67. MENJEMPUT MU

6.7K 992 691
                                        

Yo! Warga bumi! Apa kalian semua??

Ayoo absen disinii!!
Kasih ranting 1/10 seberapaaa nunggu chapter ini??

Ayoo kirim emot yang cocok untuk malam ini! Yanggg banyakk yaa~

••

HAPPY READING!👽

●⁠ᴥ⁠●●⁠ᴥ⁠●●⁠ᴥ⁠●

Sudah enam jam lebih Meta berjalan tak tau arah, kalau dihitung sejak dia melarikan diri sekitar pukul 9 tadi, maka perkiraan sekarang adalah jam 3 sore. Selama itu, Meta sesekali berhenti untuk mengistirahatkan kakinya yang terkilir.

Gadis kecil itu masih memikirkan Hubi, apakah dia baik atau tidak. Tapi yang lebih penting sekarang, dia harus bertahan. Pengorbanan Hubi tak boleh sia-sia!

Dibalik itu semua, Meta sungguh bersyukur Juna membawakan ransel ini untuknya, isinya benar-benar lengkap. Ada kotak obat kecil, senter, korek api, pisau lipat, jaket, 5 sandwich, dan 3 botol minum ukuran sedang dan beberapa barang kecil lainnya. Dia benar-benar terbantu dengan semua yang di berikan Juna. Meta sudah bertekad, saat dia keluar dari sini, suatu saat nanti dia akan memberikan bunga untuk bentuk terimakasih. Memikirkan itu membuat Meta terkekeh senang.

Langkah Meta terhenti, dia tiba-tiba mendengar suara tembakan lagi. Gadis kecil itu cepat-cepat bersembunyi di balik pohon besar di dekatnya. Dirasa sudah cukup aman, Meta keluar dari persembunyian, kembali berjalan untuk menemukan jalan keluar dari hutan ini.

Dan betapa terkejutnya Meta saat melihat seorang pria terkapar tak berdaya dengan kaki yang tertembak. Meta menghampiri pria itu, dia masih hidup! Tubuhnya masih bergerak walau sangat lemah.

Meta sangat panik. Dia buru-buru mengambil sapu tangan yang tadi dia lihat ada di ranselnya, mengikatkan sapu tangan itu ke kaki pria itu dengan sekencang yang dia bisa, berharap ini bisa mengurangi pendarahannya.

Meta mengeluarkan kotak obat yang ada di ranselnya, mencari-cari sesuatu yang kira-kira bisa dia gunakan untuk mengobati pria ini. Minta terlihat begitu sangat khawatir, wajah pria ini perlahan-lahan semakin pucat. Minta ketakutan, dia takut pria ini mati.

[Cek-cek! Monitor! Apa kau bisa mendengar ku?! Jawab aku!]

Meta yang sedang mencari obat tersentak mendengar suara dari dada pria ini. Rupanya itu walkie talkie. Meta mendekati arah suaranya, suara yang begitu tak asing di telinganya.

Meta mengambil walkie talkie itu.

"Papa...?"

Dia bertanya dengan sangat ragu, berhati-hati takut dia salah mendengar.

Suara di ujung sana terdiam, tak ada jawaban selama beberapa detik.

"Apa kau papa ku?" Meta bertanya sekali lagi.

[BOCAH?!!!! ITU KAU?!!]

Suara di ujung sana berteriak dengan kencang. Ya, dia pria itu, Erlangga Dirgantara.

[JAWAB AKU!! META??!! INI PAPA MU! ERLANGGA DISINI! JAWAB AKU!!]

Meta terdiam selama beberapa detik, dia mencoba untuk mencerna apa yang terjadi. Ini Erlangga, pria yang dia panggil papa itu ada di sini. Dia orang yang menyuruhnya untuk pergi setahun yang lalu. Bagaimana dia sekarang bisa ada di sini? Bagaimana Erlangga bisa ada di sini?

Apa dia datang untuk menjemput ku?

Apa seseorang yang dikatakan Juna itu adalah dia?

Erlangga sungguh datang menjemputnya. Sungguh, itu papanya.

Wft! Papa?!  |ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang