67

205 36 1
                                        

Raden Aditama dan A Ling turun menggunakan tangga yang disediakan para polisi. Entah dari mana, para polisi itu bisa mendapatkan tangga bambu. Yang jelas, wajah gadis remaja itu masih memperlihatkan ketakutan. Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Panca, Pratiwi dan Bajra datang menghampiri dan membopongnya ke tempat yang aman dan menjauh dari kobaran api.

"Anak-anak ...?" A Ling bicara pelan.

"Maaf, Nona. Mereka tidak bisa diselamatkan," seorang anggota polisi memberikan keterangan.

"Ahh ... lagi. Aku kehilangan lagi ...," A Ling bicara lirih. Cahaya yang terang memperjelas rona wajahnya. Pipi yang basah oleh air mata pun tampak sehingga semua yang melihat bisa membaca suasana hatinya.

Pratiwi memeluk tubuh A Ling. Sebagai perempuan, mereka bisa saling memahami.

Mata Panca justru mengarah kepada Raden Aditama. Ada rasa penasaran dalam diri anak remaja itu, "Paman, bagaimana Paman bisa ada di sini?"

"Hehe ... sudah kuduga kau pasti menanyakan itu. ... Paman sudah ada di sini sejak kemarin-kemarin."

"Mengikutiku?"

"Hanya memastikan kau selamat."

Panca merasakan keanehan. Ternyata pamannya membuntutinya sejak kedatangannya ke Batavia.

"Paman tahu ... kejadian-kejadian  tragis di Batavia ini?"

Aditama menjawab dengan enteng, "tentu saja."

"Termasuk kebakaran di rumah A Ling?"

Raden Aditama mengangguk.

"Kejadian di Pelabuhan, ketika aku disergap ...."

"Ya. Itu Paman. ... Sudahlah kita tidak perlu membahasnya."

Raden Panca mengangguk. Mulai memahami kenapa pamannya bisa datang di saat-saat dia bersama temannya dalam bahaya.

"Ayah ... maafkan aku." Pratiwi menatap Raden Aditama.

"Ya ... Ayahmu ini terpaksa harus memaafkan. Kau benar-benar membuat orang sekampung waswas, Pratiwi."

"Pratiwi anak yang hebat, Paman," A Ling memberi pujian.

Selanjutnya, mereka hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat. Duduk di bawah pohon rindang tepi jalan menjadi pilihan. Dari sana, bisa melihat warga yang berdatangan. Setelah kedatangan polisi dan keadaan dipastikan aman dari gangguan, penduduk kawasan Pecinan memberanikan diri untuk mendekati A Ling.

"Maaf, kami ketakutan. Tadi, banyak sekali orang yang membawa senapan," seorang wanita tua  menceritakan keadaan sebelum kebakaran, "mereka mengancam kami."

A Ling sepertinya memaklumi sikap warga yang memilih untuk bersembunyi. "Sekarang, mereka sudah pergi."

"Syukurlah." Kata itu terucap karena melihat A Ling selamat. Meskipun, ketika mendengar ada anak penghuni panti yang tidak selamat wanita itu pun ikut menangis.

Membutuhkan waktu bagi A Ling untuk bisa memenangkan diri. Kawan-kawan yang berada di dekatnya turut memulihkan jiwa yang tergoncang. Menyambut orang-orang yang berdatangan kemudian saling menguatkan sebagai cara lain untuk meyakinkan jika peristiwa mencekam tadi sudah berlalu.

Mereka saling pandang untuk memberikan dukungan. Walaupun Bajra masih merasa penasaran sejak tadi dan ada hal yang ingin ditanyakannya.

"Nyimas."

Pratiwi pun menanggapi Bajra yang hendak bicara tetapi tampak ragu. "Ya, kenapa, Bajra?"

Bajra sulit untuk memendam hal yang mengusik pikirannya, "boleh aku bertanya?"

"Tentu."

"Apakah kamu memakai celana panjang dari tadi? Bukankah tadi di rumah masih memakai kebaya?"

"Hehehe ... kan berkuda lebih nyaman memakai celana panjang."

"Berarti kau sudah berencana pergi ke sini sejak awal."

"Hehehe ...."

_________________________________
Cukup sekian cerita
Panca dan Manusia Api.
Selamat membaca #SerialPanca lainnya.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang