Manik itu

4.7K 697 80
                                        

AUTHOR

Seminggu Kemudian...

Gena termenung mengamati anaknya yang memandangi foto Gio

"Pa pa pa, ium." Ocehan Dinda yang menciumi foto Gio pada Dompet Gena yang berhasil membuat Gena menangis terdiam

Hatinya sakit melihat putrinya yang terus terusan memanggili Papanya. Sudah beberapa hari ini putrinya tak mendapat pelukan dari sang Papa seperti biasanya.

"Gena.."

Gena menoleh dan mendapati Mertuanya dan Ibunya berjalan kearahnya

"Bunda sama Ibu kamu bawain makan, kamu makan dulu. Akhir akhir ini kamu jarang makan Nak"

Bunda dan Ibunya belum pulang, masih menemaninya disini. Sedangkan Ayah mertuanya dan Bapaknya pulang tadi siang.

"Belum laper Bun." Balas Gena.

"Makan dulu Nak, jangan egois sama diri sendiri." Timpal Ibunya.

"Iya, nanti Gena makan."

Ibunya dan Ibu mertuanya duduk disebelahnya. Dinda merangkak pada Ibu Gena dan dipangkunya.

"Ehh.. Uti tadi bawain Dinda biskuit loh." Ujar Bunda Gio yang menamakan dirinya Uti pada cucunya

Gena tersenyum sekilas melihat interaksi Nenek-Cucu itu, ia merasa beruntung dikelilingi orang orang yang baik seperti mereka.

"Gena ke dalam dulu ya Bun, Buk." Pamitnya

Ia membuka sebuah pintu ruangan yang beberapa hari ini tak bisa ia tinggalkan

Seorang laki laki yang menjadi teman hidupnya beberapa tahun ini tengah tertidur damai beberapa hari ini

Flash Back

"Mas.. masih ada aku dan Dinda yang harus kamu temani. Kenapa kamu ninggalin kita."

Gena menangisi kepergian Gio sambil membisikkan kata kata itu.

Beberapa perawat masuk untuk mengurus jenazah Gio

"Saya turut berduka cita ya Bu." Ucap Dokter

Gena hanya mengangguk dengan tatapan masih menuju pada Gio, ia tak percaya jika waktunya bersama Gio hanya sesingkat ini

Para perawat yang masuk tadi mulai melepas infus yang tertancap pada punggung tangan Gio

Salah satu perawat mengernyit menatap kurva pada monitor EKG itu dan menekan nadi Gio

TUT... TUT... TUT...

Alat itu berbunyi kembali dan menampilkan kurva yang naik turun seirama dengan denyut Gio

Semua orang yang berada disitu terbelalak kaget mendengar suara putus putus dari alat itu lagi

Dokter yang berada disitu segera mengecek keadaan Gio

Gena hanya bisa menangis dan berdoa bahwa ini adalah secercah jawaban dari doa yang ia panjatkan

"Ini sebenarnya mustahil, tapi kuasa Allah lebih hebat. Pak Gio mempunyai denyut kembali." Ucap sang Dokter

Seluruh keluarga Gio yang berada diruangan itu menangis bahagia, terlebih lagi sang Bunda yang mengandung dan membesarkannya hingga kini Gio menjadi Orang Tua.

Flash Back Off

Sejak seminggu yang lalu saat Gio dinyatakan mempunyai denyut lagi pada nadinya, ia belum sadarkan diri sampai sekarang. Dokter mengatakan ia mengalami koma yang entah belum bisa diperkirakan sampai kapan.

"Mas.."

Gena mendudukkan diri pada kursi disebelah ranjang Gio. Tangannya mengusap pipi kanan Gio dengan remang.

"Lekas sadar Mas, aku dan semuanya nungguin kamu."

"Gak kangen sama anak kamu? Dia nyariin kamu mulu Mas."

Ia terus bermonolog sambil mengusap punggung tangan Suaminya

"Kamu gak kangen sama aku?"

Suara Gena goyah bersamaan dengan bulir air mata menetes pada pipinya

"Aku kangen sama kamu Mas."

"Bangun.."

"Marahin aku, aku jarang makan. Jarang tidur. Bangun Mas, marahin aku."

Ia terisak pelan menunduk pada lengan Gio

"Bangun Mas.." Lirihnya

"Mbak..."

Gena menoleh saat panggilan lirih itu muncul

Ia tersenyum kearah Dinda yang sedang digendong Tiara

"Sini Nak." Ujarnya dan mengambil alih Dinda

"Pa.. Pa.." Ucap lirih Dinda sambil memegangi tangan Gio

"Aku keluar ya Mbak." Ujar Tiara dan dianggukkan Gena

Ia tak kuasa jika harus melihat Kakak kandungnya terbaring dan Kakak iparnya yang beberapa hari ini nampak berantakan

"Papa lagi tidur Nak, suruh bangun gih." Ujar Gena sambil menahan tangis

"Apa.. angun.."

Gena mendongak menahan air mata yang akan jatuh, hatinya ikut teriris mendengar kata lirih itu dari mulut Putrinya

"Apa... angun.." Lirih Dinda sambil memenggenggam erat tangan Gio

Gena memeluk erat Dinda dan membenamkan wajahnya pada tubuh mungil Dinda yang berada dipangkuannya

"Ama.. Pa.. Pa.."

Gena masih terisak pada tubuh mungil Dinda

"Ama.. Pa Pa Pa." Ujar Dinda lagi

Gena menarik nafasnya dalam dan mendongak

DEG..

Ia terdiam kala manik mata yang beberapa hari ini tak bisa ia lihat, kini tengah menatapnya

Dadanya bergemuruh hebat saat laki laki yang berada didepannya ini menatapnya

Gena menatap laki laki itu dengan perasaan bercampur, penuh kerinduan dan juga terkejut

"Gena..?"

_____________________________________

Hallooo

Balik lagi nih gue

Pada ga rela banget si Gio gue matiin, setdahh...

Btw, Terima Kasih yang masih mampir🙏

Jangan lupa ninggalin jejakkk...

Bakal ada kejutan dan keseruan dipart selanjutnya. Pantengin teyussss

Gak jadi tawuran, Bye🙏

Hot Relationship  "After Marriage" Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang