Vote, komentar, follow, share!!!
Happy reading!!!
***
Asya berjalan ke arah GOR SMA Galaksi. Gadis itu sebenarnya sangat kesal dengan teman-teman yang kini sudah berganti status menjadi sahabat-sahabatnya. Rencana menginap yang sudah disusun harus batal karena Kim dan Kiara tidak bisa ikut. Kalau sudah dua orang tidak ikut, semuanya lebih baik dibatalkan. Karena akan jadi percuma.
Hari ini ia ada latihan menyanyi untuk acara ulang tahun sekolah nanti. Ia ditunjuk sebagai perwakilan kelas dalam acara tersebut. Kalau saja acara menginap tidak dibatalkan, mungkin sekarang keempat sahabatnya masih ada untuk menyaksikannya latihan.
"Perwakilan mana?" tanya Rara, salah satu anggota OSIS.
"XI B."
Rara mencatat nama dan kelas Asya sebelum akhirnya mempersilahkan masuk untuk mengikuti latihan. Ini akan sangat berguna sebagai daftar hadir untuk memperjelas kelas berapa yang belum mengirimkan perwakilannya.
"Diem nyet! Gue gampar lo!"
"Kok gue sih?!"
Langkah Asya terhenti kala mendengar suara itu. Suara yang kini membuatnya ingin berbalik dan cepat-cepat pergi dari ruangan ini. Namun sepertinya tidak bisa ia lakukan karena diwaktu yang bersamaan acaranya sudah dimulai.
Seluruh perwakilan kelas duduk di antara bangku-bangku yang telah disediakan. Kali ini mereka akan dijelaskan mengenai acara apa saja yang akan diselenggarakan pada hari ulang tahun sekolah.
Sepertinya Dewi Keberuntungan sedang tidak berpihak pada Asya. Bagaikan tengah dipermainkan oleh takdir, di ruangan tersebut sudah tidak ada bangku kosong lagi kecuali di samping Gavin.
Iya, di samping Gavin.
Dalam hati Asya berteriak sekeras-kerasnya melihat bangku tersebut. Apa karena ia datangnya terlalu lambat? Jadinya bangku lain sudah penuh.
"Sabar Sya! Sabar! Tarik napas dalam-dalam...." Asya mencoba mengatur napasnya. Dengan penuh keyakinan yang ia tanamkan dalam hati, tangannya mulai menarik kursi di samping Gavin, kemudian mendudukinya.
Pergerakan kecil di kursi samping membuat Gavin berhasil menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat Asya kini sudah duduk manis di sampingnya. Cowok itu menelan ludahnya sendiri. Lalu berpura-pura menatap ke depan seolah disampingnya tidak ada siapa-siapa.
"Oke, selamat sore semua...." Suara Gama, si ketua OSIS menyapa seluruh orang yang ada di ruangan.
"Sore...."
"Ya, masih semangat?!"
"Masih...."
"NGGAK!!!"
Semua orang tertawa mendengar celetukan Gavin di barisan paling belakang. Begitu juga dengan Asya.
Gama tertawa di microphone, "Gavin, lo nggak semangat?!"
Gavin segera menggeleng. Memang itulah kenyataannya. Ia sama sekali tidak berminat dengan acara beginian. Kalau pun ada, ia lebih memilih menjadi penonton, bukan MC. Lagian, kenapa bukan Gama saja sih, yang ditunjuk?
"Kalo lo nggak semangat, coba nengok ke samping kanan! Ada cewek cantik yang siap jadi penyemangat lo! Eakk...."
Asya membulatkan matanya mendengar kalimat yang dilontarkan ketua OSIS tersebut. Semua orang kini menoleh ke arahnya sembari bersorak jail.
"Cie... CLBK!"
Diluar dugaan semua orang, Gavin langsung bungkam. Biasanya walaupun itu sudah menjadi mantan, Gavin akan tetap menggoda mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
GAVIN
Fiksi RemajaWAJIB FOLLOW SEBELUM MEMBACA!! CERITA INI HANYA UNTUK DIBACA, BUKAN DI-COPY PASTE, DITULIS ULANG, DIJIPLAK, ATAU BAHKAN DIBAWA KE DUNIA NYATA!! "Kita putus!" Hampir setiap hari kalimat itu dilontarkan olehnya. Ia Gavin, playboy yang satu hari bisa m...
