"Ayah?" Sophia heran dengan kedatangan Ayahnya saat malam-malam seperti ini.
"Ya, ini Ayah." Suara itu terdengar dari balik jendela model jelusi berukuran besar. Tinggi daun jendela melebihi tinggi Sophia.
Pria yang dipanggil "ayah" itu tersenyum. Walaupun senyumannya sulit terlihat karena perban masih membungkus wajah.
"Bisa kau buka jendela?" dengan suara berbisik pria itu berkata sambil menunjuk engsel jendela.
"Ya ya ya." Membuka daun jendela ternyata membutuhkan tenaga bagi Sophia yang bertubuh mungil. Ketika jendela terbuka maka udara malam pun masuk ke dalam kamar atau lebih tepat disebut bangsal karena ukurannya yang luas.
"Ayah merindukanmu, Nak."
Sophia pun punya perasaan yang sama. "Aku juga rindu pada Ayah."
"Maaf kalau Ayah datang ke sini malam-malam dan mengganggu jam tidurmu."
"Aku belum tidur, Ayah."
"Apakah kamu tahu kalau Ayah akan datang?" Perban di wajah lelaki itu menutupi raut mukanya. Bagi Sophia, sang ayah terkesan datar, hanya terdengar suaranya yang lirih.
"Ya, sepertinya begitu."
Ayah dan anak itu saling tatap. Mereka saling melepas rasa rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Sebenarnya Ayah tidak diperbolehkan keluar Rumah Sakit. Dokter melarang Ayah untuk pergi kemana-mana."
"Tapi kenapa Ayah melanggar larangan Dokter?" Pertanyaan itu benar-benar bentuk kepolosan seorang anak umur sepuluh tahun.
"Karena Ayah merindukanmu, Sayang."
Sophia tersenyum. Gadis belia itu merasa penasaran dengan perban yang melilit kepala ayahnya. Sophia meletakan tangan mungilnya di wajah sang ayah. Perban pun terasa basah di kulit. Bau amis luka bakar tercium setelah wajah mereka saling mendekat.
"Apakah Ayah sakit?"
"Tidak, setelah bertemu kamu rasa sakit yang Ayah rasakan jadi hilang." Sang ayah tersenyum, meskipun tidaklah jelas guratan di bibirnya.
"Ayah jadi susah melihat ya? Satu mata Ayah tertutup."
"Ya ... tapi nanti juga Ayah akan terbiasa."
Pria dengan wajah diperban itu masih bisa melihat jam dinding. Waktu hampir tengah malam dan dia tidak ingin anaknya kelelahan karena kurang tidur.
"Boleh Ayah memelukmu?"
"Ya, tentu saja."
Mereka pun saling berpelukan untuk beberapa saat. Pria itu pun mencium kening Sophia sebagai tanda perpisahan.
Sophia dan ayahnya saling melambaikan tangan. Dalam keremangan cahaya Sophia masih bisa melihat lelaki itu. Dia berjalan menjauh hingga sampai di pinggir jalan.
Meskipun dengan suara pelan. Sophia masih mendengar percakapan ayahnya ketika dihampiri oleh dua orang yang sedang melintas.
"Selamat malam, Pak Polisi."
"Hei ... sedang apa kamu di sini?" Polisi berseragam biru dongker bertanya dengan nada tinggi.
"Aku hanya berkunjung."
"Mengunjungi siapa?" Lentera yang dibawa menjadi alat penerangan demi memastikan bagaimana rupa lawan bicara.
"Mengunjung anakku, Sophia."
Dua polisi itu mendekatkan lentera ke wajah pria yang dililit perban itu.
"Oo ... maaf. Anda ... Tuan Walikota." Polisi itu mengenali sebagian wajah pria itu setelah dia menyebutkan nama anaknya.
"Ya. Aku Valentjin. Kalian kaget dengan penampilanku?"
Dua Polisi itu tampak gugup.
"Bukankah Anda seharusnya di Rumah Sakit?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
