43. LENTERA DAN HARAPAN 02

26.5K 4.1K 1K
                                        

"Aku akan jadi mercusuar dalam hidup mu, semuanya akan baik-baik saja.
Saat aku melihat monster dalam dirimu, aku akan menghadapi nya dengan berani,
dan mengusirnya jauh <3"
-Monster

◕◕◕◕

Jika kalian mau, kalian bisa baca ini sambil denger lagu 'Monster', lagu yang bener-bener sesuai dengan dua kehidupan manusia di cerita ini. Seolah yang bernyanyi itu adalah Gadis kecil kita dan Pria menyebalkan itu, hehhee..

Ngomong-ngomong, ayoo komen saat kalian baca ini kalian sedang ngapain?

●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●

"Jadi itu uang tabungan mu?"

Meta mengangguk.

"Aku akan menggantinya nanti, okey?"

"Tidak perlu di ganti juga tidak masalah, kan aku traktir hehhee~"

"Tapi tetap saja aku tidak bisa begini, pertama kau membawa ku dengan seonggok besi rongsok itu lalu sekarang kau membawa ku ketempat dimana aku terlihat seperti orang miskin, harga dirinya ku tercabik-cabik, kau tau?!"

Gadis kecil itu malah tertawa kecil, padahal disini Erlangga benar-benar sedang kesal.

"Maaf maaf~ Lain kali kita gantian, okey. Papa yang ajak aku pergi jalan-jalan hehhee~" bujuk Meta sambil menepuk-nepuk pelan telapak tangan Erlan.

Erlan melirik sebal. Tapi mau bagaimana lagi, bocah ini malah lebih siap dari yang Erlan rencanakan. Dia bahkan membawa cukup banyak uang yang dia bilang bahwa itu hasil tabungannya berjualan coklat dan dari uang saku sekolahnya.

"Lalu setelah ini apa yang akan kita lakukan?" Tanya Erlan agak sewot.

Gadis kec itu malah tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.

"Eee.. aku pikir, mungkin kita terlalu cepat datang hehe.." jawabnya cengengesan.

Erlangga melebarkan matanya tidak percaya, dia sudah susah payah berdiri selama berjam-jam di besi rongsok itu, lalu pada akhirnya apa yang dimaksud bocah satu ini tidak ada!

Jujur, Erlangga ingin mengumpat sekarang.

Tapi dia tidak bisa melalukan itu disini, Erlan akhirnya hanya bisa menghela napas panjang sambil menarik senyum sangat sangat terpaksa.

"Lalu.. apa kita akan pulang sekarang, hm?" Erlangga bertanya penuh tekanan, senyumnya terlihat seperti seorang psikopat yang ingin meremas anak itik yang menggemaskan.

Meta melihat Erlan selama beberapa detik.

"Tentu saja tidak! Ayo kita mainkan semua wahana disini hahhaha~"

Erlangga tersentak, gadis kecil itu menariknya pergi dari tempatnya secara tiba-tiba. Untungnya, dia masih sempat mengambil es kelapanya yang belum habis.

Tunggu, apa?!

Tenggorokan nya masih kering karena marah-marah, bukan karena es kelapa ini di beli dari uang Meta yang tidak seberapa itu, cih.

•• • •• • ••

"Aku gagal lagi! Ini sudah ke dua kalinya, huh!" Meta berseru sebal.

"Kau payah sekali, bocah. Kau hanya perlu melempar bola ke bebek mungil itu." Erlangga berkecak pinggang, dia kesal karena bocah ini bermain sangat buruk.

Wft! Papa?!  |ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang