Setelah malam itu¿

33.4K 4.9K 1.9K
                                        


●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●

Pagi ini semuanya berjalan biasa saja. Semua orang dirumah Erlangga melakukan kewajibannya masing masing. Dan mari kita lihat gadis kecil di ujung meja makan sana.

Makan dengan damai, sejahtera dan bahagia. Hanya satu yang perlu di pertanyakan, matanya sebab dan hidungnya masih merah. Tidak perlu di jelaskan alasannya kenapa, bukannya itu sudah pasti tentang tadi malam?

Oh ya Meta lupa! Shhtttt..

Diam diam saja ya, tidak usah dibahas tentang tadi malam. Setelah kejadian dimana seharusnya Erlangga lah yang mellow malah Meta yang menangis tersedu sedu tak henti-henti, Erlan membuat kesepakatan dengan Meta. Bahwasanya semua hal yang terjadi kemarin sore sampai malam itu tidak boleh dibahas atau di cerita kan pada siapapun, Erlan dengan tegas bicara pada Meta yang saat itu masih tersedu.

"Nanti abis ini jangan ngomong ke siapa-siapa ya! Bahkan kebayangan mu sendiri. Kalo kita deal, aku bakal ngasih 0,05% saham ku untuk mu, setuju?"

"Aku maunya permen milkita, huhuhu"

"Okey, aku bakal ngasih beberapa saham milik Milkita!"

"Sama permen yupi, huhuhu"

Ya, begitulah percakapan mereka tentang kesepakatan yang tidak boleh dikatakan oleh siapapun didunia ini. Dan, pada akhirnya Meta setuju dengan sogokan permen yang dia minta. Sejujurnya awalnya tidak begitu, karena Erlan pikir yang Meta inginkan benar benar perusahaan milik Milkita dan Yupi. Lalu yaa.. Erlan salah. Karena dia terlalu menyamakan dirinya dengan gadis kecil itu, apa dia pikir Meta semata duitan seperti dirinya?!

Kita kembali kemeja makan, Meta masih makan sendirian di meja makan itu. Bahkan sosok yang semalam menunggu nya hingga berhenti menangis dan menemaninya sampai tertidur pun belum terlihat tanda tanda keberadaan nya sedari tadi.

Tunggu, itu sungguhan jika kalian bertanya apakah Erlangga sungguh menunggu Meta hingga berhenti menangis. Ya, walau dengan wajah teramat dongkol sekaligus mendumel setiap saat, dia tetap bertahan hingga air mata terakhir milik Meta turun.

Erlangga protes parah saat itu, dia terus bertanya kenapa malah Meta yang menangis dan mengeluarkan ingus sebanyak cinta kalian yang sia sia diberikan kepada orang yang tidak mencintai kembali.

Tapi kalau diingat ingat kembali, siapa yang tidak gedeg dengan peristiwa itu? Saat kau sudah ada diujung kesedihan malah tiba tiba ada sesuatu yang merubah mood untuk bersedih. Perumpamaan nya sama saja seperti saat kita sedang galau menangisi kehidupan lalu mendengarkan musik lewat YouTube tiba tiba iklan shopee COD muncul merusak semua mood untuk bergalauria. Sangat menyebalkan bukan?

Tapi kalau Meta bisa dapat kesempatan untuk menjelaskan kenapa dia menangis, mungkin Erlangga tidak akan sekesal itu.

◍••◍◍••◍◍••◍

Sekarang segelas susu di meja makan itu sudah habis, bahkan sang pemiliknya saja sudah tidak ada di ruang makan itu. Meta, dia berangkat sekolah pagi ini tanpa menyapa ria dengan sang pria lempeng.

Meta masih bertanya-tanya kenapa Erlan tidak tampak pagi ini, apa dia pergi bekerja pagi pagi buta?

Suatu hal yang tidak perlu diherankan dari pria satu itu. Berangkat pagi pagi sekali adalah salah satu sarapan pertamanya memulai hari, bahkan sekalipun perusahaan itu milik nya. Meta tidak habis pikir, Erlangga yang terlalu sering mengeluh untuk banyak hal rupanya benar-benar orang yang tidak bisa menunggu, bahkan untuk menunggu matahari menghampirinya saja dia sudah tidak sabar.

Wft! Papa?!  |ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang