Author
Tok.. Tok.. Tok..
Salah satu karyawati cafe milik Gena memasuki Ruangannya
"Permisi Bu Bos, ada yang nyariin. Katanya tamu spesial, Martabak sampai kalah spesial." Ucap Melati, Karyawati itu.
Bukan Karyawan-Karyawati Gena jika tidak memiliki nama spesial. Seperti Jaenudin yang menjadi Zen, Meisaroh menjadi Mei, Tari yang menjadi Tarno. Sama halnya dengan Melati, ia mendapat panggilan Kembang Kantil dari teman temannya.
"Sama aja, Kantil juga masih jenis Bunga Bunga an kayak nama lo." Begitu alasan teman teman kerjanya.
"Emang siapa?" Tanya Gena
"Harasia Katanya, Bu Bos."
Gena mengangguk
"Suruh ke Rooftop aja ya." Perintah Gena
Karyawati itu mengangguk dan keluar
Gena menepuk nepuk pantat Dinda yang sedang tertidur pulas. Dengan gerakan pelan tak ingin mengganggu Putri kecilnya tidur ia berjalan keluar dari ruangan itu
Ia mengernyit saat ada dua orang, pria dan wanita yang sedang duduk.
Ia mendekati dua orang itu, dan memutar mata malas ketika tau siapa yang mengunjunginya
PLAKK...
"ADUHHH!!" Pekik laki laki itu
"Gue kira siapa anjir yang nyariin, taunya lo."
Septa terkekeh mendengar itu
Ya, Septa yang mengunjungi Gena. Dan juga ia membawa Tasya.
Semenjak kejadian ia mengantar pulang Tasya, ia menjadi sering modus main catur dengan Ayah Tasya dan berakhir dirinya dan Tasya menjadi lebih dekat.
"Wihhh, bawa siapa nih." Ujar Gena, ia mengulurkan tangan pada Tasya dan langsung disambut ramah oleh Tasya
"Tasya, Mbak."
"Gena."
"Gak usah pake embel embel Mbak, dia mah gak usah disopanin." Sahut Septa
Jarak umur Septa dan Tasya terpaut 4 tahun, sedangkan Gena sepantaran dengan Septa oleh karena itu Tasya memanggil Gena dengan sebutan "Mbak".
"Ngatur lo." Timpal Gena
"Dari mana aja nih?" Sambungnya
"Gak ada, sengaja kesini." Sahut Septa
"Ohhh... Ceritanya lo mau pamer gebetan tohhh.."
Septa terkekeh sambil menggaruk tengkuknya
"Kok peka banget sih looo bestieee." Sahutnya
"Bu Bos.. Bu Bos.. Bos kecilnya kebangun."
Mei tergopoh gopoh menggendong Dinda yang menangis
"Aduh Aduh anak Mama kenapa nangis, Nak?"
Gena mengambil alih Dinda dan menggendongnya, berusaha menenangkan tangisnya
"Cup.. Cup.. Cup.. udah udah, kan udah sama Mama."
Gena mengusap air mata yang membasahi mata dan pipi Putri kecilnya itu, pemandangan itu tak luput dari Septa dan Tasya
"Nihh.. liat, tata cara nenangin bocil nangis. Biar lo berdua punya bekal buat nikah nanti."
"Yehh.. ntar juga bisa sendiri." Timpal Septa
"Wiisssss, jangan anggap enteng bro. Nih ya, ntar lo susah tidur. Nangisnya tengah malem. Itu waktu masih kecil, pas udah umur segini pengawasan semakin ketat karena udah mulai aktif bergerak. Tuh diinget, jadi orang tua gak segampang yang lo kira Sep Asep. Ini gue yang masih punya anak bocil aja capek, ntar makin gede makin gede makin berat penjagaannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hot Relationship "After Marriage"
Teen FictionFOLLOW GUE DULU WOIIII!!!! * * * DISARANKAN UNTUK MEMBACA "HOT RELATIONSHIP" YANG PERTAMA DULU YA GUYS, SUPAYA VIBES NYA DAPET❤️ *** Menjalani hidup bersama Gio seakan membawa semerbak kebahagiaan untuk Gena. Namun, setelah satu tahun lebih menikah...
