"Ayah, apakah Ayah tidak akan berangkat lagi ke Batavia untuk mencari Pratiwi dan Pranata?" Panca ingin sekali tahu isi pikiran Raden Bakti. "Adakah rencana untuk mencari mereka?"
"Akan Ayah coba lagi. Tapi ... terus terang tidak tahu harus mencari ke mana."
Pagi itu Panca dan ayahnya kembali memperbincangkan masalah yang belum terselesaikan beberapa hari ini. Bukan hanya masalah mereka berdua tetapi sudah menjadi masalah semua warga Desa Pujasari. Setelah kehilangan Pranata, disusul kehilangan Pratiwi.
Warga desa pun sama-sama merasakan kehilangan. Beberapa hari belakangan, mereka tidak bisa tidur tenang karena dua anak itu belum ditemukan.
Penduduk di sana tidaklah banyak. Perkampungan tersebut menjadi pemukiman terakhir sebelum kawasan hutan. Wajar saja jika setiap warga merasa dekat satu sama lain. Desa Pujasari yang terpencil di kaki gunung membuat suasana akan terasa berbeda jika ada satu orang saja tidak ada di sana. Apalagi, mereka harus kehilangan dua anak dalam waktu berdekatan.
Upaya pencarian sudah dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. Seantero Batavia telah didatangi tetapi Pranata dan Pratiwi tidak kunjung ditemukan. Demi keselamatan bersama, orang yang ditugaskan untuk mencari kembali pulang.
"Tadinya, kita berharap pada Paman Aditama, tetapi malah masuk penjara," Raden Bakti mengeluhkan usaha pencarian yang mendapatkan hambatan.
"Aku belum mengerti, kenapa Paman bisa masuk penjara begitu saja jika kesalahannya tidak terlalu besar."
"Ya, Ayah juga tidak paham. Padahal, kesalahan pamanmu hanya terlibat percekcokan di jalanan." Ki Lurah menggelengkan kepala.
"Apakah ini, suatu kesengajaan?"
Raden Bakti mengerutkan dahi, "maksudmu?"
"Ya, seperti diketahui ... masa lalu Paman memang kelam. Mungkin saja Paman Aditama ditangkap musuhnya?"
"Ayah juga berpikir begitu. Pamanmu menyimpan banyak rahasia dari Ayah." Sang kepala desa menganggukkan kepala. Dia sepakat dengan perkiraan anaknya.
"Ayah kan sudah menemui Paman di penjara. Apakah ada petunjuk yang bisa digali?"
"Nyaris tidak ada."
Raden Bakti kembali mengangkut gerabah untuk dipasarkan di Batavia. Kegiatan rutin setiap pagi sebelum berangkat menuju Ibu Kota. Raden Panca pun ikut membantu merapikan gerabah-gerabah itu ke atas pedati. Sinar mentari pagi muncul dari sela pepohonan nan rindang tidaklah mengubah pikiran mereka yang gelap.
"Tapi, satu hal yang dikatakan Pamanmu jika Pranata dibawa oleh orang berambut jabrik."
"Apakah ada hubungannya dengan perdagangan budak?" Panca memiliki perkiraan berdasarkan pengalaman pribadi.
"Kenapa kau menyangka begitu?"
Sambil meletakkan gerabah ke atas pedati Panca pun berujar, "hanya perkiraanku saja."
"Ya, pamanmu juga pernah berkata begitu."
Anak dan Ayah itu saling pandang. Mereka memikirkan hal yang sama.
"Ayah sudah mencari ke Pelabuhan?"
"Sudah. Tapi tidak membuahkan hasil. Lagipula, orang-orang Pelabuhan seperti saling menjaga rahasia." Raden Bakti berbicara sambil menghela nafas, seakan sudah putus harapan.
"Berarti kita harus kembali ke sana tanpa banyak bertanya pada orang. Kita lakukan pencarian secara diam-diam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
