66

124 31 0
                                        

"Valentjin! Menyerahlah!" tidak dinyana banyak polisi serta serdadu yang datang ketika Valentjin hampir saja menyelesaikan urusannya.

"Aha! Kau Kepala Polisi ... ada apa denganmu?" Valentjin terheran-heran dengan banyaknya pasukan yang dibawa oleh Kepala Polisi.

Sebagian prajurit menunggang kuda dan sebagian lainnya berjalan kaki. Dari hembusan nafasnya, sangat terdengar jika mereka kelelahan sekaligus bersemangat untuk menjalankan tugas. Beberapa orang langsung terbatuk-batuk setelah menghisap asap dari kebakaran gedung panti asuhan yang semakin ganas.

"Untungnya, bangunan ini terpisah dengan yang lain," sang komandan memantau bangunan di sekitarnya yang masih aman.

"Sayang sekali, Tuan. Penghuninya Tidak ada yang bisa diselamatkan. Kecuali  A Ling," Panca menunjuk gadis itu yang berdiri di tepian atap.

"Tolonglah dia, Tuan." Pratiwi memohon kepada para petugas yang mengitari bangunan.

Setelah beberapa saat, mereka tidak bisa menemukan jalan untuk masuk ke sana. Pintu masuk terkunci rapat, jendela pun tertutup, disertai api yang menjadi penghalang tambahan. Pekarangan yang luas memang menyelematkan kawasan dari kebakaran yang lebih besar. Namun, situasi genting di Batavia membuat warga enggan untuk mendekat. Hingga kini, tak ada seorang pun warga yang berani menonton peristiwa itu apalagi membantu untuk memadamkan api.

"Orang itu punya banyak anak buah, Nak. Hati-hati!" 

Panca, Pratiwi dan Bajra saling lirik. Terjawab sudah alasan kenapa dari tadi tidak melihat warga yang berkerumun. Warga memang tidak diperbolehkan untuk berkerumun di luar rumah. Kejadian pembunuhan Syahbandar sebagaimana tempo hari menjadi bahan pelajaran.

Kini, keamanan Batavia diserahkan kepada serdadu dan polisi. Bahkan, ketika kebakaran hebat tengah terjadi, warga pun memilih untuk berdiam diri di rumah. Pernyataan Kepala Polisi memperjelas semuanya, "Ini bukan kebakaran biasa, Nak. Orang itu pasti sengaja membakar tempat ini."

Ketiga remaja itu pun mengangguk pelan. Wajah mereka bertambah tegang setelah mendengar keterangan tersebut.

Kini, perhatian sang kepala polisi kembali tertuju kepada Valentjin. "Kami sudah membekukan aset Bank Batavia untuk mempermudah penyelidikan."

Valentjin balik berteriak, "apa maksudmu?"

"Kami tahu, kau pemilik saham terbanyak di Bank Batavia. Dan ... hari ini kau terbukti melakukan pembakaran."

"Lalu?"

"Kau ditahan karena dianggap melakukan makar, penipuan, pembakaran dan pembunuhan!"

Tangan kiri Valentjin dikibaskan. "Kau meracau!"

"Kami cukup bukti untuk menyeretmu ke Pengadilan!" teriakan Kepala Polisi terdengar jelas. Sekaligus menjelaskan hubungan Valentjin dengan Bank Batavia dan semua kebakaran di kota itu.

"Kau bohong ... kau tidak punya bukti!"

"Justru kau yang berbohong. Kau menyebarkan isu jika Batavia diserang musuh. Padahal kau sendiri yang membakar Pelabuhan dan rumah-rumah warga."

"Omong kosong!"

Kepala Polisi membeberkan hasil penyelidikannya agar Valentjin mengerti duduk perkara."Kau membuat alibi seakan kau adalah korban kebakaran itu. Kau berani mengorbankan kapal milikmu dengan memasanginya mesiu-mesiu yang bisa meledak dan menghancurkan Pelabuhan. Kami tahu dari mana bubuk mesiu itu dan kapan kau memasangnya!"

"Hahaha ... kau mengarang cerita!"

"Justru kau yang mengarang cerita. Kau sendiri yang menyuruh orang untuk membunuh Syahbandar di depan umum.  Padahal Syahbandar adalah saksi kunci. Kau cerdas. Kau menyuruh orang  yang bukan penduduk Batavia agar mengira mereka adalah musuh dari luar!"

"Lihatlah diriku! Wajahku rusak karena terbakar, istriku meninggal, rumahku hangus ...."

"Itulah yang membuat kami terkecoh. Karena kami mengira kau hanya korban. Tapi, itu kasus yang terpisah."

"Apakah ini semua tentang balas dendam karena apa yang menimpa dirimu?" Raden Aditama menimpali.

"Bukan! Ini tentang bisnis!" Kepala Polisi menjelaskan. "Dia ingin menghancurkan kota ini. Kemudian dia memberi utang melalui Bank Batavia, kepada orang-orang yang hartanya raib karena kebakaran."

"Kau ingin menguasai jiwanya ...," Raden Aditama menyimpulkan.

Untuk beberapa saat tidak ada lagi kata yang terucap dari mereka yang ada di sana. Semuanya diam untuk mencerna cerita yang dibeberkan Kepala Polisi.

"Tuan ... Anda hancurkan sendi kehidupan Batavia. Kemudian secara diam-diam Anda masih bisa menguasainya walaupun nanti Anda sudah tidak lagi menjabat sebagai Walikota." Panca mencoba buka suara.

"Hahaha ... kau cerdas anak muda ... hahahaha ...," Valentjin tertawa keras. Semua orang hanya melihat dirinya yang terpojok dan tidak sanggup mengelak.

Senapan sudah siap untuk ditembakkan. Tidak ada jalan untuk kabur.

Tubuh pria yang memakai jas jubah dan bertopi pandora itu berjalan beberapa langkah di antara kayu kuda-kuda atap. Dia terhuyung ... dan ... kaki kanannya salah melangkah. Dia terpeleset atau mungkin sengaja menjatuhkan diri ke kobaran api di bawah bangunan. Bluurrr ...

"Tangkap dia!" Kepala Polisi memberikan perintah. Pasukan bergerak masuk ke bangunan yang terbakar.

Mereka tidak memikirkan panasnya api demi mendapatkan buruan. Satu sama lain saling melindungi, walaupun ....

"Dia hilang!"

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang