Author
Nampak Gena berdecak kesal melihat laki laki yang kini asik bermain dengan putri mereka.
Ia berdiri dari duduknya berniat untuk kedapur mengambil minum.
"Mau kemana?" Belum sampai dia melangkahkan kakinya, suara Gio sudah menghentikannya.
"Ambil minum," sahutnya.
"Udah kamu duduk aja, biar saya yang ambilkan."
"Bentar ya, Papa ambilin minum buat Mama," pamitnya pada Dinda kecil.
Lagi lagi Gena berdecak kesal. Sejak pertama kali Gio mengetahui bahwa dia hamil lagi, dirinya seperti dipenjara. Tak bisa berbuat apa apa.
"Nih," Gio menyerahkan segelas Air putih pada Gena, lalu diteguknya habis.
Gio memilih mendudukkan diri disamping Gena sembari mengamati Dinda yang asik bermain.
"Ihhhh..."
Gio menoleh saat Gena merengek kesal.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Bosen tau," sahut Gena kesal.
"Bosen kenapa?" Tanya Gio, ia mengubah arah duduknya dan menghadap ke Gena.
"Dari tadi gak boleh ngapa ngapain, ambil minum aja gak boleh. Gerak dikit gak boleh," sahutnya kesal.
Gio menghela nafas pelan
"Saya itu gak mau kamu kenapa kenapa, kamu itu lagi hamil muda. Masih rentan."
"Tapi ya gak gitu jugaaaaaa... Apa apa 'jangan' apa apa 'jangan', bosen tau Mas. Aku juga bisa jaga diri dan jaga kandungan. Aku kan udah pernah hamil," sahut Gena.
"Saya yang takut!" Tegas Gio.
Gena mencebik malas. Jika dicerita cerita yang pernah ia baca, seseorang akan bahagia ketika suaminya posesif dengan kehamilan istrinya.
TAPI INI KEBANGETAN WOIII. Kurang lebih begitu jeritan hati Gena.
"Papa... Nantuk," Gio menoleh dan tersenyum hangat sembari mendekati Dinda.
"Ya udah, bobok sama Papa yuk."
Nampak mata Gena mengamati interaksi anak dan Papa itu. Gio menggendong Dinda untuk membawanya ke kamar.
Sepeninggalan Gio dan putri kecil mereka, Gena terdiam dan sambil mengusap perutnya. Sesekali ia tersenyum mengingat bagaimana posesifnya Gio.
"Sehat sehat ya nak didalam. Papa kamu sampai posesif banget loh karena sayang sama kamu."
Cup..
Gena terjengit kaget saat pipinya mendapat kecupan. Ia menoleh dan mendapati Gio yang sudah duduk disampingnya.
"Sayang sama Mamanya juga," sahut Gio dan berhasil membuat pipi Gena merona.
"Uhh.. anak Papa belum dicium ya," Gio menundukkan kepalanya hingga didepan perut Gena. Ia mengecup perut Gena dan membuat Gena terkekeh.
Gio mengangkat kepalanya dan menyandarkan pada punggung sofa. Ia menghela nafas dan tersenyum menoleh kearah Gena yang menyandar didadanya. Ia membelai surai indah milik istrinya itu.
"Eh iya, udah tidur Dinda?" Tanya Gena sembari mendongak.
"Udah."
"Cepet amat."
"Saya kan Papanya, jadi dia nurut."
"Lah, aku Mamanya. Tapi dia cerewet mulu kalau mau tidur, suka nanya ini itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hot Relationship "After Marriage"
Teen FictionFOLLOW GUE DULU WOIIII!!!! * * * DISARANKAN UNTUK MEMBACA "HOT RELATIONSHIP" YANG PERTAMA DULU YA GUYS, SUPAYA VIBES NYA DAPET❤️ *** Menjalani hidup bersama Gio seakan membawa semerbak kebahagiaan untuk Gena. Namun, setelah satu tahun lebih menikah...
