Valentjin masih berada di dalam kereta kuda ketika drama pembunuhan Syahbandar sedang terjadi. Dari kejauhan, dia menyaksikan bagaimana para polisi pengawal tidak berhasil mengamankan tawanan.
Valentjin tidak mau mendekati kerumunan sebelum dibubarkan. Dia merasakan ketidaknyamanan ketika harus tampil di depan umum dengan wajah berbalut perban. Dia tidak ingin dilihat sebagai orang yang lemah di mata warga kota. Namun, keadaan memaksa dirinya untuk menampilkan diri di depan umum.
Atap kereta dipukul, pertanda si Kusir harus melecut kudanya untuk berlari.
"Ke mana, Tuan?"
"Dekati kerumunan itu!"
Kereta kuda berjalan perlahan. Hanya perlu waktu beberapa saat untuk mendekati tempat drama pembunuhan itu terjadi. Warga yang berkerumun memberi jalan dengan spontan. Mereka paham apa yang harus dilakukan apabila walikota datang.
Mata orang-orang yang berkerumun tertuju pada Valentjin. Mereka melihat perbedaan penampilan pria itu. Meskipun berpakaian rapi tetapi perban di wajahnya terkesan menampilkan ketidakberdayaan.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" pria itu membentak orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.
"Maaf, Tuan."
"Bubar! Bubar kalian semua!"
Tidak perlu waktu lama untuk membubarkan kerumunan. Jalanan pun terbebas dari gangguan karena bentakan Sang Walikota.
Bukan hanya warga yang tumpah ruah hingga jalan raya, masih banyak pula warga yang berdiri di balkon rumahnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka yang enggan meninggalkan rumah adalah perempuan dan anak-anak. Orang-orang demikian tahu jika keadaan kota tengah genting, bukan saat yang tepat jika harus turun hingga mendekat ke tempat kejadian perkara.
Valentjin pun melihat itu semua dengan seksama. Dari jendela kereta kuda, dia bisa merasakan ketakutan yang sama.
"Tuan, Anda melihat kejadiannya?" Kepala Polisi menyambut walikota dengan wajah tidak sangar sebagaimana sebelumnya.
Setelah turun dari kereta kuda, Valentjin kemudian menjawab pertanyaan dari polisi yang kali ini tengah menangani perkara. "Saya melihatnya dari ujung jalan sana. Tadinya saya mau pergi ke kantor. Tapi, melihat ini semua ...."
"Maaf, Tuan."
"Anda minta maaf untuk apa? Tidak ada yang perlu dimaafkan."
Ada alasan dari Kepala Polisi ketika harus meminta maaf. "Tapi ... kasus kebakaran Pelabuhan ini ... sepertinya akan ditutup ...."
"Karena tidak ada lagi saksi yang bisa dimintai keterangan?"
Kepala Polisi menganggukkan kepala. "Ya."
"Begitukah?"
"Semua saksi yang sudah diperiksa ... hanya menyaksikan kebakaran itu. Dan ... orang satu-satunya yang bisa dimintai keterangan ... Syahbandar ... sekarang meninggal."
Valentjin tertunduk, berpikir sejenak. Sedangkan Kepala Polisi kembali memperhatikan para bawahannya untuk berkonsentrasi mengamankan jenazah yang tergeletak di jalanan.
Bau amis darah menusuk hidung, mulai mengganggu penciuman. Warga yang tidak sanggup bau demikian, segera menjauh setelah rasa penasaran terobati.
Valentjin menghela nafas. Dia mengarahkan pandangan pada mayat yang bergelimpangan. Perasaannya campur aduk. Itu terlihat ketika dia mulai mengeluarkan cerutu, untuk kesekian kalinya pagi itu.
"Anda tahu, Tuan ... yang mengganggu pikiran saya bukan hanya tentang kebakaran dan mayat yang bergelimpangan ...."
"Lalu ... apa?" Kepala Polisi berkata pelan.
"Nasib kota ini yang bisa mati secara perlahan. Anda tahu, kebakaran besar yang terjadi akhir-akhir ini ... bisa menghilangkan kepercayaan negeri lain."
"Bisa jadi mereka tidak akan singgah lagi di kota ini." Kekhawatiran Kepala Polisi sama sebagaimana kekhawatiran para pejabat di seluruh Batavia.
"Ya, itu yang saya pikirkan."
"Batavia memang tidak diperangi oleh negeri lain ... tapi, kepercayaan pada kota ini dibunuh secara pelan-pelan."
Walikota Valentjin dan Kepala Polisi saling menganggukkan kepala.
"Dan ... terus terang ... saya menaruh curiga jika ...."
"Pelaku pembakaran adalah orang-orang dari negeri yang memusuhi Batavia ...," Kepala Polisi menyimpulkan jalan pikiran Walikota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
