"Kamu sedang apa, Nak?"
Seseorang bertanya kepada Raden Panca dari arah belakang. Orang itu tidak asing bagi Panca. Dia bertubuh tinggi, bertopi tetapi wajahnya hanya nampak sebagian. Hanya sebelah matanya yang tampak.
"Tuan ... Tuan Walikota. Eee ... maaf ...," Raden Panca merasa canggung bertemu pria itu.
"Apa yang sedang kau perhatikan?"
"Saya sedang ... melihat-lihat saja."
Walikota dan Panca saling pandang. Merasa tidak sopan harus bicara dari atas kudanya, maka Panca pun bermaksud untuk pergi. Dia menghentakkan kaki ke perut Sadewa.
"Ah ... kau tidak usah pergi. Turun saja. Temani aku," Valentjin mengajak remaja itu berkeliling.
"Eee ...."
"Ya. Ikuti aku."
Panca turun dari kudanya dan berjalan mengikuti Valentjin. Anak remaja itu masih tidak percaya jika orang ini mengajaknya untuk bicara. Padahal, satu sama lain belumlah saling kenal. Mereka berdua berjalan ke suatu bekas ruangan tengah yang luas.
"Aku suka datang ke sini akhir-akhir ini. Di kantorku terlalu banyak orang. Sulit untuk berpikir."
Panca tersenyum dengan kepala sedikit tertunduk. Kedua tangannya disimpan tepat di bawah perut. "Ya, tadi saya melihatnya."
"Anak muda, kau tidak punya niat apa-apa, kan?" sebuah pertanyaan menohok diajukan pada Panca. Dengan cerutu di tangan, Valentjin menatap tajam remaja itu.
"Tidak, Tuan. Saya hanya penasaran dengan keadaan Batavia beberapa hari ini. Di sana-sini ada saja bekas kebakaran."
"Termasuk di rumahku. Ini rumahku, dulu."
Panca mendongak. Tidak ada lagi atap genting yang menaungi. "Ya, saya bisa membayangkan betapa bagusnya rumah ini."
"Penasaran. Hanya itu?"
"Ya. Saya bukan orang Batavia. Baru dua hari di sini, sudah tiga kebakaran saya saksikan. Dan, ternyata sebelumnya kebakaran sering terjadi di sini."
"Kamu sudah melihat Pelabuhan?"
Panca pun mengangguk pelan. Dia menjawab dengan nada rendah,
"ya, sudah. Mengkhawatirkan."
"Itulah yang sedang kupikirkan, Anak Muda. Aku khawatir dengan keadaan kota ini."
Panca hanya diam. Dia bisa melihat kegelisahan di wajah pria di hadapannya. Di sisi lain, anak remaja itu merasa terhormat karena diajak bicara oleh seorang pejabat negara. Orang udik yang diajak untuk berkunjung ke rumah Walikota Batavia, tidaklah sembarang orang. Meskipun, kini rumah itu tinggallah reruntuhan.
"Hahaha ... aku bicara ... sesuatu yang sulit ... dengan orang yang baru kukenal. O ya, siapa namamu?" Sang tuan rumah merasa lucu dengan situasi yang dilakoni kini.
"Saya Panca. Dari Desa Pujasari." Setelah memberitahu nama, Panca pun kemudian terdiam.
"Di sinilah semuanya berawal. Rumahku dibakar. Kemudian beberapa rumah dan tempat usaha warga, Pelabuhan dan sepertinya akan terus begitu."
"Saya juga menduga begitu."
Orang yang mengajak bicara itu menatap wajah Panca. "Aku lihat sesuatu yang istimewa dari wajahmu. Kau punya rasa peduli akan nasib orang. ... Dan terus terang saja ... meskipun aku malu mengatakannya ... aku kebingungan ... kejadian ini begitu bertubi-tubi."
"Saya mengerti, Tuan."
"... Jadi ... setelah kau melihat-lihat seantero Batavia ... apa kesimpulan yang kau dapatkan?"
"Ah, Tuan. Saya hanya anak-anak. Ini masalah pelik ...."
Si Tuan mengangkat tangannya kemudian menyentuh pundak Panca. "Katakan saja, Nak?"
"Ini ... seperti sebuah bentuk ... pengrusakan ... pengrusakan kota secara perlahan."
"Itulah yang kumaksud kau istimewa. Kesimpulanku pun sama. ... Tapi, adakah pendapatmu ... bagaimana menyelesaikan semua ini?"
"Eee ... saya ...."
Lagi, si tuan rumah meminta untuk bicara terus terang, "katakan saja, Nak."
"Mencari pelakunya."
"Kira-kira, siapa pelakunya?"
"Saya tidak tahu, Tuan."
Valentjin kembali mengisap cerutunya.
"... Tuan, apakah Tuan punya musuh?" Pertanyaan terlontar dari mulut Panca karena suatu alasan.
"Musuh. Entahlah, di luar sana banyak orang yang membenciku."
"Ya. Mungkin ... ini hanya mungkin ... dalang dari semua ini adalah orang yang membenci Tuan."
"Orang yang kukenal?"
Panca mengangguk sambil berucap, "Mungkin."
"Bagaimana bisa kau menyimpulkan?"
"... Karena mereka melakukan ini secara diam-diam ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
