Sasaran Degem

17K 1.2K 25
                                        

Gena Pramudya

"Huh, capek bat gue. Asli dah".

Gue mendudukkan diri bergabung dengan teman teman dan adik ipar sableng gue dikantin.

"Gimana?".

"Revisi revisi revisi". Gue menunjuk satu satu teman teman gue dan tertawa lepas bersama mereka.

Kalau kata Bang Satria, tertawa lepas itu bisa ngelepasin beban juga. NYATANYA ENGGA. Beban kuliah masih numpukkkk.

"Punya suami Dospem gak dimanfaatin sih lo mbak". Ujar tiara.

"Eiittsss, gak mau gue. Kurang puas kalau nggak hasil pikiran gue sendiri".

"Bersih amat kertas lo, liat punya gue dah. Udah macem coretan anak TK". Timpal Reyhan sambil membolak balik kertas gue.

Gue tertawa melihat kertas reyhan yang banyak coretan merah dari Dosen.

"Ikut gak lo? Mau ke mak jum gue sama sasa". Tanya Juan.

"Ngikut lah". Timpal Septa dan reyhan.

"Lo Gen?".

"Gue ijin dulu sama pak suami".

Semenjak menikah gue kalau mau kemana mana sama para dugong selalunya harus laporan dulu sama Pak Suami.

"Busetttt, laki lo udah kayak ternak MABA betina gitu Gen".

Gue menoleh kearah yang dimaksud Septa.

"Pak Gio, udah makan belum? Makan bareng kita kita yuk".

"Lain kali aja ya, saya ada janji".

"Yahhh kecewa dong kita pak".

Idiiwww, gue yang bininya aja jyjyk borr liatnya.

Gio udah tua woiii, buat apa dipepet sih.

Apa tadi? Lain kali?

"Kalo gue liat juan begitu, udah gue sunat dua kali burungnya". Gue terkekeh geli mendengar penuturan Sasa.

"Sadis amat Yang". Sahut Juan.

Tepat saat papasan dengan Mas Gio, gue mengangguk dan memberi senyum dengan tatapan horor.

Dia mendadak gelagapan dan mencekal tangan gue saat papasan dengannya.

"Gena, kita ada janji makan bareng ya kan?".

"Lah mbak, kita duluan yang ngajakin Pak Gio". Sahut adik tingkat gue itu.

Gue mati matian menahan tawa karena ekspresi Mas Gio.

Lo bisa Gen, Lo bisa. Kita beri pelajaran pada Bapak Dosen satu ini.

"Kita duluan aja Gen, lo urus sendiri deh". Pamit Juan sambil terkekeh.

"Iya kan Gen? Ya udah ayo pake mobil saya aja. Saya duluan ya". Ucap Mas Gio buru buru dan menyeret gue menjauh dari calon calon Degem caper itu.

"Gausah tarik tarik pak, bisa jalan sendiri". Protesku.

Cekalan tangan Mas Gio terlepas dan ia berbalik menghadap ke gue.

"Ma-".

Gue melewatinya cuek dan berjalan ke arah mobilnya.

"Yehhh... Belom juga selesai ngomong". Protesnya.

Bum..

"Buset, kekerasan anjir".

Gue mengusap pintu mobil yang baru saja gue banting.

Mas Gio menyusul gue masuk ke mobil namun tetap gue diemin.

Hot Relationship  "After Marriage" Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang