Panca memacu kudanya dengan cepat. Matanya tertuju pada jalanan di beralaskan campuran pasir dan batu kerikil. Dia tidak ingin tiba di Batavia ketika hari sudah gelap. Karena, baginya kegelapan malam bisa menyulitkan misi kali ini.
Remaja itu bermaksud menyusul sang ayah untuk mencari Pranata dan Pratiwi. Meskipun sudah dilarang Lurah Bakti, rasa penasaran dan rasa bersalah sulit hilang apabila dia berdiam diri saja di rumah.
Begitupun sore itu, Raden Panca menyusuri jalanan Batavia dengan laju kuda yang cepat. Orang-orang yang menyaksikan merasa keheranan dengan cara dia memacu kuda tunggangan. Ada apa?
Jalanan sore itu lengang, tidak ada kegiatan perdagangan selayaknya jalanan yang dekat dengan Pelabuhan. Raden Panca merasakan keanehan, dia mengurangi laju kuda. Matanya tertuju pada kerumunan serdadu yang berjaga di jalan menuju Pelabuhan.
"Maaf, Tuan. Ada apa ini?" dengan membuka topeng kain di wajah Raden Panca bertanya pada salah seorang serdadu.
"Ha! Aku bosan menjawab pertanyaan ini! Kau tidak tahu kalau Pelabuhan ditutup karena kebakaran!"
"Maaf Tuan. Tidak ada tulisan atau pengumumannya." Panca memiliki alasan kenapa dia bertanya kepada petugas keamanan.
"Jadi kau menyalahkan aku? Karena tidak menulis papan pengumuman!"
"Maaf, Tuan ...," Raden Panca pun berlalu. Dia berbalik arah dan bermaksud pergi meskipun tidak tahu pergi ke mana. Dia masih sempat menggelengkan kepala sambil menggerutu perihal ketidakramahan si petugas jaga.
Langkah kaki kuda lebih pelan dari sebelumnya. Si penunggang pun kebingungan; orang yang memperhatikan akan berpikir jika dia menjadi orang yang kesekian kali marah-marah setelah tidak tahu jika pelabuhan sedang ditutup. Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa memberinya petunjuk. Di mana Pratiwi dan Pranata?
Cukup lama Panca mengitari jalanan kota. Hingga dia tidak menyadari jika waktu pun berlalu.
Raden Panca mengarahkan pandangan ke langit. Matahari sudah tenggelam meskipun semburat cahayanya masih terlihat menghiasi langit di arah barat. Malam menjelang, Panca mulai merasakan kekhawatiran.
Remaja itu memang bukan pertama kali menginjakan kaki di Batavia. Namun, dia khawatir jika hari sudah gelap bisa menyulitkan pencarian. Apalagi, petunjuk bagi dia satu-satunya yakni "pelabuhan" sedang dijaga ketat para serdadu.
Si Kuda berjalan pelan. Penunggangnya berharap menemukan petunjuk lain. Dia berpikir sambil melihat ke sekeliling. Siapa tahu ada yang bisa membantu memberi informasi, meskipun dia tahu keterangan sulit didapat di tempat seperti ini. Setiap orang saling menjaga rahasia.
Blurr ....
"Heihh ...," Si kuda dikagetkan oleh semburan api dari sebelah kiri jalan.
"Tenang ... tenang, Sadewa."
Kuda itu tidak bisa tenang ketika dilihatnya api menyembur dari salah satu bangunan. Ada kebakaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AçãoDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
