55

107 33 0
                                        

JANGAN IKUT CAMPUR JIKA NYAWAMU TIDAK INGIN MELAYANG

Begitulah isi tulisan di kain yang membalut batu. Ditulis memakai tinta warna hitam dengan bahasa Melayu sebagaimana kebiasaan orang-orang Batavia. Tulisan itu ditujukan pada siapa?

Jantung Panca berdebar kencang ketika membaca tulisan tersebut.

Orang yang paling gesit untuk menanggapi surat kaleng ini adalah Aditama. Lelaki itu tidak harus meminta saran untuk melakukan apa selanjutnya. Dia memperhatikan deretan pohon di tepian lapangan yang terhampar di deretan rumah warga. Tidak ada orang.

Panca pun bermaksud mengikuti pamannya untuk memeriksa siapa orang yang telah melempar batu tersebut. Namun, sang ayah segera memegang tangan si anak agar tidak ke mana-mana. Lelaki paruh baya itu menggelengkan kepala.

Lurah Bakti pun mengangkat tangan sebagai isyarat agar tidak ada yang gegabah. Semuanya mengerti jika keadaan bisa membahayakan diri.

Hanya membutuhkan waktu beberapa saat saja bagi Aditama untuk memastikan. Dia pun kembali berkumpul di serambi bersama anggota keluarga lainnya. Hanya menggelengkan kepala, tampak kesal karena hasil yang tidak sesuai harapan.

"Orang yang melemparkan batu itu sudah pergi," Raden Aditama berusaha memeriksa keadaan. Sang Paman melompat ke pekarangan kemudian berlari hingga ke tepian kampung. Sayang, tidak ditemukan siapa pun orang yang patut untuk dicurigai. "Orang-orang pun tidak ada yang melihatnya, aneh."

Panca sadar jika sang paman memperhatikan wajah keponakannya. Ada kalimat yang tidak terlontar dari mulut lelaki berbaju pangsi warna krem itu.

"Paman, menurut Paman ini dari siapa?" Panca bertanya pada Raden Aditama sembari kembali menunjukkan selembar kain bernada ancaman di tangan.

"Mungkin sekali ini dari orang yang mengikutimu dari Batavia." Aditama menerawang, matanya menatap langit-langit rumah sang kakak yang beratap ijuk.

Suasana hening sejenak.

Orang-orang yang ada di rumah itu saling pandang tanpa bicara. Mereka mengira-ngira, kenapa ada yang mengikuti Raden Panca.

"Panca, memangnya apa yang sudah terjadi padamu?" Raden Bakti bertanya penasaran pada anaknya.

"Eee ... saya menyaksikan seseorang membakar rumah di Batavia ... mungkin ini dari dia."

"Lagi-lagi kau terlibat dalam masalah pelik, Nak." Nyai Bakti mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Wanita itu mengelus kepala sang anak. Dia menatap Panca dengan rasa iba.

"Saya juga tidak sengaja ... melihat pembunuhan ...."

"Pembunuhan?" orang-orang di rumah itu bicara serentak. Mereka menatap Panca berbarengan tanpa aba-aba.

"Ya ... di Pelabuhan."

Mendengar hal tersebut, sang paman bicara dengan nada khawatir bercampur kesal. "O ... Panca. Pamanmu ini jangan kau ikuti." Raden Aditama menggelengkan kepala.

"Maksud Paman?"

"Pamanmu sering terlibat perselisihan dengan orang-orang di Batavia," istri Raden Aditama menimpali. Sang suami belum sempat menjawab pertanyaan dari Panca. Nyai Aditama mendelik kemudian melirik ke arah Pratiwi yang membuang muka.

Gadis itu pernah dimarahi oleh kedua orang tuanya karena pergi ke Batavia tanpa izin. Ketika dia pulang, nyawanya nyaris hilang. Dia malah membawa "oleh-oleh" sebuah luka di tubuhnya.

"Lalu ... apa yang harus saya lakukan?" Panca ingin segera tahu tindakan selanjutnya.

"Diam di rumah dan jangan ke mana-mana lagi ... apalagi pergi tanpa pamitan," ayah dari anak remaja itu menyindir. Lurah Bakti berkacak pinggang. Nafasnya naik turun. Dia memikirkan banyak hal, termasuk keselamatan keluarganya.

Raden Panca hanya tertunduk.

"Kau juga, Pratiwi." Raden Aditama menatap anaknya yang sedari tadi hanya menyimak.

Gadis itu pun tersenyum malu, menyadari kekeliruan.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang