Dari permukaan tanah, Panca hanya bisa memperhatikan Valentjin yang sedang mengancam A Ling. Di tengah kesulitan, ternyata ada pertolongan tak terduga. Datanglah sosok yang trengginas tatkala merebut pistol dari tangan si manusia api.
Walikota Valentjin terkaget-kaget. Dia tidak siap dengan serangan yang tiba-tiba. Di tengah kobaran api yang mengganas, ternyata ada orang yang berani menerjang kemudian berusaha merebut senjatanya. Pria itu hampir saja terjatuh dari atap.
"O ... ternyata kau, Aditama!" Valentjin tidak terlalu kaget dengan kehadiran orang kepercayaannya.
"Tuan ... kenapa kau bertindak sejauh ini?" Raden Aditama berusaha mendekati Valentjin yang melangkah mundur. Senjata yang telah tersebut oleh Raden Aditama kemudian dilempar ke arah kobaran api di bagian bawah bangunan.
Api semakin membesar. Genting-genting mulai berjatuhan karena kayu yang menahannya sudah rapuh terbakar. Tiga manusia di atasnya hanya bertumpu pada kuda-kuda atap yang masih kuat berdiri walaupun api mulai menjilati kayu-kayu itu.
"Hahahaha ... kau pikir tindakanku sudah kejauhan? ... Tidak ... tindakanku seharusnya sesuai rencana ... kalau saja keponakanmu tidak ikut campur urusanku!" Valentjin menunjuk Panca yang sedang berdiri di bawah bangunan bersama Pratiwi dan Bajra.
"Panca tidak mencampuri urusanmu ... dia hanya menyelamatkan temannya." Aditama berusaha menenangkan Valentjin.
"Tidak ... tidak ... dia sudah kuperingatkan tapi dia tetap saja ...."
"Tuan ... biarkan saja mereka ... mereka tidak tahu apa-apa." Aditama berusaha untuk mengemukakan maksudnya berada di tengah kemelut.
"Justru itu! Keponakanmu terlalu banyak tahu! Dan aku tidak ingin ada yang tahu tentang rencanaku!"
Pratiwi dan Bajra memandang Panca. Mereka bertanya-tanya, rahasia apa yang diketahuinya sehingga Valentjin bisa sangat marah?
"Tuan ... jadi semua kebakaran ini adalah ulahmu? Benar begitu?" Panca berteriak untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Hahahaha ... itu yang kumaksud. Kau terlalu banyak tahu! Kau harus mati anak muda! Dan ... temanmu juga!" Valentjin menunjuk A Ling yang masih berdiri tanpa banyak bicara sepatah kata pun.
"Tuan ... ini bisa dibicarakan ... kau akui saja semuanya pada kami ... pada Pemerintah ... kau bisa meminta keringanan hukuman ...," Panca bernegosiasi.
"Ah ... dasar kau licik anak muda! Kau pintar menguasai keadaan! Hahaha ... sebenarnya aku salut padamu! Tapi ... aku tidak ingin mengakhiri masa jabatanku dengan tangan kosong."
Orang-orang yang mendengar kata-kata dari Valentjin mulai mengerenyitkan dahi. Mereka tidak memahami maksud dari omongan pria setengah baya itu.
Bajra menoleh kepada Pratiwi. Anak gadis itu pun hanya menggelengkan kepala. Keduanya tidak memperoleh keterangan yang cukup untuk bisa memahami situasi. Bahkan, Panca pun tidak berbicara banyak kepada keduanya selain peristiwa pembunuhan di pelabuhan.
Kini, ada seorang lelaki berwajah dibalut perban sedang meracau di tengah gedung yang terbakar. Hanya itu yang terlihat di permukaan.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Bank Batavia?" hanya A Ling yang bisa menangkap maksud Valentjin.
Velentjin tersenyum sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
