"A Ling!"
Panca memanggil kemudian berjalan menghampiri A Ling yang baru keluar dari Bank Batavia. Wajahnya menampakan kebingungan. Teriakan orang yang memanggilnya pun tidak dihiraukan.
"A Ling ... kenapa? Kau nampak bingung?" Panca menghampiri A Ling lebih dekat.
"Panca ... ya aku kebingungan."
"Memangnya ada apa? Bank ini kok jadi ramai?" Panca celingak-celinguk memperhatikan serambi bangunan lembaga keuangan tersebut.
A Ling baru menyadari jika bank itu semakin banyak dikunjungi orang. Mereka datang berduyun-duyun seperti punya kepentingan yang sama. Orang mulai berdesakan untuk masuk ke dalam kantor. Bukan hanya warga keturunan Cina seperti A Ling, banyak pula warga keturunan Arab dan tentu warga pribumi dari berbagai suku. Mudah bagi Panca untuk mengenali etnis warga Batavia karena cara berpakaian mereka pun berbeda.
Remaja lelaki itu ingin tahu akar masalah yang membuat warga berkumpul di sana, "sebenarnya apa yang terjadi, A Ling?"
"Bank menawarkan pinjaman tanpa jaminan pada yang terkena musibah kebakaran."
"Apakah mereka juga mengalami musibah yang sama?" Panca bertanya demi menegaskan apa yang menjadi kecurigaannya selama ini.
"Mungkin."
Panca merasa penasaran dengan kerumunan yang belum pernah dilihatnya. Dia pun bertanya pada seorang pengunjung yang tidak bisa masuk karena ruang tunggu sudah penuh. "Paman, apakah Paman juga mendapat surat tawaran dari Bank?"
"Ya."
"Rumah Paman kebakaran?"
Lelaki itu menjawab dengan nada lesu, "ya, rumah dan toko saya kebakaran."
"Oh."
Lelaki itu pun balik bertanya, "bagaimana kau tahu, Nak?"
"Teman saya juga mendapatkan tawaran pinjaman."
A Ling menunjukan amplop yang dipegangnya. Gadis itu menganggukkan kepala.
***
Untuk mencari udara segar, A Ling dan Panca menjauh dari kerumunan. Mereka berdua berteduh di bawah pohon sambil membicarakan apa yang baru saja terjadi.
"Aneh, kenapa begitu banyak nasabah Bank yang datang di hari yang sama ...."
A Ling mengemukakan perkiraan, "mungkin mereka mendapat surat yang sama dan waktu yang telah ditentukan."
"Mereka ... sama-sama korban kebakaran."
Panca mulai mengerti duduk perkaranya. "Ya, bisa dimengerti. Karena Batavia mengalami banyak kebakaran akhir-akhir ini."
"Apa?"
"Kenapa kau nampak kaget?"
"Aku hanya merasa ... ini bukan kebetulan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
