"A Ling, kau tahu kenapa di Batavia begitu sering terjadi kebakaran?" Panca merasakan keheranan dalam hatinya.
"Aku tidak tahu. Tidak pernah memikirkannya." Gadis berambut digelung konde itu tidak bisa memberikan jawaban.
"Aku yakin ada kesengajaan."
Semula A Ling memperhatikan jalan raya yang ramai, kini dia menoleh kepada orang di dekatnya, "dibakar, maksudmu?"
"Ya."
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu? Memangnya kau punya bukti."
Panca hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak punya bukti."
"Lalu ...."
Raut wajah Panca menjadi lebih tegang dari sebelumnya. "Tapi, semalam aku melihat orang yang membakar rumah makan di seberang kanal."
"Kejadian tadi malam ... aku bertemu dengan pemiliknya di Bank."
"Awalnya aku menyangka itu hanya kebakaran kecil," lanjut Panca, "tapi, setelah kuhampiri ternyata ada orang yang sengaja membakarnya."
"Kau lihat wajahnya?"
Pertanyaan dari A Ling merupakan hal penting yang bisa dijadikan petunjuk. Sayang, Panca hanya bisa menggelengkan kepala. "Tidak. Dia memakai topeng dan pakaian serba hitam."
"Ternyata bukan hanya terjadi pada keluargaku ...."
"Jadi benar penginapanmu ada yang membakar juga?" Sejak semalam Panca menaruh kecurigaan. Tadinya hendak bertanya langsung kepada A Ling, tetapi tadi malam gadis itu pingsan.
"Ya. Setelah membunuh kedua orangtuaku ... orang itu membakar penginapan kami."
"Eee ... maaf jika membuatmu sedih." Pernyataan A Ling menegaskan akan sesuatu yang mengganjal pikiran Panca. "Tapi ... sejak awal aku sudah menduganya."
"Bagaimana bisa? Bukankah kemarin kau datang ketika kebakaran itu telah terjadi?"
"Aku melihat banyak bekas cakaran di dinding penginapanmu."
Beberapa detik, tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Kedua remaja itu saling tatap. Mereka memikirkan hal yang sama.
A Ling melihat kembali amplop yang dipegangnya. Kemudian dia melihat ke arah Bank Batavia yang masih disesaki orang yang berkunjung.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Bank?"
A Ling hanya mengangkat bahu sambil berucap, "mungkin saja ... tapi kita tidak punya bukti apa-apa. Mungkin saja itu hanya kebetulan."
"Kebetulan yang terlalu ...."
Mereka terdiam sejenak. Dan, Raden Panca merasa berat untuk kembali bicara. Prasangka yang ada dalam dirinya memang sulit dibuktikan. Tapi, dia tahu masalah yang dihadapi A Ling bukan hanya tentang kematian dan kehilangan harta benda. Tapi, ini menyangkut hidup gadis itu di masa depan.
"A Ling, bagaimana orang tuamu?"
"Mereka masih dalam pengawasan Polisi. Sekarang ada di Rumah Sakit."
Panca menanggapi dengan suara pelan, "aku turut berduka cita."
"Aku juga mengucapkan terima kasih karena telah menolongku tadi malam."
Raden Panca hanya menganggukkan kepala.
"Ahh ... kau sendiri kapan pulang?" A Ling mengubah topik obrolan. Dia tampak berusaha tegar.
"Seharusnya hari ini juga ... tapi ...."
"Kenapa? Tenang saja ... aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku terbiasa sendiri sejak bayi."
Panca tersenyum tatkala melihat gadis seperti A Ling tampak tegar. "Ya ... aku percaya itu. Tapi ... aku minta kau berhati-hati."
"Selalu. Sepanjang hidupku aku selalu berhati-hati."
"Maksudku ... kau berhati-hati pada pimpinan Bank itu."
"Direktur Bank?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
