Setelah Isya, Panca berdiam merenung di beranda rumahnya. Ditemani sahabat karibnya, Bajra dan sepupunya, Pratiwi, Panca mengisi malam itu dengan bercerita banyak hal. Sampailah pada obrolan tentang A Ling.
"Kasihan, A Ling." Panca menerawang.
"Kasihan ... atau ... em em ...." Pratiwi tersenyum. Sebuah senyuman yang mengandung banyak arti.
"Memangnya A Ling itu cantik ya?" Bajra bertanya dengan polosnya. Anak berpipi tembem itu tidak mengira akibat lain dari pertanyaannya.
"Cantik ...," Pratiwi berkata sambil tersenyum. Mata gadis mengerling ke arah Panca yang duduk di tengah.
"Dia itu sekarang tidak punya siapa-siapa," Panca menegaskan. Dia ingin jika kedua orang di sisinya untuk memusatkan perhatian pada satu hal. "Setelah kedua orang tua angkatnya meninggal, kini dia kembali harus tinggal di panti asuhan."
"Saya ingin sekali bertemu lagi dengan dia. Ya ... sekedar mengucapkan terima kasih." Pratiwi mengatakan itu sambil mendongak. Dia memperhatikan rasi bintang biduk yang menunjukkan arah utara. Kebetulan Batavia ada di arah yang sama.
Mereka bertiga menerawang bagaimana keadaan di Batavia malam ini. Memang lebih ramai jika dibandingkan dengan malam yang hening sebagaimana suasana Desa Pujasari.
Bajra bisa melihat kekhawatiran pada wajah dua sahabatnya. "Apakah ... A Ling aman?"
"Aman dari apa?" Pratiwi bertanya keheranan.
"Ya ... kalau saya mendengar cerita kalian ... begitu mengerikan ...." Bajra bisa memperkirakan sebesar apa kekhawatiran Panca.
"Itu yang aku khawatirkan. A Ling menyaksikan kejadian pembunuhan kedua orang tuanya." Panca menjelaskan.
"Mungkin sekali ...," Bajra tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Dia dalam bahaya. Aku saja ada yang mengancam karena menjadi saksi sebuah pembunuhan," Panca membandingkan.
"A Ling bisa jadi ... dalam bahaya juga." Pratiwi menyimpulkan.
Ketika Pratiwi bicara begitu, Panca berdiri dengan tiba-tiba.
"Aku harus pergi ke Batavia ...."
"Malam-malam begini?"
"Hei ... ingat keselamatanmu." Bajra mengingatkan.
"Tapi ... jika aku mendengar berita kalau terjadi sesuatu pada A Ling ... maka aku akan merasa paling bersalah." Panca berjalan beberapa langkah kemudian berbalik badan, dia menggelengkan kepala.
"Aku ikut." Pratiwi pun merasakan hal yang sama.
"Sebaiknya kau di sini."
"A Ling telah menyelamatkan nyawaku. Sungguh tidak tahu terima kasih ketika dia kesusahan aku diam saja." Pratiwi bersikeras.
Bajra hanya diam. Dia tidak bisa menahan orang-orang di depannya untuk tidak bertindak.
"Kalian yakin akan berangkat ke Batavia malam ini juga?"
Pratiwi dan Panca mengangguk.
"Baiklah ... aku siapkan kuda."
Bajra beranjak dan berjalan ke arah belakang rumah. Panca dan Pratiwi hanya saling pandang. Agak ragu dengan ucapan tetangganya itu. Namun, anak berbaju kutung itu memang benar-benar berjalan ke arah kandang kuda yang terletak di belakang rumah.
Sepertinya Bajra lebih bersemangat dari kami berdua, pikir Panca.
Tidak butuh waktu lama untuk menyiapkan kuda-kuda untuk ditunggangi. Hewan tunggangan itu tampak menurut pada arahan Bajra. Wajar saja jika demikian karena dialah yang mencarikan rumput, memberi makan, bahkan sesekali memandikan kuda-kuda milik pemangku Désa Pujasari.
"Kenapa kau bawa tiga ekor?"
"Satu lagi untukku. Kau pikir aku tidak butuh kuda?" Bajra bukan hanya bertanya, nada bicaranya terkesan memaksa Panca.
Pratiwi setengah enggan apabila Bajra ikut serta, "Kau mau ikut?"
"Jadi, kalian tidak bermaksud mengajakku? Baiklah, aku tidak akan ikut. Tapi, jika orang tua kalian ....." Itu sebuah ancaman.
"Sssttt ... ya kau boleh ikut."
Bajra pun tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
