Aditama melangkah ke sebuah bangunan yang sudah hangus terbakar. Dia memperhatikan ke sekelilingnya, mencari seseorang yang ingin menemuinya. Tak ada penerangan di sana, bahkan lampu penerangan jalan pun padam.
Mengapa tempat ini gelap sekali?
Sebenarnya, bangunan itu bisa dibilang sebagai bangunan megah ketika belum menjadi bangunan yang terbakar di semua bagian. Aditama ingat betul bagaimana rupa bangunan tersebut sebelum terbakar hebat tempo hari. Sebagai orang yang sering berkunjung ke Batavia, dia tahu siapa pemilik rumah yang pernah berdiri kokoh di sana. Kini, atapnya sudah hancur. Hanya menyisakan tembok-tembok yang penuh jelaga.
"Akhirnya kau datang juga." Terdengar suara dari balik reruntuhan.
Sayangnya, kegelapan malam menyulitkan pandangan untuk melihat dengan jelas sosok yang muncul. Tidak ada lampu yang bisa menerangi ruangan di sana. Hanya bisa dipastikan jika siluet yang terbentuk merupakan manusia yang bisa diajak bicara.
Membutuhkan waktu bagi Aditama untuk memastikan bagaimana rupa sosok tersebut. "Tuan, jadi Tuan yang memanggil saya ke sini?"
"Ya, aku membutuhkanmu."
"Maaf Tuan, tapi untuk apa? Sampai-sampai kita harus berjumpa di tempat seperti ini?"
"Karena ini rumahku ...."
"Ya, saya tahu, Tuan."
"Lagipula, agar kau bisa melihat alasan kenapa aku menginginkan kau datang."
Suasana hening sejenak. Raden Aditama mulai menyelami isi hati lawan bicaranya.
"Jika Tuan memberi saya tugas untuk membunuh orang, terus terang, saya sudah lama tidak melakukan itu."
"Ooo ... tidak. Aku hanya menawarkan kerjasama."
"Kerjasama apa?"
"Aku tahu putrimu disekap oleh seklompotan pedagang budak."
"Tapi ... putri saya sudah ditemukan."
"Kau tidak sakit hati ketika melihat dia terluka?"
"Bagaimana Tuan tahu?"
"Hahaha ... aku ini masih walikota di Batavia. Aku tahu semua yang terjadi di kota ini."
"Hubungannya dengan maksud Tuan?" Aditama belum paham maksud dari pembicaraan lawan bicaranya. Benar-benar bertanya, bukan sekedar basa-basi.
"Aku menawarkan kerjasama padamu. Kau bisa membalas kelakuan mereka pada putrimu ... sedangkan aku ingin membalas sakit hatiku karena mereka telah menghanguskan rumahku dan membuat anakku kehilangan ibunya ...."
"Tuan yakin jika mereka yang melakukan ini pada Tuan?"
"Ya, siapa lagi?" Suara sosok itu terdengar menggelegar. Tembok reruntuhan yang pernah terbakar memantulkan suara hingga terjadi gema.
Raden Aditama terdiam. Hatinya ragu dengan perkataan orang di hadapannya.
"Kau perlu bukti? Mari aku tunjukkan."
Orang yang mengaku dirinya sebagai "walikota" itu mengambil lentera yang tersembunyi di balik tembok yang hangus terbakar. Dia arahkan lentera itu pada goresan di bagian dinding lain.
"Lihatlah ... mereka meninggalkan jejak."
"Goresan senjata seperti ...."
"Seperti kuku binatang ... mereka melakukan ini pada istriku ... sebelum akhirnya mereka membakar rumah ini ...."
Terlontar sebuah pertanyaan penting dari serangkaian peristiwa yang pernah didengar dan dilihatnya. "Bagaimana Tuan bisa menyimpulkan jika ini ada hubungannya dengan komplotan pedagang budak?"
"Untuk meyakinkan, kau bisa tanya panday besi. Siapa yang sudah memesan senjata seperti itu ... aku sudah menanyakannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
