Dua polisi yang semula melintas di depan Panti Asuhan kini tiba di depan sebuah rumah. Mereka berjalan cukup jauh sehingga tiba di tempat tersebut. Sebelumnya, dua polisi patroli tersebut merasa keheranan ketika melihat Walikota Valentjin berjalan malam-malam. Apalagi, setelah tersiar kabar ke seantero kota jika dia sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit.
"Seharusnya dia istirahat saja di Rumah Sakit, sampai dia sembuh," si polisi bertubuh tinggi memberikan komentar.
"Ah, biarkan saja dia dan tidak perlu kita hiraukan," seorang polisi yang bertubuh lebih pendek menanggapi kawannya.
"Aku curiga jika dia ....," si jangkung tidak tahan untuk menyampaikan isi pikirannya.
"Ssstt, jaga mulutmu."
"Wajar kan jika aku curiga. Biasanya dia senantiasa dikawal dan menumpang kereta kuda. Tadi, dia berjalan sendirian, tanpa membawa lentera. Seakan tidak ingin ada orang lain yang mengetahui keberadaannya."
Si polisi pendek terdiam. Perkataan dia ada benarnya, pengakuan ini hanya terbersit dalam hatinya.
"Kau juga berpikir begitu, kan?"
Orang yang ditanya tidak menjawab. Hanya memberikan pernyataan, "jika kita terlalu curiga pada semua orang hanya akan membuat kita pusing sendiri."
"Memang sih."
Dua pria berseragam itu berhenti melangkah setelah sekian lama menyusuri jalan raya untuk berpatroli. Lentera di tangan menjadi alat untuk bisa memastikan apa yang dilihatnya. Sebenarnya, kawasan tempat berpatroli tidaklah gelap gulita. Tepian jalan raya dihiasi oleh lampu penerangan berbahan bakar gas. Lentera dibutuhkan ketika harus menyusuri titik-titik tanpa penerangan seperti di bawah pohon besar. Namun, mereka berdua mendapati pengecualian.
"Aneh, kenapa lampu-lampu jalan di sini padam?" keanehan tersirat dalam pikiran si polisi jangkung.
"Mungkin memang bahan bakarnya habis."
"Tidak, lihat ke depan sana. Di sana lampu-lampu itu masih menyala. Lalu, di ujung jalan sana, lampunya masih menyala," Si polisi yang bertubuh jangkung menunjuk ke arah berlawanan.
Kedua polisi itu mendapati lampu jalanan yang mati hanya di sekitar tempat mereka berdiri.
Keduanya saling tatap, kemudian mengangkat bahu.
Dua polisi yang sedang patroli itu terdiam untuk beberapa saat. Mereka berdiri mematung. Sembari mengarahkan lentera di tangannya ke berbagai arah, mereka berdua menaruh curiga pada sesuatu atau seseorang. Naluri penyelidik mereka memanggil.
"Kau tahu, ini kan rumah Walikota yang terbakar?"
"Ya, rumah ini terbakar seminggu yang lalu." Si polisi yang lebih pendek mengangguk.
"Perlukah kita memeriksa ke sana?" Tangan yang memegang lentera diangkat ke arah rumah besar berjarak puluhan méter dari tepi jalan raya.
Sang polisi bertubuh pendek malah kembali mempertanyakan alasan kawannya, "untuk apa?"
"Hanya memeriksa."
Setelah berpikir beberapa saat, polisi yang bertubuh pendek setuju dengan ajakan kawannya. "Baiklah."
Kedua polisi itu berjalan ke arah sebuah reruntuhan rumah yang terbakar. Mereka harus menapaki pekarangan yang ditumbuhi rumput. Kali ini, sepatu pun bersentuhan dengan ilalang yang tumbuh liar. Setelah sekian hari tidak dirawat, rumput pun tidak lagi rapih. Berbekal lentera, bisa dilihat jika bangunan dua lantai itu sudah hangus lebih dari separuhnya. Hanya tembok-tembok yang tersisa dari bangunan itu.
"Hati-hati, bisa saja dia ambruk." Si polisi pendek tidaklah langsung mendekati sisa bangunan sebagaiman sang kawan.
Ketika lentera menerangi beberapa bagian bangunan tersebut maka jelaga terlihat di mana-mana. Tembok yang rapuh, kusen yang berubah menjadi arang, serta kanopi yang tidak lagi utuh. Namun, ternyata bukan hanya sisa bangunan yang ada di sana.
"Sedang apa kalian di sini?"
Suara seseorang mengagetkan dua polisi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
