Mobil hitam mengkilat berhenti didepan gerbang besar. Seseorang didalam mobil itu membuka kacanya perlahan lalu dapat terlihat beberapa para penjaga gerbang terkejut saat melihatnya, lalu sedetik kemudian dengan sigap mereka langsung membuka gerbang besar itu.
Dengan dibukanya gerbang itu terlihatnya jalanan aspal panjang dengan dikelilingi pohon lebat disekitarnya.
Mobil itu dengan santai berjalan mengikuti jalan aspal yang ada, beberapa kali sosok anak kecil yang ada didalamnya menengok keluar untuk memastikan kalau ini benar rumah atau sebuah perjalanan safari.
"Katanya mau kerumah seseorang? Bener nih? Kok kaya mau ke hutan si?" Tanya Meta sambil melihat sekitar, sedangkan yang ditanya hanya diam fokus berkendara.
Gadis kecil itu melirik sinis pada orang disampingnya, semua pertanyaannya disepanjang perjalanan hanya di jawab dengan deheman atau yang lebih parah tidak dijawab sama sekali.
Okey lupakan tentang itu, mari kita liat tempat yang katanya akan menuju rumah seseorang. Kalau diperhatikan, Meta tidak salah pernah menafsirkan kalau mereka akan bersafari.
Pasalnya bahkan hampir lima menit mereka berkendara di jalanan penuh pohon ini, sesuatu yang di sebut rumah belum ada tanda tanda keberadaan nya sampai sekarang. Hanya ada jalanan dengan pohon dan taman lalu beberapa kandang hewan dikiranya.
Kalaupun memang ada rumah disini, itu rumah siapa? Wahh Meta berfikir jika memang benar ada rumah dengan perjalanan ingin ke terasnya saja membutuhkan waktu lama begini, pasti itu adalah seseorang penting yang sangat kaya raya.
Meta bertanya tanya, setelah melewati masa masa sulit sendirian dalam kemiskinan, kenapa sekarang ia malah dikelilingi orang orang yang sangat kaya begini? Sejujurnya ini sedikit membuat Meta takut.
Setelah perjalanan sekitar sepuluh menit, Meta dapat melihat rumah itu. Dugaan dia benar rumah ini pasti milik seseorang kaya raya yang kerjaanya bukan hanya rebahan dan bermimpi aja seperti yang sedang membaca.
Bahkan Rumah ini tiga kali lebih besar dari rumah milik Erlan. Yang kalau dilihat dari mata seorang gadis dari kota kecil, rumah Erlan saja sudah cukup membuat lelah kalau ingin berlari kesana kemari dan tertawa.
"Wahhh!!"
Untuk kesekian kalinya ia terpaku pada sebuah rumah yang tidak pernah ia lihat dalam hidupnya. Rumah dengan gaya Eropa yang di cat putih dengan perpaduan warna emas itu sukses membuat gadis kecil itu mengeluarkan gliter dari matanya, bahkan untuk beberapa menit ia lupa caranya untuk berkedip dan menutup mulut menganganya.
Erlan memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah itu, lalu segerombolan orang datang dengan pakaian seragam dan berbaris dengan sangat rapi. Meta tersenyum lebar, ia merasa seperti seorang Putri dari kerajaan sekarang.
●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●
Pikiran Erlan sedang sangat kusam sekarang. Ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa malah mengajak anak kecil ini ikut bersamanya kedalam rumah iblis itu.
Erlan bahkan tanpa sadar mengikuti maksud terselubung dari kakek tua itu karna ia merasa sangat emosi tadi.
Saat baru melihat gerbang rumah itu, ingin sekali rasanya Erlan meludahi tempat itu. Ya, gerbang besar yang memiliki patung sebuah dewa dengan sayap disisinya. Itu memang terlihat megah dan indah tapi bagaimanapun juga semua mimpi buruknya dimulai dari gerbang ini, lalu diakhiri dengan gerbang ini juga.
Erlan menghela napas disepanjang perjalan masuk kerumah itu. Rumah yang sangat merepotkan, dari dulu tidak pernah berubah. Erlan tidak habis pikir bagaimana bisa pria tua itu membuat sebuah rumah ditengah tengah kebun yang luasnya lebih dari sehektar. Apa dia ingin mati konyol diantara para pohon? Cih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wft! Papa?! |END
Novela Juvenil[TERBIT] "Bagaimana bisa pria iblis itu mengadopsi seorang putri?!" Begitulah Dunia mengatakan tentang keputusan gila seorang pria yang sangat berpengaruh didunia. Erlangga Saputra Dirgantara seorang pria kaya dan tampan tetapi memiliki sifat yang s...
