk menembaki Pratiwi. Gadis itu baru tersadar ketika suara letupan terdengar.
Dor!
"Arghh!" Pratiwi berteriak kesakitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiyonDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
