"Badai, Tuan. Telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?"
-Sampai Jadi Debu
[Sampai Jadi Debu, adalah lagu terbaik untuk di dengar saat membaca chapter ini!~]
•••
Hellooo semuanya! Absen disini yaa!!
●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●
Meta, menatap pantulan dirinya di sebuah kolam air mancur didepan tempat penjemputan sekolahnya.
Sekolah hari ini selesai, semua berjalan dengan semestinya, seolah melupakan apa yang akan terjadi setelah hari ini.
Meta terdiam sejenak, sekelebat ingatan masa lalu melintas, melihat seorang wanita yang berdiri di balkon rumah saat matahari hampir tenggelam, wanita itu memegang erat setangkai bunga mawar yang telah mati cukup lama. Dia hanya diam, menatap jauh ke langit yang mulai berganti malam. Meninggalkan kebingungan pada seorang gadis kecil yang menatap punggung yang terasa hampa itu.
Siapa yang selalu ibu tunggu dengan membawa mawar mati itu?
Meta berkedip cepat, membawanya melupakan ingatkan kecil itu.
Meta masih terdiam, wajahnya datar dan dingin seolah seseorang dibalik pantulan air kolam itu adalah seseorang yang berbeda. Mengigat perihal tadi pagi, tentang seseorang yang dikatakan oleh Erlan bahwa dia adalah ayahnya. Ayah yang pernah meninggalkannya.
Dibalik pintu besar itu, Meta mendengar semuanya. Jantungnya berdetak sangat kencang dan matanya terbelalak kaget mendengar apa yang dia dengar. Sebuah kebenaran bahwa ayahnya kembali, dan pria itu, sang paman baik hatinya, rupanya Ayahnya.
Seolah sehabis dihujam batu besar di kepalanya, Meta, masih tidak tau harus berbuat seperti apa.
Yang dia bingung sekarang adalah bahwa dia akan pergi. Meninggalkan rumah itu, dan sang pemilik, Erlangga.
Anehnya, Meta lagi-lagi tidak tau harus berbuat apa. Rasa bingung menguasai hampir seluruh tubuhnya dan sisanya hanya perasaan... hampa.
Meta menyentuh air di kolam itu, membuat pantulan dirinya berantakan.
Aku.. ditinggalkan lagi ya?
Dia bertanya dengan wajah datar. Tak ada ekspresi apapun disana, karena untuk Meta, ditinggalkan sendirian bukanlah sesuatu yang asing untuknya.
Tapi kali ini, dia benar-benar masih ingin disini. Dirumah ini. Dengan papanya, Erlangga.
Meta mengelap sisa air di tangan menggunakan roknya. Melangkahkan kakinya tanpa ragu meninggalkan kolam itu.
•••••
Suara langkah kaki tergopoh-gopoh dan napas ngos-ngosan terdengar dari sudut telinga Meta. Gadis itu menatap kearah suara itu, seorang pria yang masih menggunakan jas kantor berwarna biru dongker dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan di tangan membawa kantung plastik berlari kecil menghampiri Meta.
Pria itu membuang napas lelah saat sampai di samping Meta. Dia tersenyum lebar hingga matanya pun ikut tersenyum, saling beradu mata dengan netra coklat Meta yang menatap nya diam.
"Hahh-Aku terlambat.." ujarnya masih sedikit ngos-ngosan.
Gadis kecil itu tak menjawab, dia mengalihkan pandangannya ke depan, duduk tenang dengan kaki menggantungnya dia ayunkan.
"Kenapa baru datang?" Tanya Meta tanpa menatap.
Pria itu sedikit tersentak pertanya tiba-tiba dari gadis kecil itu.
"Ahh, aku minta maaf ya.. kau marah sekali? Ini lihat, aku membawakan es krim kesukaan mu lho~" Pria itu menunjukan kantong plastik berisi banyak Es Krim berbagai rasa didalamnya, mencoba membujuk gadis kecil itu karena keterlambatan yang dia buat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wft! Papa?! |END
Teen Fiction[TERBIT] "Bagaimana bisa pria iblis itu mengadopsi seorang putri?!" Begitulah Dunia mengatakan tentang keputusan gila seorang pria yang sangat berpengaruh didunia. Erlangga Saputra Dirgantara seorang pria kaya dan tampan tetapi memiliki sifat yang s...
