"Pratiwi, kamu di depan!" teriak Panca.
Ketika Panca mengurangi kecepatan si Sadéwa, maka si Nakula menyalip diikuti oleh kuda Bajra. Anak lelaki itu ingin memastikan jika masih berada dalam jarak aman dengan para pengejar.
Pratiwi melecut kudanya paling depan. Pikirannya begitu khawatir ketika dari kejauhan terlihat api berkobar semakin besar. Dari belakang, Bajra dan Panca mengikuti Pratiwi dengan kecepatan tinggi.
Kobaran api yang semula seperti titik cahaya maka kini terlihat semakin besar.
Keremangan cahaya jalanan kota cukup untuk menunjukan jalan mana yang harus ditempuh kuda-kuda itu. Beberapa kali mereka melewati jembatan-jembatan di atas kanal. Ketika malam, air yang mengalir di kanal-kanal itu tak terlihat. Hanya kegelapan semata, bahkan tidak ada satu pun lentera di atas sampan yang melintas di sana. Batavia kala malam memang terkesan menakutkan. Kini lebih menakutkan. Tidak ada orang satu pun yang mereka temui.
Apakah karena masa darurat diterapkan di kota itu, sehingga orang-orang tidak berani keluar rumah?
Sesekali kawanan remaja berkuda itu bertemu dengan polisi yang berpatroli. Lentera yang mereka bawa di tangan terlihat bergoyang-goyang. Hanya cahayanya saja yang tampak, wajah orang yang membawanya pun tidak terlihat jelas.
Tapi, polisi-polisi itu bisa melihat dengan jelas ada tiga ekor kuda yang melintas di hadapan mereka. Kecurigaan ada dalam benak mereka.
Salah satu diantara mereka berteriak, "berhenti!"
Satu orang lagi langsung mengacungkan senapan dan melontarkan peluru ke langit.
Dor!
Tentu saja Panca dan kawan-kawannya enggan untuk berhenti. "Terus maju! Mereka hanya menggertak!"
Ketika menengok ke belakang, memang benar jika petugas keamanan itu hanya menggertak. Lagipula mereka tidak berkuda, tidak mungkin untuk mengejar.
Suara tembakan itu tak akan menghentikan kami.
Panca merasakan ketidaknyamanan ketika melihat polisi-polisi itu berpatroli di pinggir jalan. Sekaligus heran karena peristiwa kebakaran tidak membuat mereka beranjak dari tempat berdiri. Mungkinkah mereka sedang mengintai seseorang?
Dia mulai berpikir jika besok pagi dia harus bisa menjelaskan maksud kedatangannya ke Batavia. Tapi, untuk saat ini Panca harus bertemu A Ling dan memastikan dia baik-baik saja.
"Lihat! Kebakaran itu semakin besar!" Pratiwi menunjuk sebuah gedung yang terbakar hebat sembari menarik tali kekang. Menghentikan langkah Nakula.
"Wahhh ... bahaya ...! Apakah ini tempat tinggal A Ling?" Bajra memastikan.
"Sepertinya iya! A Ling pernah mengatakan kalau dia tinggal di Panti Asuhan orang Cina."
Pratiwi mempertegas apa yang terlintas dalam pikiran, "ya ... lihat gaya bangunannya. Jelas ini bangunan orang Cina."
Pratiwi turun dari kudanya, dia mulai mendekati bangunan itu. Tapi, tangan Panca meraih tangan si gadis berambut digelung.
"Tenang. Kau tahu? Ini bukan kebakaran biasa ... ini pasti dibakar. Dan ... aku khawatir orang yang membakarnya masih ada di sana."
Pratiwi terdiam. Dia berpikir akan banyak kemungkinan terjadi. Termasuk, kehilangan nyawanya sendiri.
Ketiga remaja itu mulai mengamati keadaan. Kobaran api mulai merambat ke berbagai sudut bangunan.
Dalam hati Bajra, ada sesuatu yang mengusik, "Raden, kau merasakan keanehan?"
"Apa?"
"Tidak ada orang satu pun yang datang menolong." Bajra mencium keanehan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
