17

121 36 0
                                        

Di balik jeruji besi, Raden Aditama masih memikirkan nasib putri kesayangannya, Pratiwi. Sejak beberapa hari lalu dia terpisah dengan sang anak karena terpaksa. Pratiwi disekap oleh para pedagang budak sedangkan dia sendiri harus mendekam di penjara karena keributan di jalanan.

"Masih pagi sudah bengong," seorang polisi membuyarkan lamunan Raden Aditama. "Raden, kami tahu bagaimana sepak terjangmu di Batavia."

"Memangnya kenapa, Tuan Polisi?" Aditama berdiri kemudian mendekat ke sisi jeruji.

"Entahlah, banyak orang berkuasa yang mendukung di belakangmu." Si polisi menyalakan sebatang rokok. Dia pun menawarkannya kepada Aditama yang berdiri berseberangan. Namun, orang yang ditawari pun menolak.

"Apa maksud, Tuan? Saya ini hanya orang biasa ...."

"Eiss ... tidak usah merendah begitu. Sebenarnya kami tahu kau bekerja untuk siapa. Hanya saja ... betapa sulit bagi kami untuk mencari bukti." Lelaki berseragam biru dongker itu menggelengkan kepala.

"Ah, kalian hanya mendengar dongeng masa lalu." Aditama menggelengkan kepala. "Saya hanya berdagang gerabah. Tidak ada kegiatan lain di Batavia ini."

"Ya ya ya, aku percaya."

"Saya hanya ingin mengubah nasib saya. Saya malu pada anak saya, dia tahu kelakuan saya dulu, Tuan."

"Hehehe ... mulai hari ini nasibmu akan berubah." Polisi itu tersenyum kepada tahanannya. Ada yang lucu di balik cerita Aditama.

"Maksud Tuan?" Aditama mengerutkan dahi.

"Kau dibebaskan."

"Benarkah?"

Kebebasan bagi Aditama sesuatu yang tidak bisa dipercayai begitu saja. Dia dibebaskan begitu saja tanpa sebuah persidangan. Hal yang diharapkan oleh para pesakitan di dalam tahanan kantor polisi.

"Ada yang menginginkan kau keluar." Itulah alasan dari pembebasan yang diperoleh tanpa persidangan.

"Siapa?"

Sang polisi penjaga hanya memberi keterangan singkat, "kau akan tahu sendiri."

"Apakah Kakak saya, Kakang Bakti?"

"Bukan. Meskipun dia sudah memohon tapi kami tidak mengabulkannya." Ternyata perkiraan Aditama meleset.

Polisi penjaga memegang kunci sel kemudian memasukan ke lubangnya.

Pintu sel pun terbuka. Deritanya menandakan benda itu jarang diolesi minyak pelumas.

"Ada seseorang menunggumu di depan." Sang polisi jaga menunjuk ke ujung koridor.

Raden Aditama pun keluar sel tahanan dengan perasaan setengah tidak percaya. Heran sekaligus senang.

Langkah kaki pria itu terlihat pelan seakan enggan keluar dari tempat mengerikan itu. Hatinya mengatakan jika ini tidak biasa. Karena biasanya penjahat yang tertangkap harus menjalani hukuman lebih mengerikan dari apa yang dialaminya kini.

Dia berjalan di antara deretan ruang tahanan. Orang-orang yang ada di dalamnya memperhatikan Aditama dengan sorotan tajam. Ketika sampai di ujung koridor, bau tak sedap dan pengap mulai berkurang. Udara segar berhembus dari arah pintu dan jendela yang terbuka lebar.

"Kenapa kau keheranan?" seorang polisi lain menyambut kehadirannya di ruang tunggu.

Ruang tunggu yang dimaksud hanyalah deretan bangku diletakkan sejajar dengan dinding tebal bercat putih kusam. Tidak ada orang di sana kecuali si polisi yang telah menunggunya. Dia berdiri menyambut Aditama kemudian mempersilahkannya untuk duduk bersebelahan.

"Ya, Tuan. Anda yang menjamin saya?"

"Bukan. Tapi seseorang yang mengirim surat ini." Sebuah amplop cokelat dirogoh dari saku kemudian diserahkan kepada Aditama.

"Surat?"

"Ya, terima saja."

Raden Aditama menerima surat itu. Kemudian membaca isinya.

MALAM INI, TEMUI AKU DI RUMAH YANG TERBAKAR.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang