●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●
"Tenang saja Bu, aku akan tetap menyayangi mu sebenci apapun dirimu pada ku hehe~"
Meta tertawa kecil, pernyataannya seolah tidak ada gunanya. Bicara dengan angin lalu, seolah itu sosok yang selalu ia rindukan keberadaan nya.
Ia masih di posisinya, hujan masih sama lebat nya dan harapannya masih sama mutlaknya. Dia benar benar benci saat saat hujan turun begini, seolah hawa dingin dan kelamnya membuat Meta harus teringat hal menyakitkan yang sampai sekarang dia tidak bisa ingat apa itu. Hujan yang tak kian mereda ini lama kelamaan membuat hati Meta itu agak gusar.
Meta semakin mengeratkan tubuhnya dengan kakinya, setidaknya itu membuat Meta sedikit hangat untuk beberapa waktu. Matanya yang memejam erat mencoba untuk untuk menenangkan hatinya yang gusar, Meta menelan ludahnya jengah dia berfikir mungkin bernyanyi akan menghilangkan sedikit rasa gusarnya.
Meta dengan pelan dan lembut.
"Tik.. tik.. tik.., bunyi hujan diatas-"
"KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA?!"
Meta sedikit tersentak, suara itu muncul tiba tiba di kepalanya dengan keras. Badan Meta bergetar, dia menarik napas lagi, mencoba untuk tidak menggubris suara itu.
"..diatas genting.., Airnya turun tidak terkira..,"
"ANAK SIALAN SEPERTI MU SEHARUSNYA TIDAK PERNAH ADA!"
Suara Meta mulai bergetar, dia menutup telinganya rapat rapat.
"Co-balah tengok.., dahan dan ranting..,"
"DASAR, ANAK IBLIS SIALAN. KAU YANG MEMBUAT IBU MU ITU BUNUH DIRI!"
"KAU SAMPAH SIALAN TIDAK TAU DIRI! KAU TIDAK SEHARUSNYA LAHIR DI DUNIA, JADI MATI SAJA!"
"MENJAUH LAH DARI KAMI, KAU MEMBAWA MALAPETAKA!"
"Pohon dan kebun..,"
"HIDUPLAH SENDIRIAN SAMPAI KAU MATI, KARENA MEMANG SEHARUSNYA HIDUPMU SEPERTI ITU!"
"AKU TIDAK MEMERLUKAN ANAK SEPERTI DIRIMU DI HIDUPKU, JADI ENYAH LAH!"
"..Basah se..mu..a~"
Meta menghela napas berat, matanya masih terpejam rapat.
"Aku bisa mengigat mereka, tapi aku masih tidak bisa mengigat apa yang terjadi pada mu.., Bu"
"Hei!"
Sebuah tepukan kecil terasa di pundak Meta yang basah. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya cepat, dia tersenyum lebar. Penantiannya telah usai, dia benar benar tidak salah sudah menunggu Erlangga di sini sendirian.
Tiba-tiba senyum Meta yang lebar mulai menyusut, ia agak terbelangak kaget.
"Pa-PAMAN?!"
●●●●●●
Desiran air tak kunjung berhenti, di dalam ruangan dengan gaya klasik seorang pria menatap kaca besar yang ada dibelakang meja kerjanya.
Pria itu menghisap sebatang nikotin yang ada di jarinya, lalu menghembuskan kempulan asap dari mulutnya. Pandangan dinginnya tak teralih dari kaca besar yang sudah basah dengan air hujan yang tak kunjung berhenti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wft! Papa?! |END
Novela Juvenil[TERBIT] "Bagaimana bisa pria iblis itu mengadopsi seorang putri?!" Begitulah Dunia mengatakan tentang keputusan gila seorang pria yang sangat berpengaruh didunia. Erlangga Saputra Dirgantara seorang pria kaya dan tampan tetapi memiliki sifat yang s...
