"Akhirnya ... kau ke sini, Nakula," Pratiwi berteriak kegirangan.
Kuda tunggangannya tahu di mana majikannya berada. Hewan itu sudah belajar banyak bagaimana cara membuka pintu gudang. Setelah beberapa hari tidak bertemu, rasa rindu bisa terobati saat ini.
Beberapa hari belakangan, ketika Pratiwi disekap bersama anak-anak di dalam gudang maka si Nakula hanya berlarian sendirian. Kuda itu terus mencari sang majikan. Kini, setelah bertemu, ternyata keadaan tidak menggembirakan.
"Hei kalian semua! Ayo keluar, ikuti aku!" Pratiwi memberikan perintah.
Anak-anak itu pun berjalan beriringan. Mata mereka kaget dengan apa yang dilihat. Kini mereka tahu alasan terdengar suara dentuman keras hingga mengundang kepanikan.
"Hah ... kebakaran besar sekali!" seorang anak berujar atas pemandangan di depannya.
"Kita harus ke mana?"
"Ayo ikuti aku! Kita pergi ke arah belakang gudang ini. Ke arah kota," Pratiwi memberi petunjuk sambil menuntun Nakula, kuda tunggangannya.
Mereka berjalan sambil saling berpegangan. Diantara mereka tidak terpikir untuk pergi sendiri-sendiri, takut jika ada yang memergoki dan menangkap mereka. Dan, malam-malam seperti saat ini bukan ide bagus untuk berjalan sendirian.
"Nyimas, orang-orang yang menyekap kita ke mana?" Pranata bertanya keheranan.
"Mungkin mereka sibuk memadamkan api yang membakar kapal."
Sebetulnya, pertanyaan dari anak bertubuh gempal itu tidak terlalu membutuhkan jawaban. Toh, jawabannya sudah tersaji di depan mata.
"Menurutku tidak, Nyimas. Mereka ada di depan kita," seorang anak perempuan memberitahu.
Dalam keremangan malam, seorang lelaki berdiri tidak jauh di antara dua bangunan. Anak-anak itu ketakutan. Mereka semua berhenti melangkah. Di hadapannya, seseorang yang mereka kenali. Bertubuh tinggi dan berambut panjang.
"Hei ... kalian mau ke mana?!" lelaki itu berteriak.
Sontak, anak-anak itu berbalik arah. Mereka hendak melarikan diri. Tapi, tidak bisa ....
"Hahaha ... ada aku di sini! Kalian tidak bisa ke mana-mana." Seorang pria berdiri di arah yang berlawanan. Sama-sama bertubuh tinggi dan berambut panjang.
Anak-anak itu pun ketakutan. Mereka terjebak.
Tidak ada yang bisa dilakukan.
Kedua pria itu hanya berdiri tanpa melangkah sedikit pun. Dari keremangan cahaya, terlihat mereka mengacungkan senapan laras panjang. Mengancam.
"O ... ternyata mereka di sini." Datanglah teman-teman kedua lelaki itu. Mereka menyeringai seakan memperoleh sesuatu yang berharga.
Orang-orang tak dikenal berdatangan. Lebih banyak dibandingkan terakhir dilihat oleh Pratiwi. Jumlah mereka cukup untuk menangkapi anak-anak itu satu-persatu.
"Hueee ..."
Nakula merasakan ketidaknyamanan. Naluri hewani kuda itu tergugah. Keempat kaki seakan menari serta siap untuk diajak berlari.
Tenang, Nakula. Belum saatnya untuk bertindak.
Perkiraan Pratiwi benar. Sekelompok pria itu berjalan perlahan dari kedua arah. Bermaksud menangkapi "harta berharga" milik mereka yang hendak kabur.
Pratiwi hanya bisa menatap wajah mereka yang kumal. Bahkan ada yang menampakkan giginya yang menguning--agak menghitam--selayaknya pelaut yang lumrah ditemui ketika berkunjung ke pelabuhan.
Komplotan itu semakin dekat.
Dengan sigap, Pratiwi menaiki si Nakula. Sembari menghentakkan kakinya, Pratiwi duduk di atas pelana dan mengajak kudanya menerjang pria-pria itu.
"Hiaaaa!!"
Kuda itu melompat ke arah sekelompok pria di depannya. Kaki sang kuda terangkat dan mengenai dada salah satu di antara mereka. Terjungkal.
Tidak ada waktu untuk menarik pelatuk senapan. Yang terjadi, mereka terjungkal satu-persatu.
Bruugg!
Anak-anak itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka berlari sekencang yang disanggupi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
