Bajra berkuda paling belakang setelah Panca dan Pratiwi. Anak remaja itu terkadang meminta kedua kawannya untuk beristirahat sebentar. Meskipun tidak selalu digubris.
"Kasihan si Nakula dan Sadewa, butuh istirahat!"
Panca yang memimpin rombongan segera menarik tali kekang ketika sudah dekat dengan pos pemberhentian. Kali ini pemintaan Bajra dikabulkan. Mereka melintas di sebuah perkampungan yang terletak di jalan menuju Batavia. Lampu yang terpasang di teras rumah tampak kerlap-kerlip seperti kawanan kunang-kunang di perbukitan.
Pos yang dimaksud sengaja disediakan untuk warga yang hendak beristirahat dalam perjalanan jauh. Atap berbahan ijuk menaungi lintasan dari kedua sisi. Di tepi kiri dan kanan jalan disediakan ruangan kecil untuk menginap yang menempel dengan tiang berbahan kayu atau bambu. Persis sebuah saung untuk berteduh.
"Raden, hendak ke mana?" Setelah Panca mendekati lentera ternyata seorang petugas ronda mengenali anak itu. Ternyata Panca cukup dikenal hingga jauh dari Desa Pujasari.
Panca tidak langsung menjawab.
"Ke Batavia? Malam-malam begini?" Petugas ronda itu heran karena Panca hanyalah menunggang kuda, "tidak membawa barang dagangan ...?"
"Tidak, Paman. Ada keperluan. Bukan hendak berdagang."
Sebelum berangkat, tiga anak remaja itu belum sepakat siapa yang harus menjadi juru bicara. Terlebih seorang gadis seperti Pratiwi, sulit untuk menahan diri agar tidak banyak bicara. "Kami harus melakukan sesuatu, Paman. Harus segera."
"Apa itu?"
Panca menatap tajam si sepupu. Memberi isyarat agar tidak banyak bicara.
"Paman, maaf. Sepertinya harus segera pergi." Panca bicara keras sambil beranjak dari dipan yang terpasang di tepi jalan.
Dua kawannya heran, enggan untuk segera beranjak.
"Eh, kalian mau ke mana? Ini, ada singkong rebus," seorang petugas ronda lain tiba membawa bungkusan dari rumahnya yang terletak tidak jauh dari pos peristirahatan.
"Dibungkus saja, Paman." Bajra tersenyum sembari langsung menyambar bungkusan daun pisang di tangan seorang warga.
Panca dan Pratiwi saling pandang, mereka menggelengkan kepala.
***
Tiga remaja itu kembali berkuda dengan kecepatan tinggi. Malam yang gelap tidak menghalangi mereka untuk melecut kudanya agar sampai ke tujuan lebih cepat dan memastikan A Ling dalam keadaan aman.
Burung hantu yang sedang bertengger di atas pohon merasakan keheranan dengan kelakuan tiga manusia itu. Konsentrasi si makhluk malam terganggu ketika dia sedang mengintai seekor cecurut di dekat sarangnya.
Sekawanan manusia yang melintas di jalan pedesaan memang tidak selalu ada di setiap malam. Terkecuali, manusia-manusia itu begitu menginginkan sesuatu.
Mereka benar-benar diburu waktu. Panca bersama Sadewa berlari paling depan, disusul oleh Pratiwi menunggang Nakula.
Suara kaki kuda beradu dengan jalan tanah berkerikil terdengar lebih keras ketika malam.
Bajra bersama kudanya tidak mau banyak bertanya walaupun hatinya masih bertanya-tanya. Apa yang dipikirkan Panca dan Pratiwi sehingga mereka nekat seperti ini?
***
Menjelang tengah malam ketiga remaja itu sampai di gerbang Ibu Kota. Mereka sampai di sana ketika Batavia dalam keadaan darurat.
Serdadu berjejer tepat di depan portal. Orang-orang berseragam biru dongker itu tampak bersiaga untuk memeriksa siapa saja yang bermaksud berkunjung ke Ibu Kota.
Hieee ...
Kuda-kuda tunggangan meringkik. Mereka mengangkat kaki depannya. Terkaget dengan perintah tuannya yang tiba-tiba.
"Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam kota!" Panca menerka.
"Ya ... tapi bagaimana kita bisa masuk ke dalam kota?"
"Mereka pasti curiga, kenapa malam-malam begini kita ke sana," Bajra meyakinkan.
Pratiwi memberikan usulan, "sebaiknya kita mencari jalan lain."
"Ya ... tapi ke mana?" Panca berpikir keras sambil menenangkan kuda tunggangannya.
"Lihatlah! Mereka mendekati kita. Bagaimana, kita terus terang saja kepada mereka?" Pratiwi menunjuk cahaya lentera yang mendekat.
"Ah ... mending kita menjauh dari mereka. Terlalu memakan waktu jika harus berhadapan dengan mereka."
Cahaya lentera itu semakin mendekat. Semakin terlihat jika alat penerangan tersebut dipegang oleh salah seorang serdadu dengan menunggang kuda.
"Hei! Kalian! Berhenti di sana!" teriakan serdadu itu mulai terdengar jelas.
Pratiwi merasakan ketidaknyamanan, "Ayo Panca, kita pergi ...!"
Bajra setuju dengan usulan Pratiwi. "Ya, sebaiknya begitu."
Panca masih berpikir. Sedangkan serdadu itu semakin mendekat.
"Ikuti aku! Hiaaaaahhh!" Raden Panca melecut kudanya.
Pratiwi dan Bajra mengikuti, tapi serdadu itu tidak ingin kalah. Dia pun melecut kudanya dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AçãoDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
