Author
Di lain sisi, disalah satu Mall dikota itu ada sepasang kekasih yang berdebat kecil tentang memilih pakaian.
"Udah ke 5 kalinya kita muter, dan kita balik ke sini lagi."
Sang perempuan menoleh dan nyengir ke arah prianya.
"Yaelah Sep, namanya juga gak ada yang cocok. Tapi ini kayaknya bagus deh," sahut Tasya.
"Kenapa gak dari tadi diambil aja sih, pake muter muter dulu."
"Ya kan siapa tau ada yang lebih bagus."
Septa mencebik kesal, bukan kesal karena tidak mau membelikan kekasihnya pakaian. Tapi kesal karena ia lelah telah mengelilingi Mall ini.
Ia bersandar pada tembok sambil memegangi belanjaan kekasihnya itu. Kakinya terasa pegal dan badannya gerah karena selesai bekerja ia langsung membawa kekasihnya ke Mall dengan niat untuk jalan jalan. Namun kini ia sedikit menyesal membawa kekasihnya ke Mall jika tau akan berakhir seperti ini.
"Sep... Itu bukannya suami mbak Gena."
Septa mendongak dan melihat ke arah yang ditunjuk Tasya. Ia menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas.
"Dari samping sih kayaknya iya, tapi cewek disebelahnya bukan Gena."
Dengan cepat Tasya menarik Septa membuntuti yang mereka curigai seperti Gio itu.
"Asal tarik aja lo," protes Septa.
"Kita ikutin, tertantang banget gue jadi detektif gini."
Septa mengikuti saja karena ia juga sama penasarannya. Sebenarnya dalam hatinya tidak yakin bahwa itu Gio, karena ia dari jaman kuliah sudah mengenal Gio dan melihat betapa cintanya laki laki itu terhadap sahabatnya.
"Beneran Sep, suaminya Mbak Gena," pekik lirih Tasya.
Septa yang awalnya melamun kini tersentak dan mengamati laki laki dan perempuan yang berjalan beriringan.
"Gila, beneran Pak Gio," ujar Septa setelah melihat jelas.
"Itu gandengan kan?" Tanya Tasya menoleh ke Septa.
"Saudaranya kali ya?" Gumam Septa.
"Otak lo terlalu berpositif thinking kisanak," sungut Tasya.
Mereka berdua mengamati Gio dan perempuan yang kira kira seumuran dengannya dari jarak agak dekat.
"Duhhh, jiwa jiwa Host Termehek-mehek gue meronta," ujar Tasya dan menarik tangan Septa.
"Eh mau kemana!" Tegur Septa menghentikan langkah Tasya.
"Kita pura pura aja gak sengaja ketemu, gue mau lihat langsung gimana ekspresi orang yang ketahuan selingkuh."
Septa hanya pasrah dan berjalan beriringan dengan kekasihnya. Ia bersandiwara dengan memilih milih pakaian dan sedikit demi sedikiti mendekat ke tempat Gio dan perempuan itu.
"Eh, Pak Gio?"
Gio dan perempuan disebelahnya menoleh. Sama sekali tak ada raut wajah kaget dari Gio.
"Sendiri Pak? Mbak Gena mana?" kini Tasya lah yang bertanya.
"Eh, oh Gio sama saya. Kami duluan ya," Perempuan yang tak lain adalah Ratna itu pun menyeret Gio meninggalkan Septa dan Tasya terbengong kaget. Mereka saling melempar pandang shock. Bukan Gio yang shock, tapi malah mereka yang shock.
"Ini kenapa kita yang kaget yak?"
"Nggak ada raut wajah bersalah ya?"
Mereka berdua menatap punggung dua orang tadi yang semakin lama semakin menjauh.
"Mana enteng banget ngejawabnya si perempuan tadi," gumam Septa.
"Apa kita laporin ke Mbak Gena aja ya?"
Septa menoleh dan dengan cepat menggeleng.
"Jangan, kita gak tau kan tadi itu siapanya Pak Gio. Bisa jadi keluarganya."
"Heh kecombrang, mana ada kayak gitu keluarga. Lo pikir aja deh, sedeket deketnya keluarga kalau udah sama sama dewasanya dan sama sama udah punya pasangan nggak mungkin kayak itu. Mana gelayutan kayak monyet lagi," sahut Tasya.
"Otak lo terlalu berpositif thinking," sambungnya.
"Iya sih, tapi kita kan gak ada bukti."
Tasya menepuk jidatnya merasa menyesal tak mengambil bukti dulu sebelum menghampiri Gio.
"Ya udah kita susulin mereka berdua," usul Tasya.
Akhirnya Tasya dan Septa mengikuti langkah Gio dan Ratna lagi. Mereka celingukan mencari keberadaan Gio dan akhirnya menangkap bahwa Gio sedang berada di salah satu tempat makan yang ada di Mall itu.
"Ngomongin apaan ya?" Gumam Septa.
"Greget banget dari sini gak kedengeran ngomong apaan, jadi pengen pinjem alatnya Tim Katakan Putus," sahut Tasya.
Septa hanya menggeleng pelan dengan sahutan absurd kekasihnya itu.
Sedangkan yang diintai tampak tenang tenang saja duduk disalah satu tempat makan itu.
"Gio.."
Gio mendongak kala Ratna memanggilnya. Tatapan yang hampa namun entah mengapa malah terkesan mengerikan itu ia layangkan ke Ratna.
"Thanks ya udah nemenin."
Gio hanya diam tanpa menjawab.
"Boleh minta sesuatu?" Sambung Ratna.
Gio yang hanya diam, kini menganggukkan kepala.
Pandangan Ratna ke Gio sangat serius dan tajam.
"Nurut sama aku!" Tegas Ratna.
Gio sama sekali tak melayangkan protes atau apapun.
"Ikuti apa kata aku!"
"Cuma sama aku, cuma ada aku!" Sambungnya sekali lagi.
_____________________________________
Hallo semuanya
Happy Ied Mubarak bagi yang merayakan
Mohon Maaf lahir dan Batin ya🙏
Terima kasih sudah mampir❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Hot Relationship "After Marriage"
Fiksi RemajaFOLLOW GUE DULU WOIIII!!!! * * * DISARANKAN UNTUK MEMBACA "HOT RELATIONSHIP" YANG PERTAMA DULU YA GUYS, SUPAYA VIBES NYA DAPET❤️ *** Menjalani hidup bersama Gio seakan membawa semerbak kebahagiaan untuk Gena. Namun, setelah satu tahun lebih menikah...
