A Ling dan Pratiwi seperti teman yang sudah kenal lama. Baru dua kali bertemu, mereka langsung akrab. Banyak hal yang mereka bicarakan sejak pagi sampai siang itu. Ada saatnya mereka tertawa ketika membicarakan sesuatu yang lucu. Ada kalanya, keduanya bermuka sedih ketika mendengarkan cerita yang menyayat hati. Hingga, sampai kepada perihal keberadaan Pratiwi di penginapan keluarga peranakan Cina tersebut.
"A Ling, sebaiknya kau beritahu ayah dan ibumu. Aku tidak ingin kehadiranku hanya menjadi beban mereka berdua."
"Sudah, aku sudah bercerita tentang keberadaanmu di sini. Hanya saja, mereka masih belum siap bertemu denganmu. Merasa bersalah atas apa yang terjadi padamu," A Ling bicara sambil tertunduk lesu.
"Bukankah aku sudah memaafkan kalian. Justru aku berterima kasih pada mereka karena sudah sudi menerimaku." Kali ini Pratiwi bicara sambil duduk di atas ranjang. Anak gadis itu mulai bosan jika harus berbaring seharian sembari menahan sakit dari luka di lengannya.
"Ya, nanti aku sampaikan."
Kamar penginapan tersebut tidaklah luas. Diperuntukkan bagi pelancong atau pelaut yang ingin beristirahat jika baru tiba di kota Batavia. Sepasang daun jendela gaya jelusi yang terpasang di dinding berbahan kayu; menjadi satu-satunya saluran untuk pertukaran udara sekaligus alat untuk melihat keadaan di luar. Tampak jika langit Batavia sedang cerah. Meskipun tidak selaras dengan kondisi hati warga setelah peristiwa kebakaran besar malam tadi.
Pratiwi pun memandangi langit nan biru tersebut. Memperhatikan suasana di luar sana bisa menjadi obat ketika suasana hati sedang kacau.
"Hari sudah siang, sepertinya aku mesti kembali bekerja."
Pratiwi pun mengerti jika anak gadis berbaju cheongsham itu harus melayani pelanggan yang berkunjung ke kedai. "Silakan, maaf jika aku merepotkanmu."
A Ling menggelengkan kepala. "Tidak, tidak sama sekali."
Dia pun beranjak keluar kamar dan bermaksud menuju dapur untuk membantu ibunya memasak. Kegiatan rutin bagi pengusaha rumah makan dan penginapan. Meskipun hari itu sedikit pelanggan yang mampir, tetapi mempersiapkan makanan sudah menjadi keharusan.
Namun, A Ling dan Pratiwi mendengar suara keributan di luar kamar. Suara itu semakin jelas ketika A Ling membuka pintu.
"Di mana anakku?!" terdengar suara orang bertanya dengan nada tinggi.
Pratiwi mengenali suara itu.
"Ayah! Aku di sini!" Pratiwi berteriak memberitahu.
Orang yang tersulut emosi itu sampai di depan pintu. Dia berdiri mematung.
"Aku di sini ... jangan marahi mereka. Mereka baik padaku." Pratiwi bermaksud untuk bangkit berdiri tetapi orang-orang di sekitarnya melarang agar dia bisa menghemat tenaga.
"Pratiwi, siapa yang sudah melakukan ini padamu?" seorang pria yang dipanggil "ayah" itu menghampiri tempat tidur.
"Mereka. Mereka yang menyekapku."
"Lalu ... di mana Pranata?" pria lain yang menemaninya bertanya penasaran.
"Pranata ... aku tidak tahu di mana. Kita terpisah, Paman." Pratiwi memberi penjelasan.
Kedua pria itu memperhatikan keadaan Pratiwi yang menyedihkan. Gadis itu memperlihatkan wajah yang tegar di depan keluarganya. Dan, itu yang melegakan hati.
"Kakang Bakti, aku titip Pratiwi padamu. Aku ingin membuat perhitungan dengan mereka."
"Aditama, kau mau kemana?"
Lelaki itu pergi dengan terburu-buru tanpa menjawab pertanyaan sang kakak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
