Jangan lupa vote, komen, follow, dan share!!!
Dukungan dari kalian akan sangat membantu semangat penulis dalam melanjutkan cerita :)
Happy reading 🔥🔥🔥
Bacanya pelan-pelan aja yah, biar menghayati 🐭🐭🐭
***
Hari ini Gavin sudah bisa berangkat ke sekolah. Sekarang giliran Davin yang harus ditinggal di rumah karena kondisinya belum terlalu baik. Kakinya yang keseleo masih terasa sakit. Belum lagi lebam serta luka di lututnya. Jangan ditanya! Masih belum membaik.
Gavin menaruh tasnya. Ia lalu duduk dan menaikkan kakinya ke atas meja. Ponsel yang berada di saku jaket dikeluarkan lalu dimainkan. Arkan yang notabene adalah teman semeja belum berangkat. Sementara Varo dan Ezra sudah minggat entah kemana. Tas bermerek milik mereka sudah tertata rapi di bangku masing-masing. Buku-buku paket juga sudah tertata di meja mereka. Siapa lagi kalau bukan milik Varo dan Ezra. Gavin sendiri sempat heran dengan kedua sahabatnya yang tumben tumbenan rajin seperti ini.
Satu pesan yang berasal dari Davin masuk. Gavin dengan gugup membukanya. Ia takut kalau kembarannya itu ternyata memerlukan bantuan di rumah.
Namun ternyata Davin hanya menanyakan perihal yang tidak terlalu penting.
D4v1n:
Udah liat Siska?
Anjing, kirain lo kenapa
Belum
Hahaha
Gue bakalan nelpon kalo ada apa-apa nyet! Mana sempet kalo ngetik
Panggilan suara dari D4v1n
Gavin menggeser tombol berwarna hijau. Tadi sempat kaget ketika ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar.
"Apa sih lo?" Gavin setengah kesal. Menurutnya kalau tidak benar-benar penting, jangan menelponnya. Itu bisa membuat pikirannya melayang kemana-mana.
"Kangen!"
Gavin bergidik jijik mendengar nada manja kembarannya. "Geli nyet!"
Davin terkekeh, "Gue juga," jawab cowok itu pada akhirnya.
Sejenak, hanya terdengar suara gemericik air dari tempat Davin. Katanya sih ia sehabis mencuci piring. Ada sesuatu yang ingin diungkapkan olehnya namun menunggu saat yang tepat.
"Gue ngerasa Siska bakalan satu kelas deh, sama lo."
Gavin menggigit bibir bawahnya dengan tidak tenang. Apalagi setelah mendengar penjelasan tentang Siska semalam. Ia khawatir akan ada lagi korban yang menjadi incaran Siska. Lebih tepatnya Aldo.
"Gue harus gimana?" lirihnya nyaris tak terdengar. Gavin menggerakkan kepalanya ke arah pintu kelas yang dibuka. Ternyata Arkan.
"Ya nggak gimana-gimana dong sayangku... Berusaha aja nggak berinteraksi sama cewek Medusa itu! Pura-pura nggak kenal juga boleh tuh, anggep aja lo hilang ingatan setelah koma waktu itu."
Gavin mendengus kesal. "Nggak solutip! Kalo dia jadiin kondisinya itu buat alesan minta balikan sama gue gimana?"
Davin bergumam berpikir. "Nggak tau juga sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
GAVIN
Roman pour AdolescentsWAJIB FOLLOW SEBELUM MEMBACA!! CERITA INI HANYA UNTUK DIBACA, BUKAN DI-COPY PASTE, DITULIS ULANG, DIJIPLAK, ATAU BAHKAN DIBAWA KE DUNIA NYATA!! "Kita putus!" Hampir setiap hari kalimat itu dilontarkan olehnya. Ia Gavin, playboy yang satu hari bisa m...
