47. SEBUAH TRAUMA YANG TIDAK BISA DI INGAT

21.1K 3.2K 420
                                        

"Meski sejuta senja,
Ku merindukan bayanganmu."
-Rela

Ayo!! Absen disini!!
Jam berapa pas baca ini?

●ᴥ●●ᴥ●●ᴥ●

"Yo! Pagi hehhehe~"

Erlangga terteguh beberapa detik di ambang pintu, bibir nya tertarik, tersenyum simpul seolah mengisyaratkan rasa lega di dirinya.

Dia lalu berjalan menuju ranjang, dimana seorang bocah kecil dengan wajah pucat tersenyum lebar hingga gusinya terlihat, dia dengan heboh melambaikan tangan kearah nya.

Bocah itu, Meta.

Terhitung dua hari sudah Meta ada di rumah sakit, dan lihatlah betapa bersemangatnya dia setelah tertidur pulas seharian full sejak kemarin.

Dia bahkan tidak terlihat seperti seorang bocah yang hampir mati kehabisan darah karena mimisan yang tak kunjung berhenti.

Erlangga lega sekaligus bingung, lega karena bocah itu sudah terlihat seperti dirinya biasanya dan bingung karena setelah kejadian itu dia tetap masih seperti dirinya, energik penuh kebahagiaan.

Bukankah, seheboh apapun dia, seharusnya gadis kecil itu akan menjadi lebih pendiam dari biasanya setelah dia mengalami tragedi menangis dan berteriak ketakutan semalaman penuh tanpa henti. Sungguh, Erlangga tidak mengerti.

"Sudah lebih baik?" Erlan bertanya sesaat dia duduk di tepi ranjang.

"E'em!" Meta mengangguk yakin. "Aku sudah baik hehhe~"

Erlan mengangguk, setelahnya matanya melirik semangkok nasi bubur di meja nakas yang terlihat tidak tersentuh sedikit pun.

"Kau tidak memakan sarapan mu?" Erlan bertanya dengan wajah penuh kebingungan.

Meta terdiam, dia menggigit bibir bawahnya pelan sambil menengok ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang di sini selain mereka.

Meta mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh Erlan mendekat, dan pria itu dengan agak ragu-ragu memberikan telinganya mendekat kearah Meta.

"Sejujurnya bubur disini tid-kurang-kurang cukup enak. Rasanya seperti memakan muntahan cacing besar Alaska, aku tidak suka." Meta berbisik, dia bicara dengan mata menyala-nyala.

"Jangan beri tahu siapapun ya~ Buburnya memang tid-kurang enak. Jangan beri tahu siapapun kumohon~" Meta berbisik sambil memohon, mengatupkan kedua tangan mungilnya.

Erlangga menghela napas tidak percaya,
"Memangnya kau pernah memakan muntahan cacing besar Alaska, huh?! Bagaimana bisa kau memberi perumpamaan seperti itu?!"

"Aku memang tidak pernah makan, tapi kalau muntahan itu benar-benar ada pasti rasanya sama seperti ini, aku yakin dua ratus persen!"

"Ya terserah lah," pasrah Erlan. "Tapi kau tetap harus makan ini. Buka mulut aaa.." Erlan yang mengambil mangkuk itu langsung memberikan sendok berisi penuh bubur itu.

Meta awalnya menolak dengan menutup rapat bibirnya dengan telapak tangan nya.

Erlangga menghela napas kecil.
"Makanlah sedikit saja untuk mengisi perut, lain kali aku kan menyuruh chef di rumah untuk membuatkan mu masakan lain. Jadi makan ini dulu, cepat!"

Wft! Papa?!  |ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang