Valentjin termenung di ruang kerjanya. Sore itu Balai Kota sudah sepi. Pegawai yang tadi siang terlihat sibuk, kini mereka sudah pulang.
Di sore yang cerah itu, Valentjin menatap jendela ke halaman yang luas. Rerumputan hijau selalu menenangkannya. Bunga-bunga dan pepohonan yang mengitari bangunan bisa mengubah suasana hati pria itu yang muram menjadi lebih tenang.
Di sela lamunannya, Valentjin teringat kata-kata anak remaja yang ditemuinya tadi siang. Dia mulai terganggu dengan kata-kata Raden Panca. Batavia mulai dihancurkan secara perlahan.
***
Dalam lamunannya, dia kembali teringat kejadian kebakaran di rumahnya. Beberapa hari lalu, rumah megah yang menjadi tempat tinggalnya terbakar atau lebih tepatnya dibakar.
Malam itu, Valentjin bersama anak dan istrinya sedang menikmati makan malam. Tanpa diundang, datang segerombolan orang dengan pakaian serba hitam dan bertopeng. Mereka merusak rumah itu tanpa bicara sepatah kata pun.
Sulit sekali menerka apa yang menjadi motif mereka membakar rumah Valentjin. Orang-orang itu datang tanpa menuntut apa pun. Hanya kematian si pemilik rumah yang mereka inginkan.
Valentjin kembali teringat bagaimana istrinya berusaha menyelematkan diri. Tapi sayang, wanita itu tidak selamat.
Hanya Sophia yang menjadi temannya saat ini. Ketika kebakaran itu terjadi, Sophia bisa menyelamatkan diri dan meminta pertolongan.
Valentjin menerka-nerka siapa mereka sebenarnya? Untuk apa menginginkannya mati?
Dan, setelah kejadian itu kebakaran demi kebakaran begitu sering terdengar di Batavia. Rumah, pertokoan hingga Pelabuhan. Benar-benar membebani pikiran seorang walikota seperti Valentjin. Apalagi, fisiknya saat ini sedang tidak benar-benar baik.
***
Tidak terasa, Valentjin sudah berada di serambi Balai Kota. Lamunan membawa kakinya ke depan taman.
Hari mulai gelap, terlihat dari kejauhan petugas menyalakan lampu jalanan. Dan, dari arah jalan raya pula dia melihat seseorang berkuda dengan kencangnya.
Penunggang kuda itu berpakaian jas biru tua, seorang polisi.
"Selamat petang, Tuan," pria penunggang kuda itu menyapa sambil turun dari kudanya.
"Selamat petang, Tuan Kepala Polisi."
"Tuan Walikota, ada berita untuk Anda."
"Berita apa? Sampai harus Anda sendiri yang menyampaikannya." Pertanyaan tersebut wajar terlontar karena tidaklah biasanya seorang kepala polisi harus menyampaikan sebuah berita. Kenapa dia tidak menyuruh anak buah saja?
"Pembunuh Syahbandar ... para pembunuh Syahbandar yang sedang diarak tempo hari ...."
Valentjin tahu siapa orang yang dimaksud. "Mereka siapa? Anda sudah tahu?"
"Ternyata ... mereka bukan orang Batavia."
Sang Walikota membutuhkan penjelasan lebih lanjut, "Bagaimana Anda tahu?"
"Seharian kami menyelidiki. Dan, menanyai saksi dan tidak ada yang mengenali mereka."
Valentjin menunjuk sang kepala polisi dengan tangan kanannya sambil bertanya, "kesimpulan Anda?"
"Mereka musuh dari negeri lain yang ingin menyerang Batavia."
Kini terjawab sudah alasan seorang kepala polisi sengaja datang ke Balai Kota. Dia ingin mengajak Walikota untuk sama-sama memikirkan keadaan Batavia yang sedang tidak aman. Kejadian-kejadian demi kejadian ternyata memiliki sebab yang berakibat kepada kondisi kota yang tidak stabil.
Jika membicarakan musuh maka dalam kepala Valentjin hanya ada nama-nama wilayah yang dia hafal, "Dari Banten? Mataram? Atau, Makasar?"
"Itulah ... karena mereka sudah mati ... kita tidak tahu dialek dan gaya bahasa mereka."
Ada kesimpulan di kepala sang walikota, "Kalau begitu, itu bisa berarti ajakan perang."
"Ya ... kita diserang secara diam-diam."
Valentjin menganggukkan kepala sebagai tanda telah memahami keadaan. Dalam hati dia bergumam, benar juga omongan anak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
