Tiga sekawan itu tiba di pantai yang gelap. Tidak banyak penduduk yang bermukim di sana. Tujuan akhir bukan di sana tetapi menemui A Ling. Panti Asuhan tempat gadis itu kini tinggal jauh dari titik Panca, Pratiwi dan Bajra kini berada. Untuk mencapai tengah kota, ada jalan yang melewati Pelabuhan. Namun, jalan menuju ke sana masih dijaga ketat oleh serdadu dan polisi yang berpatroli.
Pelabuhan saat itu begitu gelap. Tidak ada satu pun penerangan. Panca, Pratiwi dan Bajra bersembunyi di balik reruntuhan gudang. Mereka mencoba menenangkan kuda-kuda yang sedang ditunggangi.
Di pihak lain, sekelompok serdadu yang tadi mengejar nampaknya enggan untuk menyerah. Samar-samar terdengar dari kejauhan para serdadu yang saling bicara satu sama lain. Mereka terdengar kebingungan.
"Ke mana mereka?" salah seorang diantara mereka terdengar berteriak.
"Di sini gelap. Pasti mereka bersembunyi di sini."
Cahaya lentera terlihat bergoyang-goyang. Para serdadu itu mengarahkan alat penerang ke berbagai arah. Berharap menemukan apa yang dicari.
Memperhatikan serdadu yang enggan untuk menyerah, Pratiwi mulai merasakan cemas. Apalagi Bajra yang belum pernah merasakan situasi seperti ini. Mereka harus berhadapan dengan serdadu-serdadu bersenjata. Panca pun ketakutan, kenyataan tidaklah sesuai dengan rencana yang ada di kepala.
Petugas keamanan itu menganggap jika kami adalah penyusup atau penjahat yang akan mengacau di Batavia, demikianlah pikir Panca.
Sayang, tidak ada waktu untuk menjelaskan maksud kedatangan tiga sekawan kepada lelaki-lelaki bertopi empulur tersebut. Bagi Panca, hal demikian hanya akan mengulur waktu. Sedangkan A Ling dalam bahaya, karena gadis itu menjadi saksi pembunuhan kedua orang tuanya.
Panca khawatir setelah tahu jika dia pun memperoleh ancaman karena menjadi saksi sebuah peristiwa pembunuhan. Terlebih A Ling, masih berada di tengah kota Batavia. Kemungkinan besar pembunuh itu mengancamnya.
Hanya saja, Panca dan kedua kawannya sulit untuk segera menemui A Ling karena terhalang oleh serdadu yang meminta untuk menghentikan perjalanan.
"Hei! Kalian menyerah saja! Kami tahu kalian ada di sini!" teriakan salah seorang diantara mereka terdengar.
Cahaya lentera-lentera yang dibawa para serdadu itu terlihat menyebar. Mereka mulai mencari buruannya ke setiap sudut Pelabuhan itu. Derap langkah kuda terdengar mendekat.
Panca mulai berpikir untuk keluar dari persembunyiannya. Naluri mengatakan jika berdiam diri saja bukanlah sikap yang tepat. Tapi, itu hanya akan menghabiskan banyak waktu. Dia teringat kembali akan nasib A Ling.
"Raden ... lihat di belakang kita," Bajra berbisik pada sahabatnya.
"Ada apa Bajra?" Pratiwi penasaran.
"Ada cahaya ... di tengah kota. Mungkinkah itu kebakaran?"
"A Ling."
Raden Panca teringat A Ling ketika melihat api yang berkobar dari kejauhan. Kobaran api begitu jelas terlihat dari kejauhan. Malam yang gelap memperjelas setitik cahaya redup apalagi cahaya sebesar itu.
Raden Panca kebingungan dengan situasi yang dihadapinya.
Pratiwi sulit menahan diri untuk tidak bawel. "Ayo Panca. Aku percaya padamu untuk segera bertindak."
"Iya, diam dulu." Panca mengibaskan tangannya. "Biarkan aku berpikir!"
Jika hari terang, akan terlihat kebingungan remaja itu dari wajahnya. Tapi, karena gelapnya malam hanya sikap diamnya saja menjadi pertanda dia kebingungan.
"Hei! Angkat tangan!" mereka dikagetkan oleh teriakan seorang serdadu.
Panca kaget.
Tentu saja Pratiwi kesal. "Seharusnya kita pergi dari tadi!"
"Aku harus berpikir!" Panca pun menanggapi Pratiwi dengan suara meninggi.
"Ah, terlalu lama."
Sedangkan Bajra ternganga, mengangkat kedua tangan. Dia masih tidak percaya dengan adanya senapan yang mengarah kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
