Kepala Polisi menggandeng Syahbandar untuk menjauh dari kerumunan. Tangan kirinya menyentuh pundak Syahbandar dan tangan kanannya masih memegang cerutu. Mereka berjalan beberapa langkah hingga suara mereka tidak terdengar jelas oleh anak buah Sang Kepala Polisi.
"Tuan, Anda ini adalah Syahbandar, penanggungjawab Pelabuhan ini. Apa yang telah terjadi kemarin adalah tanggungjawab Anda."
"Oh, saya tahu kemana arah pembicaraan Anda, Tuan." Suara Syahbandar sedikit meninggi. Wajahnya menampakkan ketidaknyamanan.
"Oh, saya ... hanya membicarakan fakta. Tidak melebih-lebihkan."
"Anda sebagai Polisi, bisa saja membuat sangkaan. Tapi, saya benar-benar tidak tahu kenapa semua ini terjadi." Syahbandar merasa tersudut. Dia menggelengkan kepala, tangan kanannya memegang dahi. Kemudian dia mengangkat kedua tangan, dikibaskan sebagai isyarat penolakan.
"Kami punya banyak bukti yang harus Anda konfirmasi."
"Bukti apa? Kapal-kapal yang terbakar? Gudang-gudang yang hangus?" Syahbandar pun bicara dengan nada tinggi. Kedua matanya memelototi Kepala Polisi.
"Dan ... mayat-mayat yang bergelimpangan."
"Aku tidak membunuhnya!"
Suara Syahbandar semakin meninggi. Suaranya menggema di antara reruntuhan bangunan yang telah terbakar. Polisi-polisi yang berkerumun sontak mengarahkan pandangan padanya.
"Tenang, Tuan. Kita harus membicarakan ini baik-baik." Kepala Polisi berusaha untuk menenangkan lawan bicaranya.
Syahbandar frustasi dengan masalah yang datang bertubi-tubi. Kini emosi sulit untuk tidak terkendali. "Bagaimana bisa aku tenang? Pelabuhan ini urat nadi kehidupan Batavia. Gara-gara kebakaran ini, Batavia seperti mati suri."
"Ya, semua merasakan itu."
"Dan ... semua orang menyalahkanku ...."
Perbincangan terhenti sejenak. Satu sama lain memberi ruang untuk menata kata yang akan keluar dari mulut. Obrolan mereka kali ini bukanlah perkara ringan yang bisa dibahas sambil lalu, tidak ingin ada ucapan yang memiliki konsekuensi kerugian di masa depan. Bersama mereka, mayat yang mati tanpa diketahui sebabnya tidak lama setelah peristiwa kebakaran besar.
Sang kepala polisi kembali mengisap asap cerutu, membiarkannya terhembus angin. Sedangkan Syahbandar enggan melakukan apa pun setelah tahu jika dia akan dihadapkan dengan masalah yang baru yang mesti dihadapi.
"Tuan Syahbandar, aku ingin kerjasamamu." Tangan kiri Kepala Polisi menyentuh pundak Syahbandar.
"Maksudmu?"
"Mengakui apa yang harus kau akui."
"Mengakui apa?" Dahi penanggungjawab Pelabuhan itu terangkat, rona wajahnya mengisyaratkan penolakan. "Mengakui jika aku yang membakar semua benda-benda ini?"
"Termasuk mengakui jika kau membunuh anak buahmu sendiri ...."
Kali ini dia menatap lawan bicara kemudian bertanya dengan nada datar, "untuk apa aku membunuh mereka?"
"Untuk menutup mulut mereka?"
"Menutup mulut dari apa?"
"Tuan Syahbandar, kebakaran besar ini ... bisa jadi adalah kesengajaan. Dan ada motif kenapa Pelabuhan sebesar ini dibakar."
"Oh ... kau menuduhku aku membakar semua benda di tempat ini ... lalu aku membunuh anak buahku sebagai cara menyingkirkan saksi ...?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
