Gionino Aksario
Aku menoleh kala ada suara Bapak dan tepukan pada bahuku.
"Pak, sudah makan?". Tanyaku.
Bapak hanya mengangguk sambil tersenyum.
Orang Tuaku sudah kembali kerumah sore tadi, siangnya semua beristirahat dirumahku. Dan kini tinggal keluarga Gena yang berada dirumah.
Kakek dan Nenek berada dalam kamar beristirahat sedangkan Ibu didalam menonton TV.
Gena? Ia sekarang menjadi objek pengelihatanku dan Bapak. Ia sedang-entah mengobrolkan apa dengan bocil bocil anak tetangga di bangku semen yang berada dijalan masuk menuju halaman rumah.
"Gena dari dulu gitu Gi, lawan bicaranya selalu nyaman kalau ngobrol sama dia".
Aku menoleh saat Bapak membuka suara.
"Gak pernah gagal soal pertemanan".
"Tiap hari ada saja yang main kerumah, dari jaman TK sampai SMA. Kalau kuliah kadang kadang pulang bawa temen, diajak liburan".
Aku tau itu, melihat pertemanan Gena yang memang banyak. Dia ramah.
"Kadang khawatir melihat pertemanannya yang cukup luas, khawatir salah pergaulan".
"Tapi alhamdulillah teman temannya baik baik semua".
Bapak menghela nafasnya
"Kadang pikiran kemana mana, kalau ditinggal jauh. Sampai dulu waktu SMP Gena pernah marah marah gara gara waktu ada kemah ekskul Bapak sama Ibuk sering telepon nanyain kabar. Katanya malu di ceng ceng in sama temen temennya, dikatain anak mama. Padahal yang dirumah kepikiran, disana baik baik aja atau enggak, udah makan apa belum".
Bapak sedikit terkekeh sambil mengamati Gena yang tertawa dengan anak anak kecil itu. Mata Bapak seperti menerawang.
"Dia suka anak kecil, dari dulu sering ngeboyong anak tetangga. Padahal cuma disogok ciki sama disetelin tom & jerry. Katanya biar ada temen, karena dia gak punya saudara".
Aku terkekeh, kasihan sekali dia.
Aku menoleh saat bapak menghela nafas lagi.
"Menginjak Remaja, kekhawatiran Bapak meningkat Gi. Mulai ada anak cowok main kerumah, Gena yang mulai kenal Cinta Cinta an, Sering main keluar. Bapak gak nyalahin itu, tapi yang namanya orang tua Gi, pasti tetap ada sisi khawatirnya".
Aku mengangguk paham. Jika anakku nanti beranjak dewasa, aku juga akan begitu. Entah itu pada anak laki laki atau perempuan.
"Berjalannya waktu, bapak sama ibuk makin harus melapangkan dada untuk melepas Gena jauh dari rumah untuk melanjutkan sekolahnya".
"Kalau boleh jujur sebenarnya Bapak itu berat ngelepasnya, dia disini sendiri gak ada yang ngawasin. Bapak cuma sering titip pesan sama dua temannya yang bapak percaya, Reyhan sama Sasa untuk lapor kebapak Gena ada masalah apa enggak. Karena Gena jarang curhat atau cerita sama Bapak dan Ibuk masalah pribadinya. Gena tipe orang yang sulit terbuka kadang kadang, lebih memendam sendiri atau paling mentok sumpeknya cerita ke Reyhan sama Sasa itu".
Satu lagi yang ku tau tentang Gena.
Aku mengangguk.
"Kamu inget waktu Bapak marah marah didepan kos an Gena karena dia pulang larut terlebih lagi sama laki laki, yang ternyata itu kamu Dosennya".
Aku mengangguk lagi.
"Sebenarnya disitu kekhawatiran Bapak makin menjadi jadi. Bapak makin khawatir jika disini ia terlalu bebas karena gak ada Bapak sama Ibuk yang ngawasin. Bapak gak berani waktu itu bilang sama ibuknya Gena, takutnya malah Gena dimarahin dan dipindahin ke rumahnya Mbak sepupunya".
KAMU SEDANG MEMBACA
Hot Relationship "After Marriage"
Teen FictionFOLLOW GUE DULU WOIIII!!!! * * * DISARANKAN UNTUK MEMBACA "HOT RELATIONSHIP" YANG PERTAMA DULU YA GUYS, SUPAYA VIBES NYA DAPET❤️ *** Menjalani hidup bersama Gio seakan membawa semerbak kebahagiaan untuk Gena. Namun, setelah satu tahun lebih menikah...
