Valentjin melihat kembali kobaran api di kota itu. Batavia kembali menjadi tempat kebakaran. Matanya menatap dari jauh betapa kebakaran itu semakin membesar.
Pria itu bisa melihat dengan jelas kebakaran yang tengah terjadi. Kakinya sedang berdiri di tempat yang tinggi di antara bangunan-bangunan sekitarnya. Sebuah menara yang diperuntukan bagi lonceng ukuran besar.
Jika siang, siapa pun akan terpana melihat kemegahan menara itu. Dari sana, siapa pun bisa melihat pemandangan Batavia berupa bangunan dengan berbagai bentuk. Malam itu, Valentjin pun bisa melihat dengan jelas di bagian Batavia sebelah mana titik api itu berkobar.
Sebagai pemimpin, dia tidak mau terlalu menampakan diri ketika terjadi kekisruhan di kotanya. Biarlah anak buahnya menyelesaikan ini semua. Tubuh terlalu lelah jika harus selalu tampil di depan umum. Dia sudah menyadari kelemahan diri.
Kali ini, pandangan Valentjin tertuju pada jalan raya tepat di bawah menara. Diterangi lampu-lampu gas nan indah bergaya Eropa, Valentjin bisa tahu siapa yang berjalan di sana.
Seekor kuda kemudian beberapa ekor kuda berlarian ke arahnya. Mereka berhenti. Kemudian terdengar jelas percakapan mereka, suhu malam membuat suara-suara lebih jelas terdengar.
"Tadi aku melihat dia lewat sini!" seseorang diantara mereka berteriak.
Polisi, terlihat jelas dari pakaian mereka. Wajah orang-orang itu tampak tegang.
"Mungkin dia bersembunyi di sekitar sini?" yang lainnya mencoba untuk menerka.
"Ahh ... kita kehilangan jejak!"
"Kita turun dari kuda ... dan cari dengan berjalan kaki!" seseorang diantara mereka memberi perintah.
Mereka semua turun dari kuda masing-masing. Diantara mereka ada yang memegang lentera untuk penerangan. Malam begitu gelap, apalagi ketika masuk ke wilayah perumahan orang-orang Eropa. Pohon-pohon yang tumbuh rimbun menghalangi cahaya dari lampu jalan untuk menembus pekarangan bangunan yang ada di sana. Memang tempat yang "baik" untuk bersembunyi.
Polisi-polisi itu mulai berjalan ke arah gereja. Kedatangan mereka mengagetkan seorang penjaga yang sedang memeriksa lampu tempel yang tiba-tiba mati.
Seorang polisi bertanya dengan nada ketus, "apakah kau melihat orang datang ke sini?"
"Banyak, Tuan. Ini Rumah Tuhan. Siapa pun bisa datang ke sini."
Orang yang bertanya kesal dengan jawaban demikian. "Maksudku baru saja."
"Eee ...."
Si polisi pun membentak. "Jawab saja!"
Petugas itu kaget dengan bentakan seorang Polisi.
"Hei! Jaga nada bicaramu!" seseorang menimpali percakapan Polisi dengan petugas Gereja.
"Oh ... Tuan Walikota."
Orang yang baru saja menimpali kini bicara dengan nada datar saja. "Ini Rumah Tuhan. Jaga nada bicara kalian."
Nada datar pun ternyata sanggup menurunkan tensi si polisi. "Maaf, Tuan ... kami sedang ...."
"Mencari seseorang. Aku mendengar percakapan kalian. Makanya aku datang menghampiri."
Si polisi yang menjadi juru bicara menoleh kepada kawannya kemudian melanjutkan perbincangan, "maaf, Tuan. Sekali lagi kami minta maaf. Ini penting. Kami harus memeriksa tempat ini."
"Ya aku tahu. Silakan saja. Tapi jaga etika kalian. Dan, jangan buat kegaduhan. Di sebelah sana Panti Asuhan, banyak anak-anak. Mereka bisa ketakutan karena ulah kalian."
Panto Asuhan yang dimaksud tidaklah jauh. Bangunan tersebut bisa dikatakan satu kawasan dengan gereja. Keduanya hanya dipisahkan oleh tanah lapang berlapis rumput yang dibiarkan menghampar tanpa pagar.
"Ya, kami mengerti." Suara si polisi terdengar bergetar, "... kalau boleh tahu ... putri Tuan masih di Panti Asuhan?"
"Ya, dan setiap malam aku mengunjunginya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
