AYOO! KOMEN PERASAAAN KALIAAN DI CHAPTER INI!
●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●
Sepuluh tahun telah berlalu.
Seorang pria berusia 41 tahun yang masih sehat bugar dengan wajah dewasa yang semakin tampan baru saja datang dari joging sore yang sekarang menjadi rutinitas nya setelah masuk menjadi om-om bergelar kepala empat.
Om-om itu, Erlangga Dirgantara.
Setelah belasan tahun berlalu, Erlangga menjadi... tidak menjadi apa-apa, dia masih begitu-begitu saja.
Sejujurnya tak banyak yang berubah dari pria itu selain sekarang lebih banyak meluangkan waktu untuk olahraga. Erlangga masih sama, masih jadi pria lempeng yang doyan marah. Dia tak pernah merubah sifat narsistik dan emosi meledak-ledaknya itu, sepertinya itu memang sudah bawaan pabrik.
Melisa datang mengambil handuk yang Erlangga bawa dan memberikan minuman protein setelah joging selama beberapa jam. Melisa juga tak banyak berubah, dia masih wanita lemah lembut yang bekerja dengan baik sebagai kepala pelayan rumah. Mungkin bedanya, dia sudah menikah lima tahun lalu dan sudah memiliki satu anak masih balita, dan kau tau siapa ayahnya? Dia Miky. Ah Erlangga tak terlalu kaget jika Miky menikahi Melisa pada akhirnya, mengigat bagaimana hal yang di lakukan Miky hanya bekerja, bekerja, dan bekerja dengan Erlangga yang membuat sakit kepala. Pria itu tak sadar diri, memangnya siapa yang membuat Miky harus luntang-lantung hingga tak ada waktu untuk kehidupannya sendiri? Tentu saja itu karena si Erlangga penggila kerja itu membuatnya seperti bekerja rodi.
Tapi jujur saja, bagi Erlangga mereka terlihat serasi, ya walau sedikit memuakkan saat melihat dua orang ini tak tau tempat untuk bermesraan, melupakan manusia jomblo akut yang masih memilih untuk melajang. Kata Erlangga, dia pria mahal, oleh karenanya belum ada wanita yang mampu membeli barang kelas atas sepertinya.
Kalo kata Meta, sekarang slogan Erlangga adalah; "Pria mahal nih bos, senggol dong."
Erlangga kesal sekali kalau Meta sudah meledeknya seperti itu.
Ngomong-ngomong soal anak itu, dimana dia? Rumah ini terlalu damai. Jika rumah dalam keadaan damai sentosa sekarang, itu artinya ada hal tidak beres yang anak itu sedang lakukan. Erlangga merasa curiga, jangan-jangan dia sedang membuat cookies rasa kentut lagi seperti minggu kemarin. Ugh, Erlan bahkan hanya memakannya sebesar upil, dan dia harus di bawa ke UGD setelah itu karena diare parah. Entah apa sebenarnya yang dimasukkan anak itu kedalam sana.
Sekarang dia bertanya-tanya kemana keberadaan bocah yang selalu menyambut nya dengan heboh itu.
"Di mana bocah it-" sudut mata Erlan melihat sesuatu berjalan cepat. Dia reflek menengok, mengernyitkan dahinya mendekati sesuatu yang dia lihat tadi.
Ketika dia menunduk di bawah meja, matanya mendelik lebar. "SIAPA YANG MEMBAWA MASUK HEWAN LIAR LAGI KE DALAM RUMAH KU?!!!!!"
Suara langkah kaki heboh yang berlari dari atas terdengar. Menampilkan wujud manusia yang membuat cookies rasa kentut, dia Meta.
Gadis kecil itu telah tumbuh menjadi remaja dewasa berusia 17 tahun. Dengan rambut panjang bergelombang sepunggung dia urai jatuh, dia kini sudah semakin tinggi tapi tidak terlalu tinggi, hanya setinggi pundak Erlangga saja, masih terlihat mungil dengan tubuh kecilnya. Tapi jujur saja, tingkah laku abnormal yang di miliki gadis ini sedari kecil tak berubah hingga sebesar sekarang. Dia masih Meta menyebalkan yang banyak bicara dan ada saja tingkahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wft! Papa?! |END
Teen Fiction[TERBIT] "Bagaimana bisa pria iblis itu mengadopsi seorang putri?!" Begitulah Dunia mengatakan tentang keputusan gila seorang pria yang sangat berpengaruh didunia. Erlangga Saputra Dirgantara seorang pria kaya dan tampan tetapi memiliki sifat yang s...
