Jiwa yang bersedih

4.8K 172 76
                                        

TIARA POV

Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Mas Gio di perboleh kan pulang. Ayah dan Bunda membawa Mas Gio kembali ke kampung untuk memudahkan merawatnya. Ia juga harus banyak mengonsumsi obat untuk memulihkan kesehatannya. Bukan hanya tentang kesehatan tubuhnya, tapi juga pikirannya. Dilain karena kecelakaan, menurutku banyak kejadian janggal yang tidak ada kaitannya dengan medis. Seperti Mas Gio yang sering kejang, ketakutan seperti ada ancaman juga tatapannya kosong dan beberapa kali pingsan. Aku bisa mengatakan ini tidak ada kaitan medisnya karena Dokter mengatakan Mas Gio baik baik saja, namun tidak seperti kenyataannya dirumah yang ia alami. Melihat kehidupan Mas Gio juga tidak ada yang memungkinkan untuk mendiagnosa bahwa itu tentang trauma.

Aku menghela nafas pelan, setiap melihat Mas Gio sedih rasanya. Tapi aku lebih kasian pada Mbak Gena dan juga keponakanku Dinda. Aku tidak menyangka Mas Gio bisa berbuat seperti itu. Mas Gio, orang yang ku kenal sejak dari bayi hingga saat ini tidak pernah sekalipun berbuat kasar apa lagi dengan wanita. Mas Gio mungkin hanya tegas, tapi tak sampai seperti kemarin hingga Mbak Gena jadi seperti itu. Padahal dulu ia mendapatkan Mbak Gena susah payah.

Yang lebih mengecewakan adalah Mas Gio yang selingkuh. Sungguh, jika bisa membenci mungkin Aku akan membencinya. Tapi sayang sekali, Aku tidak bisa. Aku kadang ingin berteriak didepan mukanya, mengingatkan dia bahwa masih punya adik perempuan yang sama sama perempuannya dengan Mbak Gena.

Tapi dibalik rasa marahku, Aku terkadang diam diam menangis melihat banyaknya cobaan Mas Gio yang bertubi tubi. Adakah salah Mas Gio dimasalalu sampai sampai sekarang seperti mendapat karma?.

Laki laki yang dari dulu gagah dan juga tampan yang selalu tersenyum hangat dengan keluarganya kini hanya bisa terdiam diri dikursi roda dengan tatapan kosong juga badan yang makin hari makin kurus.

Mas Gio jauh dari kata baik baik saja. Aku senang ingatannya kembali, tapi aku menjadi tambah bersedih dengan keadaannya yang sekarang. Mas Gio kehilangan pengelihatannya juga ia mengalami kelumpuhan.

"Tiara... kamu disini?"

Aku mengusap air mata dan tersenyum meski aku tau, Mas Gio tidak akan melihatnya.

"Iya, butuh sesuatu?"

"Bisa minta tolong ambilkan Mas Gio minum?"

Aku mengangguk dan mengambilkan air putih pada gelas yang berada di meja kamarnya ini.

Ia meneguknya dengan pelan. Mas Gio seperti kehilangan semangat hidup setelah kejadian itu.

"Makan ya Mas?"

"Mas Gio belum laper, Kamu udah makan emang? Makan dulu gih."

Bukannya menjawab aku malah menangis, Mas Gio bohong. Mas Gio sekarang susah makan, makan pun hanya sedikit. Ia hanya minum air putih.

"Mas Gio semangat kayak dulu ya, aku sedih lihat Mas Gio kayak gini".

"Ini tetep Mamas kamu, Mas gak pernah berubah. Hanya saja hidup Mas bukan dan tidak bisa seperti dulu lagi".

Aku kembali menangis dan memeluk lutut Mas Gio. Setiap hari dan setiap saat aku selalu menyemangati Mas Gio juga mencoba mengajak ia berbicara. Namun Mas Gio bukan Mas Gio yang dulu.

Aku tau Mas Gio kehilangan Mbak Gena juga Dinda sama seperti kehilangan hidupnya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Seribu orang pun menyemangatinya, tetap saja sumber semangatnya tetap Mbak Gena dan Dinda yang sekarang sudah tidak disampingnya lagi.

Beberapa kali juga Mas Gio seperti orang tidak waras, kadang ketakutan kadang meraung kesakitan. Beberapa kali juga sudah Ayah Bunda membawanya ke rumah sakit namun dokter bilang tidak apa apa dan bukan karena kecelakaannya juga. Aku beberapa kali seperti menaruh kecurigaan dengan apa yang Mas Gio alami, ini tidak seperti orang sakit pada umumnya. Beberapa orang juga menyarankan untuk menanyakan ke orang pintar, tapi bunda ragu karena Mas Gio tidak pernah aneh aneh selama ini. Tapi ayah sepertinya setuju dengan usulan itu, karena selama ini Ayah dan Bunda tidak tau pasti apa yang ia lakukan diluaran sana dan apa saja yang pernah terjadi sebelumnya.

Bukan hanya tentang kejadian janggal itu, setiap malam Mas Gio selalu mengigau dan memanggil manggil mbak Gena juga Dinda, sebegitu rindunya dia dan juga lontaran kata penyesalan yang tidak luput dari kalimat yang ia katakan.

Jujur aku tidak diam saja, aku beberapa kali ke rumah Mbak Gena walau harus mendapat penolakan dari Orang Tuanya terutama Bapaknya. Aku berulang kali mengirim pesan mengabarkan keadaan Mas Gio tapi tidak ada respon, jangankan respon, dilihat saja tidak.

Tapi aku sadar, aku juga tidak bisa memaksakan Mbak Gena. Bagaimanapun kondisi Mas Gio mereka tidak akan peduli. Karena jadi Mbak Gena jauh lebih sakit. Jika aku di posisi Mbak Gena pun, Aku memilih untuk tidak memiliki laki laki saja dari pada hati dan batinnya sakit.

Aku juga tidak berharap lebih pada hubungan Mas Gio dan juga Mbak Gena ini, karena bagaimana pun Mas Gio sudah keterlaluan. Kalaupun mereka berpisah, Ayah, Bunda dan Aku akan menerima itu dan tidak akan menegonya. Karena memang ini kesalahan dari pihak keluargaku. Jika mereka kembali, sepertinya itu tidak akan mungkin dan hanya akan menyakiti Mbak Gena juga Dinda.

Mungkin ini yang terbaik.
Walau harus dengan perpisahan.

___________________________

Sorry Author ga semangat selama 1tahun aowkwkwk

Sorry Author ga semangat selama 1tahun aowkwkwk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 10, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hot Relationship  "After Marriage" Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang