Panca ingat jika A Ling diberi surat oleh petugas bank tadi malam. Makanya, Panca pun mencari gadis itu hingga ke Bank Batavia. Panca berangkat dari Pecinan hingga akhirnya menemukan gadis itu di serambi Bank Batavia. Kali ini, tidaklah membutuhkan waktu lama untuk menemukan gadis itu.
Bangunan Bank Batavia tampak kokoh jika dilihat dari luar. Pilar-pilar yang menyangga atapnya tampak besar. Konon, dinding tembok dibangun begitu tebal. Bukan sekedar campuran pasir dan batu, ada batu-batu besar yang disusun untuk melindungi benda berharga yang tersimpan di sana. Jika dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya, bangunan bank tidak terlalu besar.
Dari kejauhan, Panca bisa mengenali A Ling dari pakaiannya yang berwarna merah. Penampilan dia kontras dengan cat putih yang mendominasi bangunan. Dia pun tampak menonjol di antara rerumputan dan pohon-pohon nan hijau yang menghiasi pekarangan lembaga keuangan tersebut. Gadis itu hanya berdiri sambil memegang sepucuk surat yang diterimanya tadi malam.
Petugas keamanan berjaga di setiap sisi. Bahkan, mereka berdiri sambil memegang senapan tepat di depan jendela model jelusi yang terbuka. Tidak mungkin aku mendekati mereka, begitu pikir Panca.
Anak lelaki itu bermaksud memanggil A Ling, tetapi gadis itu sudah berlalu. Dia bermaksud untuk masuk ke dalam bangunan dengan langkah yang gontai. Panca hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan.
"Hei Nona, apa kepentinganmu datang ke sini?" seorang penjaga menghentikan langkah A Ling.
A Ling tidak bicara sepatah kata pun. Dia menunjukkan amplop yang dipegangnya sambil tersenyum. Dan, penjaga itu pun menganggukkan kepala.
Ternyata, tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana. Panca sadar diri akan hal itu. Dia pun memilih untuk menunggu A Ling keluar dari sana.
Kini sosok gadis berbaju cheongsam itu tidak terlihat lagi. Dia masuk ke dalam bank melalui pintu utama.
Aku hanya ingin bertemu, sebentar saja.
Membutuhkan waktu beberapa menit untuk menunggu A Ling. Hingga, Panca pun mulai bosan. Dia menyangka jika urusan gadis itu di dalam bank akan berlangsung lama. Mungkin harus menunggu dia seharian.
Aku tidak sanggup menunggu lebih lama lagi.
Panca hanya ingin berpamitan pada gadis itu. Tapi, dia tahu diri untuk tidak menyusulnya masuk ke dalam bank. Raden Panca bermaksud pulang saja ke Desa Pujasari. Lain waktu aku akan menemui A Ling, begitu pikirnya.
Sadewa berancang untuk berlari kencang, majikannya melecut tali kekang. Tapi, tali itu kembali ditarik. Sadewa hanya meringkik, protes pada orang yang duduk di punggungnya.
"Tenang ... Sadewa. Kita tidak jadi pulang."
Raden Panca melihat sebuah pemandangan "mencurigakan" di depannya. Untuk apa orang itu datang ke bank pagi-pagi begini?
Dua ekor kuda yang menarik kereta berhenti tepat di depan Bank Batavia. Penumpangnya keluar dengan setengah melompat. Dia berjalan terseret-seret karena kesakitan yang dialaminya. Penjaga di depan pintu bisa mengenali orang itu dari kereta kuda yang ditumpangi. Walaupun, dia sulit mengenali wajahnya yang tertutup perban.
"Selamat pagi, Tuan," si penjaga menyapa sambil membungkukkan badan.
Orang yang disapa tidak membalas sapaan si penyapa. Tampaknya orang itu datang dengan membawa amarah yang belum terungkapkan. Panca bisa mendengar cukup jelas betapa orang yang baru tiba tersebut membutuhkan pelayanan segera. Seakan tamu agung, dia ingin diperlakukan istimewa.
Teriakan orang itu mengisyaratkan hal tersebut, "mana Direktur Bank?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
