A Ling, gadis remaja yang kuat. Sejak lahir dia sudah mengalami kehidupan yang getir. Terlahir tanpa pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Bahkan, dia pun tidak tahu terlahir di mana dan di tempat seperti apa.
Kegetiran itu kembali dialami oleh A Ling. Sepasang suami-istri yang menjadi orang tua angkat kini meninggalkan dia untuk selamanya. Gadis itu sendiri lagi.
"Jadi, dia orang tua angkatmu?" Panca bertanya untuk menegaskan kembali apa yang dikatakan oleh A Ling sebelumnya.
"Ya, merekalah yang mengurusku sejak kecil." Mata A Ling masih tertuju pada reruntuhan bangunan di hadapannya.
Kini, kedua remaja itu duduk di bangku yang terpasang di depan sebuah toko kelontong yang telah tutup. Letaknya berseberangan dengan kedai dan penginapan keluarga A Ling yang tengah terbakar. Pemilik toko berbaik hati, menyodorkan panganan dan air dalam kendi untuk mereka berdua.
Di tengah perbincangan, Panca penasaran akan apa yang akan dilakukan oleh gadis itu setelah musibah menimpa. "Dan ... sekarang ...?"
"Aku tidak tahu harus bagaimana."
"Maaf. Aku terlalu mengurusi urusanmu. Tapi, apakah sebaiknya kau buka dulu surat yang kau pegang." Telunjuk kanan Panca mengarah kepada benda yang ada di tangan A Ling.
"Untuk apa?"
"Eee ... agar kau tahu apa yang akan kau lakukan setelah ini."
A Ling pun memperhatikan amplop tangannya. "Ya, kukira begitu."
A Ling menuruti saran dari Panca. Kebetulan sekali karena tempat mereka duduk tidak jauh dari lampu gas yang dipasang sebagai penerangan jalan. Amplop berwarna cokelat itu dibuka, mudah saja untuk membaca isinya. Meskipun harus menyertakan perasaan yang tidak menentu. Apakah isinya berita baik atau malah sebaliknya.
"Ternyata, pihak Bank hanya memintaku untuk datang ke kantornya."
"Oh ... aku pikir ...."
A Ling menoleh kepada orang di dekatnya. "Kau berpikir apa?"
"Tidak. Tidak apa-apa."
Untuk sementara, Raden Panca tidak mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Dia berusaha menjaga perasaan gadis itu. Mengatupkan bibir, pilihan sikap yang dianggap tepat.
Walaupun, ternyata A Ling bisa menebak isi hati lawan bicaranya. "Utang? Kau berpikir ini tagihan utang?"
"Eeee ...."
"Ayahku punya utang untuk modal usaha penginapan kami." A Ling tidak segan untuk menyampaikan persoalan keluarga kepada orang yang baru dikenalnya beberapa saat yang lalu. "Dan, orang dari Bank sudah sering datang mendatangi Ayah."
Panca mulai bisa menerka akar masalah yang dihadapi A Ling. "Untuk menagih?"
"Ya."
"Jangan-jangan ...."
"Aku juga berpikir begitu. Sepertinya Bank akan membicarakan perihal utang orang tuaku."
"Aneh ... kenapa begitu kebetulan."
"Maksudmu?"
"Maksudku ... aneh saja, mereka mengajak membicarakan masalah utang-piutang bersamaan dengan kebakaran penginapan ini. Padahal, api yang membakarnya pun belum padam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
